Pertambahan Penduduk dan Tekananya terhadap Lingkungan

04 Desember 2017 19:58 WIB | dibaca 66 | oleh: Dr. Abdur Rofi, M.Si (Dosen Departemen Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM)

          Saya ingin mengawali tulisan ini dengan dua kisah dari manca negara sebagai bahan refleksi. Kisah pertama dari india dalam artikel Huffington post mencatat bahwa sejak tahun 1997, sebanyak 300.000 petani india melakukan bunuh diri. Meningkatnya hutang petani dan ketidak mampuan petani untuk membayar hutang akibat gagal panen adalah salah satunya. Petani india terpaksa berhutang karena biaya produksi yang terus meningkat dan luas dan lahan yang semakin terbatas.

      Kasus kedua pada tahun 1994 terjadi konflik sosial kematian 11% pada total penduduknya contoh konteporer bagaimana konflik sosial dan peperangan terjadi karena perebutan sumber daya. Jared Diamon seorang profesor geografi dan ilmu kesehatan lingkungan, dalam bukunya Collapse (2005) mencatat bahwa tekanan populasi adalah salah satu faktor penting di balik genosida-rawandameskipun faktor lainya bisa menjadi pemicunya.

         Ketika tulisan ini di buat jumlah penduduk dunia di perkirakan mencapai 7,524,749,877 jiwa (htp:)//www.worldometers.info/world-popilation/). Menurut catatan dalamsejarah1 milyar pertama penduduk dunia yang mendiami planet ini baru tercapai pada tahun 1820. Saat ini dalam 12-14 tahun penduduk dunia bertambah 1 milyar jumlahnya. Diestimasikan jika kecendrungan ini akan terjadi pada akhir tahun 2100 penduduk bumi akan berjumlah 11 milyar  jiwa. Malthus dan Neo-Malthus melihat kcamata masa depan dengan pesimis. Dalam pandangan Malthus, manusia akan bertambah menurut deret ukur meskipun pandangn malthus ini di banta oleh parah ahli, namun dalam dekade belakangan pandangan Mathus mendapat dukungan meskipun dengan titik tolak yang berbeda.

       Limits Of Growth (1972). Jika pertumbuhan penduduk tidak di kendalikan, tingkat konsumsi terus meningkat, sementara sumber daya semakin terbatas maka pada tahun 2035 kemampuan alam utuk menopang manusia akan semakin menurun. Pandangan Malthus dan Neo-Malthusian yang terlalu pesimis ini mendapat kritik salah satunya adalah Julian simon. Simon (1990) memandang manusia adalah mahluk yang berbeda. Dia memandang evolusi pertukaran sosialdan kreativitas memainkan peran penting kreativitas manusia memungkinkan manusia berbeda dari seluruh dunia hewan.

       Pada tahun 1961, jumlah penduduk manusia masih 60 juta jiwa dalam rentang waktu 56 tahun penduduk indonesia bertambah 200 juta jiwa. Di perkirakan akhir tahun 2016 jumlah penduduk indonesia sudah mencapai 261 juta jiwa. Dengan mengunakan perhitungan kasar selama lima tahun kedepan jumlah penduduk indonesia akan bertambah sekitar 17 juta jiwa dengan kecendrungan penambahan penduduk indonesia bertambah seperti itu di perkirakan di butuhkan 500.000-700.000 tempat tinggal baru untuk penduduk indonesia.

       Dengan pertambahan penduduk seperti itu, sementara luas lahan yang ada relatif tetap berbagai hal mungkin terjadi dengan indonesia misalnya kasus di india atau konflik di Rwanda atau prediksi simon yang optimis dengan masa depan manusia yang masih dapt di andalkan. Namun demikian saya kira pandangan Jared Diamonnd menjadi jalan tengah. Saya ini adlah orang yang optimis dan berhati-hati melihat gawatnya masalh yang di hadapi manusia. Apa yang terjadi saat ini, dalam kasus indonesia merupakan akibat dari berkurangnya perhatian pemerintah terhadap masalah penduduk. Masalah kependudukan termasuk yang di sentralisasikan kepada daerah struktur kelembagaaan BKKBN hanya sampai kepada tingkat provinsi hal ini setidaknya terlihat dari bentuk kelembagaan yang mengenai KB di tingkat kabupaten yang beragam di antaranya ada yang menjadi lembaga yang berdiri sendiri atau menjadi sub dari dinas/badan lain. Melihat apa yang terjadi selama 15 tahun terahir, mendesentralisasi kebijakan kependudukan tidak akan cukup terrutama jika melihat dampak yang di timbulkan dari ledakan penduduk tidak lagi bersifat lokal.