Program Lenting Keluarga dan Komunitas: Perkuat Ikhtiar 'Aisyiyah di Masa Pandemi Covid-19

31 Agustus 2020 14:55 WIB | dibaca 59 | oleh: Siti Noordjannah (Ketua Umum PP 'Aisyiyah)

Yogyakarta -- Alhamdulillah, pada masa pandemi ini ‘Aisyiyah masih bisa berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama dan ini telah menjadi kultur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam menghadapi berbagai persoalan. Oleh karena itu, bersyukur kepada Allah swt yang pantas dan harus selalu kita ucapkan dan diikuti dengan langkah-langkah perbuatan oleh kita semua.

…la in syakartum adziidannakum wala in kafartum inna ‘adzzaabi lasyadiid(Q.S. Ibrahim (14): 7)

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Kalau kita bertambah syukur maka nikmat Allah akan ditambah tapi kalau kita lupa bersyukur maka azab atau siksa yang pedih akan kita dapatkan. Bukan menakut-nakuti tetapi ini peluang yang diberikan Allah kepada manusia untuk senantiasa berbuat lebih baik.

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyampaikan terimakasih karena dapat bertatap muka melalui diskusi antara PP ‘Aisyiyah dengan The Asia Foundation yang diwakili Sandra Hamid sebagai Country Representative of The Asia Foundation Indonesia yang luar biasa, Hana Satriyo sebagai Deputy Country Representative of The Asia Foundation Indonesia, serta Atikah M. Zaki selaku Koordinator bidang LLHPB di ‘Aisyiyah.

Hening Parlan selaku Ketua Advisor Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah dan tim, terimakasih sudah mengelola program ini dan mengadakan acara ini, yang telah dimulai dan akan diselesaikan menurut program. Saya yakin program di ‘Aisyiyah tidak akan pernah berhenti, program yang telah dimulai tidak akan berhenti kecuali masyarakat menolak. Tetapi tidak pernah ada pengalaman kita, apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah ditolak oleh masyarakat. Artinya, begitu kita meluncurkan program itu melengkapi satu dengan yang lain dan biasanya itu tidak pernah berhenti.

Akuntabilitas dan keloyalan kader ‘Aisyiyah dalam menjalankan sebuah program atau kegiatan, maknanya luar biasa. Menjalin silaturrahim melalui program keluarga dan komunitas lenting; sebuah ketahanan, kekokohan, di dalam keluarga dan komunitas di dalam menghadapi pandemi. Ini satu program yang sangat bermanfaat bagi ‘Aisyiyah.

Dan dalam program ini tidak hanya ada ibu-ibu, tetapi juga ada anak muda, relawan, yang menjadi bagian penting dari proses kaderisasi ‘Aisyiyah. Dalam semua program harus diikutkan anak muda.

Program ini juga diposisikan sebagai sebuah program yang ingin menambah kontribusi Muhammadiyah ‘Aisyiyah kepada yang terdampak pandemi Covid-19 selama 6 bulan ini.

Di Muhammadiyah sendiri, selain ada protokol kesehatan juga diikuti dengan protokol ibadah, keagamaan, dan protokol lainnya di dalam kehidupan berorganisasi dan itu mengikat. Oleh karena itu, program yang menambah kontribusi di masa pandemi ini, sesuatu yang dibuat tetap harus sesuai protokol kesehatan.

Untuk merefresh makna program kepada para anggota dan peserta webinar LLHPB bersama TAF, pertama dalam konteks pandemi, tanggal 2 Maret Presiden Jokowi menyatakan sudah ada yg terkena Covid yang kebetulan hari itu PP ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah mendapat kesempatan bertemu Presiden untuk mengundang beliau hadir di Muktamar pada bulan Juli.

Saat keluar ruangan, kami mendapat pertanyaan dari wartawan, Apa yang akan dilakukan Muhammadiyah?

Ketua Umum Muhammadiyah menyampaikan minimal 15 RS yang siap untuk menangani. Pulang ke Yogyakarta membentuk MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) yang masih terus berjalan.

