Rumah Gizi 'Aisyiyah

01 Februari 2018 15:51 WIB | dibaca 254 | oleh: Hajar Nur Setyowati (Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

 

Problem gizi masih membayangi pembangunan kesehatan di Indonesia. Negeri yang kaya dengan sumberdaya alam sebagai asal muasal makanan bergizi. Gizi buruk dan stunting adalah ironi gizi di bumi pertiwi. Isu nutrisi pun bukan hal baru bagi gerakan ‘Aisyiyah sejak organisasi ini berdiri. Namun ‘Aisyiyah perlu mencari inovasi program gizi yang dapat dipraktikkan melalui gerakan pemberdayaan di masyarakat maupun di berbagai amal usaha ‘Aisyiyah-Muhammadiyah. Salah satu inovasi yang dapat diinisiasi oleh ‘Aisyiyah berupa RUMAH GIZI.

Apa itu RUMAH GIZI?

Program pemenuhan dan pemulihan masalah gizi berbasis pemberdayaan masyarakat dan kemitraan dengan penyedia layanan kesehatan.

Apa saja cakupan RUMAH GIZI?

Kegiatan di RUMAH GIZI meliputi sosialisasi gizi, konseling gizi dan menyusui, praktik pengolahan makanan bergizi, layanan makanan tambahan bergizi, kebun gizi

1.        Sosialisasi gizi

Edukasi gizi bagi remaja putri, ibu hamil, ibu dengan balita, ibu dengan anak stunting, gizi buruk, dan gizi kurang. Selain kepada ibu, sosialisasi gizi dapat dilakukan pada nenek dari bayi dan ayah, karena dukungan nyata dari ayah sangat diperlukan agar keluarga terpenuhi gizinya. Metode edukasi dilakukan secara kreatif agar menarik,seperti tanya jawab, ceramah, diskusi, permainan, bermain peran, dll.

2.      Konseling menyusui.

Rumah Gizi juga melakukan konseling gizi maupun konseling menyusui. Konselor tidak hanya berasal dari tenaga kesehatan tapi juga dapat diperankan oleh kader maupun masyarakat. Proses konseling dapat dilakukan di tempat berlangsungnya Rumah Gizi maupun berkunjung langsung pada pihak yang memerlukan konseling. Untuk mendukung kegiatan konseling ASI, dapat terlebih dahulu dilakukan pelatihan konselor ASI bekerjasama dengan berbagai pihak yang dapat berkompetensi melakukan pelatihan. Pelaksanaan pelatihan konselor ASI dapat menggunakan alokasi dana desa dengan mengajukan terlebih dahulu sebagai program dalam Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDes) yang disusun setiap tahun.

3.      Praktik pengolahan makanan bergizi

Salah satu kebutuhan untuk menyediakan makanan bergizi adalah pengetahuan dan ketrampilan mengolah makanan agar memenuhi standar gizi. Praktek mengolah makanan ini sebaiknya menggunakan bahan-bahan makanan lokal maupun berasal dari kebun gizi. Dalam kegiatan tersebut, peserta juga belajar tentang kandungan gizi dari bahan-bahan lokal yang tersedia.

4.      Pemberian makanan tambahan (PMT)

Untuk meningkatkan gizi keluarga dapat dilakukan dengan cara pemberian  makanan tambahan secara berkala. Pengadaan makanan tambahan ini bisa dilakukan dari iuran maupun infaq, menghimpun dana dari pihak lain yang peduli terhadap program peningkatan gizi keluarga, dan alokasi dana desa. 

5.      Pengelolaan Kebun Gizi

Untuk mendapatkan bahan makanan yang bergizi tidak harus membeli. Warga dapat memanfaatkan lahan yang ada untuk dikelola secara organik (non kimia) menjadi kebun gizi keluarga atau kelompok. Selain itu, dapat pula menggunakan lahan yang ada untuk memelihara ayam dan ikan sebagai sumber protein hewani.

6.   Sanitasi dan PHBS

Pemenuhan gizi juga berhubungan dengan tersedianya sanitasi yang baik, seperti  tersedia cukup air bersih,pengelolaan sampah rumah tangga,dan ketersediaan jamban keluarga yang sehatmelalui program Perilaku  Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).  (HNS).