Revitalisasi Karakter Bangsa

10 September 2016 16:30 WIB | dibaca 1022 | oleh: Siti Noordjannah Djohantini (Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

 

Rumusan revitalisasi karakter bangsa memang sudah dibukukan Muhammadiyah. Satu buku Revitalisasi dan Karakter Bangsa, yaitu hasil Tanwir Muhammadiyah di Lampung. Berikutnya dilanjutkan dan lahir buku Indonesia Berkemajuan hasil Muktamar Yogyakarta. Karena itu, penting menengok kembali putusan-putusan konsep Muhammadiyah terkait budaya tersebut.

Kaitannya dengan peran 'Aisyiyah dalam membangun karakter dan budaya bangsa adalah bagaimana 'Aisyiyah  ikut sumbangsih dalam mendirikan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak. Prof Muhadjir beberapa waktu lalu sempat menjelaskan bahawa salah satu kekuatan terbesar persyarikatan Muhammadiyah adalah pendidikan, maka dari itu dengan adanya PAUD dan TK 'Aisyiyah lebih berperan dalam membangun karakter bangsa di banding lembaga pendidikan lainnya.

Salah satu karakter yang ingin dibangun Muhammadiyah adalah karakter Indonesia berkemajuan yang merupakan aktualisasi dari Islam berkemajuan. Islam berkemajuan menjadi pandangan, paradigma Muhammadiyah dalam langkah geraknya. Maka tidak perlu pandangan tersebut dibenturkan dengan pandangan lain yang berbeda. Cukup nilai dan karakter yang bersumber dari Islam itu benar-benar bisa diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai itu beragam bentuknya dan keadilan, kebaikan, kemakmuran, dan kemaslahatan. Namun lebih prioritas dari itu semua adalah karakter keutamaan hidup secara dinamis. Yaitu berusaha menampilkan spiritualitas yang dimiliki, yang diyakini menjadi spiritualitas yang dinamis tidak ajeg. Dari keshalihan individu menjadi keshalihan sosial. Artinya tidak sebatas menjadi orang baik yang taat pada nilai spiritual itu, namun lebih dari itu perbuatan baik itu bermanfaat bagi orang lain. itulah yang menjadi ideologi Muhammadiyah selama ini.

Islam juga yang menggerakkan misi anti peperangan, anti terorisme, dan anti kekerasan dalam bentuk apapun. Entah itu dalam keluarga, kehidupan sosial bermasyarakat, antar agama dalam bentuk penistaan. Pada saat bersamaan nilai itu menjunjung tinggi kemuliaan laki-laki dan perempuan. Karakter ini penting agar kedepan tidak ada lagi kasus diskriminasi perempuan dalam kehidupan bernegara. Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan media yang menayangkan berbagai kasus kejahatan yang korbannya adalah perempuan. Kasus ini bagai gunung es, yang mencuat ke permukaan adalah sebagian kecil saja. Padahal Al- Qur'an sendiri memberikan tempat yang sama antara perempuan dan laki-laki. Semua manusia di hadapan Allah sama, yang membedakan hanya ketakwaannya.

Dengan semangat mengangkat derajat waninta sama dengan derajat laki-laki inilah pula yang menjadi salah satu alasan dinobatkannya KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah sebagai pahlawan nasional.

agar lebih menguatkan dan memudahkan implementasi nilai-nilai itu, lebih utama kita sebagai orang Indonesia merubah sifat-sifat buruk seperti suka mencela dan korupsi yang dampaknya luar biasa terhadap maju tidaknya bangsa. Bahkan siat-sifat  dan karakter seperti itu cenderung melemahkan diri sendiri maupun melemahkan diri sendiri maupun melemahkan secara kolektif dalam kehidupan berbangsa. Bukan berarti tidak mencela dan tidak mencemooh itu artinya pasif, sikap kritis tetap harus dipertahankan, yang dihilangkan adalah kebiasaan mengolok-olok orang lain. 

 

Disadur dari Suara Muhammadiyah Edisi Agustus Minggu Pertama