Relasi Setara Sarana Terbangunnya Institusi Keluarga Kokoh

11 Mei 2016 11:47 WIB | dibaca 1432 | oleh: SKw (Penulis Rubrik KS)

(Telah diterbitkan di Majalah Suara 'Aisyiyah Edisi Agustus, 2015, Penulis : SKw)

 

Keluarga Sakinah diartikan sebagai bangunan keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan dicatatkan diKantor Urusan Agama (KUA) yang dilandasi rasa saling menyayangi, menghargai dengan penuh rasa tanggungjawab dunia dan akhirat dandiridlai Allah Swt. Untuk mendukung tercapainya keberhasilan keluarga sakinah ada lima asas sebagai landasannya. Yaitu 1) karamah insaniyah, 2) pola hubungan yang setara, 3) keadilan, 4) mawaddah wa rahmah, 5) pemenuhan hubungan hidup sejahtera dunia akhirat. Kelima asas tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain, dan apabila dapat terpenuhi maka akan dapat menghadirkan suasana hubungan yang harmonis sehingga rasa damai, tenteram, dan bahagia akan dimiliki oleh anggota keluarga didalamnya, dan akan terbangunlah sebuah institusi keluarga yang kokoh.

Pola Relasi Setara

Pola Relasi Setara adalah suatu pola hubungan antar manusia yang didasarkan pada penilaian dan sikap bahwa pihak lain sederajat dan setara dengan dirinya sebagai manusia terlepas dari adanya perbedaan jenis kelamin, status, dan usia yang dimilikinya. Sikap dari perasaan setara dengan pihak lain ini akan tercermin dalam sikap dan perilakunya, baik dalam gerak tubuh (gesture) maupun cara dan nada bicaranya.

Pola hubungan yang setara menghasilkan perasaan saling menhormati dan menghargai antar pihak yang berhungan, baik itu antar orang yang lebih tua dengan orang yang lebih muda, dan juga dengan anak-anak, antar pimpinan dan karyawan, antar yang kaya dan yang kurang mampu.Pola hubungan setara dapat menghindarkan terjadinya sikap diskriminatif dan subordinatif antar satu pihak dengan pihak lain sehingga hubungan antara manusia menjadi nyaman, setiap individu merasa aman berada dimanapun sehingga dapat hidup secara tenteram dan nyaman.

Namun ternyata tidak mudah membangun pola relasi setara dalam masyarakat. Masih banyak individu, bahkan kelompok masyarakat yang bersikap diskrimanatif dan subordinatif terhadap pihak lain. Mereka beranggapan bahwa pihak lain itu lebih lemah sehingga dapat dieksploitasi dan dijadikan obyek yang memberi keuntungan bagi dirinya atau kelompoknya. Bahkan sikap diskriminatif dan subordinatif itu juga didasarkan pada perbedaan jens kelamin, yaitu pandangan bahwa perempuan itu lemah sehingga dapat dijadikan obyek dankomoditas. Pandangan seperti itu disebut sebagai pandangan yang bias gender, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa salah satu jenis kelamin, biasanya perempuan, bernilai kurang atau lebih rendah dibanding dengan lawan jenisnya.

Pola Relasi yang Setara dalam Keluarga

Pola relasi yang setara dalam keluargaadalah suatu pola hubungan yang didasarkan pada penilaian, perasaan, dan sikap bahwa setiap anggota keluarga mempunyai nilai yang sederajat, dan mempunyai hak untuk memperoleh sikap, penghormatan, dan kesempatan yang sama antar satu dengan yang lainnya. Yaitu antara suami isteri, antara orangtua dengan anak-anaknya, antara keluarga inti (suami, isteri, anak) dengan kerabat dekat yang tinggal satu atap, dan juga antara anggota keluarga dengan pekerja rumah tangga.

Relasi setara merupakan modal untuk memperoleh hubungan yang harmonis antar semua anggota keluarga sehingga dapat menghadirkan suasana yang nyaman dan tenteram yang ditandai dengan adanya suasana banyak tegur sapa, senyum, dan canda, walaupun sedang berada dalam suasana melaksanakan tugas masing-masing. Pola relasi setara menumbuhkan sikap dan perilaku saling memahami, menghormati, bertanggungjawab, antar anggota keluarga, bahkan juga saling melayani sehingga terhindar dari perasaan yang satu lebih kuasa dari yang lain.

Adanya perbedaan antar individu dalam keluarga tidak semestinya menimbulkan relasi yang tidak setara karena pada dasarnya institusi keluarga dibangun dari bersatunya dua unsur yang berbeda secara jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri. Kemudian dalam keluarga juga ditemukan adanya perbedaan usia, status, serta sifat dari masing-masing anggota keluarga. Justru adanya perbedaan itu harus menjadi dasar untuk membentuk kesadaran dalam pemenuhan hak, pelaksanaan kewajiban, serta pemberian kesempatan bagi masing-masing anggota keluarga secara adil, sehingga mereka merasa aman dan nyaman berada dalam keluarganya.