Muhammadiyah ‘Aisyiyah tidak pernah lari dari persoalan kebangsaan, keumatan Indonesia yang kita cintai. Karena Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sendiri menjadi bagian dari yang mendirikan negara ini. Wara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus yakin bahwa kita ini pemilik negeri. Kita harus bertanggung jawab, sehingga kalau ada persoalan di negeri ini, kita tidak bisa lempar batu sembunyi tangan. Itulah Muhammadiyah, apa yang dilakukan terhadap pandemi ini, langsung berbuat sesuatu.

Kedua, dari situ menunjukkan bahwa nanti program lenting ini adalah program untuk memperkuat apa yang selama ini sudah kita lakukan.

Sampai saat ini MCCC terbentuk hingga di tingkat bawah, dan saya meyakini ibu-ibu yang hadir ini menjadi bagian dari MCCC di tingkat cabang atau daerah. Sekarang ini sudah ada 90 RS dan klinik yang sudah tidak terhitung. Kita sangat mencintai negara ini.

Tetapi saat ini kami juga prihatin, karena kami mendapat kabar bahwa tenaga kesehatan (tenakes) kita banyak yang terkena dampak Covid-19, bahkan dokter spesialis meninggal, dan lainnya. Maka itu, di Pleno kemarin kami menyampaikan bahwa kita harus semakin menguatkan protokol kesehatan dan membantu memberikan masukan kepada pemerintah.

Saat ini orang-orang sudah banyak yang merasa bebas dan tidak apa-apa, padahal dokter dan tenakes sedang berjuang. Data tidak boleh dibuka, tapi kami tahu berapa ratus tenakes kita saat ini masih mengisolasi diri.

Saya mengatakan bahwa pandemi ini belum selesai dan apa yang bisa dilakukan kita sebagai warga bangsa adalah melindungi jiwa kita, saudara kita dengan menjaga jarak, memakai masker, cuci tangan, dan patuh pada protokol kesehatan dan bagi warga Muhammadiyah patuh pada protokol ibadah. Karena dampaknya luar biasa bagi apa yang tersebar mengenai Covid-19 ini.

Intinya, kita menghadapi persoalan dengan ikhtiar,

Faidza adzamta, fatawakkal ‘Alallah

Itu yang dipegang Muhammadiyah, ikhtiar sebelum berserah diri kepada Allah.

Maka ibu-ibu yang hadir, para relawan, penggerak lenting ini harus menjadi bagian yang terus mensosialisasikan tentang keharusan kita mengikuti protokol kesehatan dan apa yang bisa kita jaga untuk kepentingan menyelesaikan pandemi ini. Ikhtiar dengan dasar agama dan science, ilmu yang harus dipadukan.

Kalau kata bu Sri Mulyani saat memberikan orasi ilmiah di UNISA Yogyakarta, ‘Aisyiyah bagaikan ibu yang melahirkan negeri ini. Seorang ibu yang tidak pernah lepas dari persoalan, begitu juga ibu-ibu ‘Aisyiyah yang tidak akan pernah lepas dari persoalan di masyarakat yang terdampak dari pandemi ini apalagi yang berdampak pada perempuan dan anak. Karena meraka yang saat ini paling mudah terkena dampaknya.

Ada pandangan sosial, budaya dsb yang menempatkan perempuan dan anak itu tidak ada di posisi tengah, tetapi meletakkannya di belakang atau dipojokkan atas nama agama. Tetapi bagi Muhammadiyah, karena keyakinannya dengan Islam berkemajuan, maka tidak mungkin meletakkan perempuan pada posisi pinggir. Seperti dalam Q.S. an-Nahl ayat 97, dimana Allah itu sayang kepada perempuan dan laki-laki dan memberi kesempatan yang sama.

Persis seperti memberikan kesempatan kepada ibu-ibu lenting ini untuk berbuat kebaikan. Barang siapa beramal sholeh dalam keadaan beriman, baik laki-laki maupun perempuan, dijamin akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, menjalankan program seperti ini, program berta’awun, program berbagi yang sudah kita jalani selama kurang lebih lima bulan ini maka dilanjutkan dengan tambahan dan sambungan dengan banyak pihak. Ini semakin menguatkan bagaimana kita harus terus menyelesaikan dan menghadapi pandemi Covid ini. Percayalah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Sayang kepada kita.

Kata Allah, walladzi naa jahadu fiina liyah diyannahum subulana.

