Refleksi Atas Bencana Alam

28 Desember 2018 14:36 WIB | dibaca 133 | oleh: Tri Hastuti Nur R (Sekretaris Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

Berbagai peristiwa bencana yang terjadi akhir-akhir ini, yaitu gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi serta gempa bumi di NTB dan Sumbawa memberikan pemahaman pada kita bahwa bencana dapat terjadi kapan saja. Data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menunjukkan bahwa selama tahun 2018 terjadi 1.999 bencana di Indonesia; dan akan terus meningkat sampai akhir tahun. Sampai dengan Oktober 2018 ini, bencana alam yang terjadi antara lain puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan sebanyak 353, longsor 319, erupsi gunung api sebanyak 55 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 33 kejadian, gempa bumi yang merusak 17 kejadian dan tsunami 1 kejadian. Bencana tersebut belum termasuk bencana dikarenakan peristiwa alam lain seperti lumpur Lapindo, jebolnya tanggul, kebakaran maupun konflik sosial. Undang-Undang nomor 14 tahun 2007 menyebutkan bahwa yang disebut bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Penjelasan ini menegaskan bahwa bencana tidak semata-mata disebabkan oleh fenomena alam saja, namun juga dikarenakan ulah manusia dalam mengelola bumi dan seisinya sehingga menyebabkan timbulnya bencana.

Fakta lain yang sangat penting dan harus kita sadari bersama terkait dengan bencana bahwa Indonesia secara geografis merupakan daerah rawan bencana. Indonesia terletak dalam posisi pertemuan 3 lempeng bumi yaitu Pasifik, Indo-Australia dan Eurasia sehingga apabila lempengan tersebut bergeser akan menyebabkan terjadinya gempa bumi dan tanah longsor. Selain itu, Indonesia berada dalam posisi daerah sabuk api (ring of fire) yang berdampak pada terjadinya bencana yaitu letusan gunung berapi di beberapa daerah Indonesia seperti letusan gunung Sinabung, letusan gunung Galunggung, letusan gunung Merapi, letusan gunung Agung, letusan gunung Rinjani maupun letusan gunung Gamalama yang terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Potensi Indonesia yang rawan bencana ini mengharuskan semua komponen bangsa untuk memahami fenomena ini dan mempersiapkan dengan baik ketika terjadi bencana; baik dengan mencegahnya maupun mengurangi resiko bencana. Mengapa demikian? Persiapan yang baik untuk menghadapi resiko bencana akan mengurangi dampak kerugian akibat bencana baik korban meninggal, korban luka parah, kerugian rusaknya sarana prasarana maupun kerugian ekonomi dikarenakan lumpuhnya kehidupan perekonomian maupun psikis mental dikarenakan trauma atas bencana yang dialaminya.

Lalu bagaimana menghadapi bencana alam yang terjadi? Langkah yang penting mengurangi resiko bencana adalah memiliki keterampilan bagaimana jika terjadi bencana. Pengenalan terjadinya bencana dan bagaimana menghadapi bencana sebaiknya sudah dikenalkan sejak anak-anak baik melalui sekolah maupun keluarga. Melalui sekolah anak-anak belajar bagaimana mitigasi bencana. Harapannya jika terjadi bencana maka sudah ada persiapan baik fisik maupun psikis. Fasilitas-fasilitas umum dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti helm, senter dan juga petunjuk arah evakuasi. Selama ini yang terjadi adalah kita secara individu maupun aparatur pemerintah seringkali tergopoh-gopoh dan tidak siap menghadapi bencana meskipun sudah memahami kondisi geografis dan geologi Indonesia yang rawan bencana. Keyakinan ketika terjadi bencana bahwa musibah bencana dapat menimpa kapan saja dan di mana saja, maka kekuatan psikis mental spiritual menjadi sangat penting. Ketangguhan hati dan psikis untuk menerima bencana yang telah terjadi menjadi salah satu modal penting untuk bangkit kembali melanjutkan kehidupan dunia yang lebih baik. Allah SWT melarang orang-orang yang beriman pasrah dan berputus asa ketika menghadapi bencana. Dalam kondisi bencana, manusia harus tetap berpikir positif atas bencana yang menimpanya.

Dalam kondisi menghadapi bencana, maka jiwa saling tolong menolong (ta'awwun) sangat dianjurkan dalam Islam untuk meringankan beban saudaranya yang sedang ditimpa bencana alam. Dalam mengelola berbagai macam bantuan untuk menolong korban bencana alam, sangat dianjurkan untuk memperhatikan kelompok-kelompok rentan dan kelompok yang memiliki kebutuhan khusus; misalnya kelompok lansia, kelompok perempuan yang terkadang diabaikan kebutuhannya seperti pembalut, celana dalam, sarana ibadah (mukena); dan kelompok bayi dan anak-anak dengan kebutuhan khususnya yaitu makanan dan minuman yang sesuai dengan usianya serta kelompok rentan lain (diffable). Terakhir, salah satu hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya bencana adalah tidak melakukan tindakan-tindakan yang merusak bumi; dan berperilaku menjaga bumi yang hanya 1 ini. Mengapa ini penting? Karena salah satu sebab terjadinya bencana alam adalah dikarenakan ulah manusia.