Demikian juga adanya perbedaan secara jenis kelamin, misalnya antara suami dan isteri atau antara laki-laki dan anak perempuan, jangan sampai mengakibatkan terjadinya relasi yang tidak setara disebabkan karena sikap bias gender yang termanifestasikan dalam sikap diskriminatif dan subordinatif terhadap perempuan. Misalnya munculnya penilaian bahwa perempuan itu lemah, suami yang berkuasa dalam rumah tangga sehingga selalu diistimewakan dan selalu dilayani, adanya beban ganda bagi perempuan yaitu walaupun misalnya isteri juga pencari nafkah tetapi tugas domestik masih dibebankan hanya pada dirinya, serta lebih mementingkan pendidikan bagi anak laki-laki saja.

Perbedaan secara usia juga jangan sampai menimbulkan sikap diskriminatif dan subordinatif tersebut dapat memicu terjadinya tindak kekerasan dalam rumahtangga (KDRT) baik suami terhadap isteri ataupun orangtua terhadap anak, penelantaran anak, serta penjualan bayi. Adanya pola relasi setara dalam keluarga akan mendorong kehidupan yang harmonis dan menghindarkan terjadinya sikap diskriminatif antar anggota keluarga sehingga keluarga menjadi kuat, kokoh, dan solid.

Membangun hubungan yang harmonis dalam sebuah keluarga memanglah tidak mudah. Sehingga kasus pereceraian setiap tahunnya semakin meningkat dan salah satu faktor penyebabnya dikarenakan hubungan yang tidak harmonis antara suami dan isteri. Data kasus perceraian di Kabupaten Bantul Yogyakarta, dari tahun 2009 sampai 2013 kasus perceraian yang terjadi setiap tahunnya rata-rata meningkat 4,75% (sumber data dari kantor Peradilan Agama Kabupaten Bantul). Oleh karena itu untuk membangun relasi yang setara dalam keluarga memerlukan adanya kesadaran dan usaha yang harus dilakukan oleh penanggungjawab keluarga yaitu suami isteri. Bahkan sebelum pasangan suami isteri menikah semestinya sudah memiliki kesadaran, sikap dan perilaku kesetaraan antar manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Pada prinsipnya dalam konsep tersebut disebutkan bahwa pola relasi kesetaraan harus dibangun dalam keluarga terlepas dari status dan perannya harus disikapi sama dan sederajat. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah Swt dalam al-Qur’an surat al-Hujurat (49) ayat 13 bahwa dihadapan Allah membedakan derajat manusia satu dengan yang lain adalah pada tingkat takwanya.

Asas relasi kesetaraan adalah asas kedua dari 5 asas Keluarga Sakinah, yang dalam implementasinya akan terkait dengan tiga asas yang lain, yaitu asas no 1,3 dan 4. Asas pertama, yaitu asas karamah insaniyah adalah asas yang menyatakan bahwa manusia itu makhluk yang telah dimuliakan oleh Allah Swt dan diberi kelebihan dibanding dengan makhluk ciptaan Allah yang lain [al-Qur’an surat al-Isra’ (17) : 70].

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari asalnya setiap manusia itu makhluk mulia, semua manusia sama, oleh karena itu harus digunakan sebagai dasar dalam proses pembangunan relasi yang setara dalam keluarga, sehingga nilai dan derajat manusia dan mudah juga untuk membangun pola relasi kesetaraan.

Asas pola kesetaraan juga terkait dengan asas keadilan. Sikap adil merupakan buah dari dimilikinya perasaan dan sikap setara dengan sesama manusia. Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil juga berarti memenuhi hak sesuai dengan kebutuhannya, baik pada diri sendiri maupun kepada oranglain. Adil sebagai asas berkeluarga dapat dimaknai memberikan hak-hak setiap anggota keluarga sesuai dengan fungsi perannya. Apabila seseorang merasa dirinya setara dengan yang lain maka dia ridla pada oranglain uantuk memperoleh hak mereka walau hak tersebut berada pada penguasaannya. Dalam al-Qur’an surat al-Maidah (5) : 8 Allah Swt berfirman bahwa berbuat adil itu lebih dekat dengan takwa.

Asas lainnya yang menyangkut adalah mawwadah wa rahmah, rasa cinta dan kasih sayang. Perasaan ini merupakan modal untuk membangun keluarga yang saling menyayangi sehingga timbul rasa saling terikat antara suami isteri, sebagaimana firman Allah Swt dalam al-Qur’an surat ar-Ruum (30) ayat 21.