Kalau kita berjuang, berjihad yang tidak harus memanggul bedil senjata tetapi jihad kita hifdz nafs dalam rangka pandemi ini menjaga satu jiwa saudara-saudara kita itu jihad. Dan kita juga merasakan pandemi ini tidak mudah secara pribadi dalam konteks sosial, politik, dsb.

Lentingan ini sebagai penguat bagi diri kita, masyarakat kita supaya masyarakat tidak hopeless. Muhammadiyah ‘Aisyiyah tidak boleh berhenti melawan Covid di saat orang lain mungkin sudah merasa lelah dan abai.

Pertama, kita posisikan program lenting ini semakin memperkuat ikhtiar kita di dalam menangani pandemi ini dan menjadi bagian dari kita sebagai organisasi muslim dan juga pendiri negeri untuk berkontribusi.

Saya meyakini program ini bagian dari jihad kita, maka kalau ada kesulitan akan ada banyak cara. Soal programnya, ada sosial, ekonomi, untuk memperkuat.

Kedua, jangan bingung. Ibu-ibu ‘Aisyiyah tidak akan bingung dengan program yang dijalankan karena sudah terbiasa menjalankan program.

Lewat pendidikan, kita juga sedang memikirkan bagaimana recovery amal usaha kita. TK yang lebih dari 20.000, banyak yang tidak bisa membayar spp tetapi tetap harus kita pikirkan. RS yang karena situasi seperti ini tetapi harus tetap kita beri kontribusi.

Mudah-mudahan program ini berjalan dengan baik dan kita diberi kekuatan. Pokoknya kita niatkan hanya untuk kepentingan ibadah. Dan program ini harus diluaskan, karena ini bukan proyek yang selesai begitu saja. Bagi ‘Aisyiyah, ini adalah program berkelanjutan, saling berpegagan dengan yang lain.

Tentu kita juga akan mendorong pemerintah untuk bijak dalam mengambil kebijakan yang sesuai. Karena banyak kebijakan yang terkadang tidak sesuai. Ibu-ibu juga harus bisa kritis jika ada kebijakan yang tidak sesuai, sampaikan dengan cara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah karena kita punya kepribadian.Yogyakarta -- Alhamdulillah, pada masa pandemi ini ‘Aisyiyah masih bisa berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama dan ini telah menjadi kultur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam menghadapi berbagai persoalan. Oleh karena itu, bersyukur kepada Allah swt yang pantas dan harus selalu kita ucapkan dan diikuti dengan langkah-langkah perbuatan oleh kita semua.

Sumber: disampaikakan saat Webinar Silaturrahim dan Diskusi LLHPB 'Aisyiyah dengan The Asia Foundation (30/8)

 

…la in syakartum adziidannakum wala in kafartum inna ‘adzzaabi lasyadiid(Q.S. Ibrahim (14): 7)

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Kalau kita bertambah syukur maka nikmat Allah akan ditambah tapi kalau kita lupa bersyukur maka azab atau siksa yang pedih akan kita dapatkan. Bukan menakut-nakuti tetapi ini peluang yang diberikan Allah kepada manusia untuk senantiasa berbuat lebih baik.

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyampaikan terimakasih karena dapat bertatap muka melalui diskusi antara PP ‘Aisyiyah dengan The Asia Foundation yang diwakili Sandra Hamid sebagai Country Representative of The Asia Foundation Indonesia yang luar biasa, Hana Satriyo sebagai Deputy Country Representative of The Asia Foundation Indonesia, serta Atikah M. Zaki selaku Koordinator bidang LLHPB di ‘Aisyiyah.

Hening Parlan selaku Ketua Advisor Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah dan tim, terimakasih sudah mengelola program ini dan mengadakan acara ini, yang telah dimulai dan akan diselesaikan menurut program. Saya yakin program di ‘Aisyiyah tidak akan pernah berhenti, program yang telah dimulai tidak akan berhenti kecuali masyarakat menolak. Tetapi tidak pernah ada pengalaman kita, apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah ditolak oleh masyarakat. Artinya, begitu kita meluncurkan program itu melengkapi satu dengan yang lain dan biasanya itu tidak pernah berhenti.

Akuntabilitas dan keloyalan kader ‘Aisyiyah dalam menjalankan sebuah program atau kegiatan, maknanya luar biasa. Menjalin silaturrahim melalui program keluarga dan komunitas lenting; sebuah ketahanan, kekokohan, di dalam keluarga dan komunitas di dalam menghadapi pandemi. Ini satu program yang sangat bermanfaat bagi ‘Aisyiyah.

Dan dalam program ini tidak hanya ada ibu-ibu, tetapi juga ada anak muda, relawan, yang menjadi bagian penting dari proses kaderisasi ‘Aisyiyah. Dalam semua program harus diikutkan anak muda.

Program ini juga diposisikan sebagai sebuah program yang ingin menambah kontribusi Muhammadiyah ‘Aisyiyah kepada yang terdampak pandemi Covid-19 selama 6 bulan ini.

Di Muhammadiyah sendiri, selain ada protokol kesehatan juga diikuti dengan protokol ibadah, keagamaan, dan protokol lainnya di dalam kehidupan berorganisasi dan itu mengikat. Oleh karena itu, program yang menambah kontribusi di masa pandemi ini, sesuatu yang dibuat tetap harus sesuai protokol kesehatan.

Untuk merefresh makna program kepada para anggota dan peserta webinar LLHPB bersama TAF, pertama dalam konteks pandemi, tanggal 2 Maret Presiden Jokowi menyatakan sudah ada yg terkena Covid yang kebetulan hari itu PP ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah mendapat kesempatan bertemu Presiden untuk mengundang beliau hadir di Muktamar pada bulan Juli.

Saat keluar ruangan, kami mendapat pertanyaan dari wartawan, Apa yang akan dilakukan Muhammadiyah?

Ketua Umum Muhammadiyah menyampaikan minimal 15 RS yang siap untuk menangani. Pulang ke Yogyakarta membentuk MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) yang masih terus berjalan.

Muhammadiyah ‘Aisyiyah tidak pernah lari dari persoalan kebangsaan, keumatan Indonesia yang kita cintai. Karena Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sendiri menjadi bagian dari yang mendirikan negara ini. Wara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus yakin bahwa kita ini pemilik negeri. Kita harus bertanggung jawab, sehingga kalau ada persoalan di negeri ini, kita tidak bisa lempar batu sembunyi tangan. Itulah Muhammadiyah, apa yang dilakukan terhadap pandemi ini, langsung berbuat sesuatu.

Kedua, dari situ menunjukkan bahwa nanti program lenting ini adalah program untuk memperkuat apa yang selama ini sudah kita lakukan.

Sampai saat ini MCCC terbentuk hingga di tingkat bawah, dan saya meyakini ibu-ibu yang hadir ini menjadi bagian dari MCCC di tingkat cabang atau daerah. Sekarang ini sudah ada 90 RS dan klinik yang sudah tidak terhitung. Kita sangat mencintai negara ini.

Tetapi saat ini kami juga prihatin, karena kami mendapat kabar bahwa tenaga kesehatan (tenakes) kita banyak yang terkena dampak Covid-19, bahkan dokter spesialis meninggal, dan lainnya. Maka itu, di Pleno kemarin kami menyampaikan bahwa kita harus semakin menguatkan protokol kesehatan dan membantu memberikan masukan kepada pemerintah.

Saat ini orang-orang sudah banyak yang merasa bebas dan tidak apa-apa, padahal dokter dan tenakes sedang berjuang. Data tidak boleh dibuka, tapi kami tahu berapa ratus tenakes kita saat ini masih mengisolasi diri.

Saya mengatakan bahwa pandemi ini belum selesai dan apa yang bisa dilakukan kita sebagai warga bangsa adalah melindungi jiwa kita, saudara kita dengan menjaga jarak, memakai masker, cuci tangan, dan patuh pada protokol kesehatan dan bagi warga Muhammadiyah patuh pada protokol ibadah. Karena dampaknya luar biasa bagi apa yang tersebar mengenai Covid-19 ini.

Intinya, kita menghadapi persoalan dengan ikhtiar,

Faidza adzamta, fatawakkal ‘Alallah

Itu yang dipegang Muhammadiyah, ikhtiar sebelum berserah diri kepada Allah.

Maka ibu-ibu yang hadir, para relawan, penggerak lenting ini harus menjadi bagian yang terus mensosialisasikan tentang keharusan kita mengikuti protokol kesehatan dan apa yang bisa kita jaga untuk kepentingan menyelesaikan pandemi ini. Ikhtiar dengan dasar agama dan science, ilmu yang harus dipadukan.

Kalau kata bu Sri Mulyani saat memberikan orasi ilmiah di UNISA Yogyakarta, ‘Aisyiyah bagaikan ibu yang melahirkan negeri ini. Seorang ibu yang tidak pernah lepas dari persoalan, begitu juga ibu-ibu ‘Aisyiyah yang tidak akan pernah lepas dari persoalan di masyarakat yang terdampak dari pandemi ini apalagi yang berdampak pada perempuan dan anak. Karena meraka yang saat ini paling mudah terkena dampaknya.

Ada pandangan sosial, budaya dsb yang menempatkan perempuan dan anak itu tidak ada di posisi tengah, tetapi meletakkannya di belakang atau dipojokkan atas nama agama. Tetapi bagi Muhammadiyah, karena keyakinannya dengan Islam berkemajuan, maka tidak mungkin meletakkan perempuan pada posisi pinggir. Seperti dalam Q.S. an-Nahl ayat 97, dimana Allah itu sayang kepada perempuan dan laki-laki dan memberi kesempatan yang sama.

Persis seperti memberikan kesempatan kepada ibu-ibu lenting ini untuk berbuat kebaikan. Barang siapa beramal sholeh dalam keadaan beriman, baik laki-laki maupun perempuan, dijamin akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, menjalankan program seperti ini, program berta’awun, program berbagi yang sudah kita jalani selama kurang lebih lima bulan ini maka dilanjutkan dengan tambahan dan sambungan dengan banyak pihak. Ini semakin menguatkan bagaimana kita harus terus menyelesaikan dan menghadapi pandemi Covid ini. Percayalah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Sayang kepada kita.

Kata Allah, walladzi naa jahadu fiina liyah diyannahum subulana.

Kalau kita berjuang, berjihad yang tidak harus memanggul bedil senjata tetapi jihad kita hifdz nafs dalam rangka pandemi ini menjaga satu jiwa saudara-saudara kita itu jihad. Dan kita juga merasakan pandemi ini tidak mudah secara pribadi dalam konteks sosial, politik, dsb.

Lentingan ini sebagai penguat bagi diri kita, masyarakat kita supaya masyarakat tidak hopeless. Muhammadiyah ‘Aisyiyah tidak boleh berhenti melawan Covid di saat orang lain mungkin sudah merasa lelah dan abai.

Pertama, kita posisikan program lenting ini semakin memperkuat ikhtiar kita di dalam menangani pandemi ini dan menjadi bagian dari kita sebagai organisasi muslim dan juga pendiri negeri untuk berkontribusi.

Saya meyakini program ini bagian dari jihad kita, maka kalau ada kesulitan akan ada banyak cara. Soal programnya, ada sosial, ekonomi, untuk memperkuat.

Kedua, jangan bingung. Ibu-ibu ‘Aisyiyah tidak akan bingung dengan program yang dijalankan karena sudah terbiasa menjalankan program.

Lewat pendidikan, kita juga sedang memikirkan bagaimana recovery amal usaha kita. TK yang lebih dari 20.000, banyak yang tidak bisa membayar spp tetapi tetap harus kita pikirkan. RS yang karena situasi seperti ini tetapi harus tetap kita beri kontribusi.

Mudah-mudahan program ini berjalan dengan baik dan kita diberi kekuatan. Pokoknya kita niatkan hanya untuk kepentingan ibadah. Dan program ini harus diluaskan, karena ini bukan proyek yang selesai begitu saja. Bagi ‘Aisyiyah, ini adalah program berkelanjutan, saling berpegagan dengan yang lain.

Tentu kita juga akan mendorong pemerintah untuk bijak dalam mengambil kebijakan yang sesuai. Karena banyak kebijakan yang terkadang tidak sesuai. Ibu-ibu juga harus bisa kritis jika ada kebijakan yang tidak sesuai, sampaikan dengan cara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah karena kita punya kepribadian.