Pernikahan Usia Anak dalam Angka dan Fakta

04 September 2018 14:44 WIB | dibaca 69 | oleh: Fikry (Jurnalis Suara 'Aisyiyah)

Penghujung tahun 2017 Indonesia sedikit dihebohkan oleh pernikahan sepasang kekasih yang masih duduk di kelas X, Sulawesi Barat. Pelaminan keduanya membuka tabir isu pernikahan usia yang sarat fakta dan angka yang mengelus dada. Pada tahun 2014, Indonesia turut serta mendukung rekomendasi Sekretaris Jenderal PP Ban Ki-Moon untuk menghapus pernikahan usia anak dalam target khusus Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selain itu, 100 lebih komitmen serupa dideklarasikan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Anak Perempuan yang digagas oleh UNICEF dan Pemerintah Inggris. Pada tahun yang sama, Uni Afrika menyusul dengan meluncurkan kampanye menghapus pernikahan usia anak di Benua Afrika.

Riset berjudul Kemajuan yang Tertunda: Analisis Data Perkawinan Anak di Indonesia menunjukkan persentase pernikahan usia anak kurang dari 18 tahun di antara perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun sebanyak 25%. Angka tersebut berdasarkan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2012. Sedangkan menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) di tahun yang sama menunjukkan angka 17% perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun. Data SDKI turun 5% dari tahun 2007, sehingga Indonesia menjadi salah satu contoh dari kemajuan global menuju penghapusan praktik pernikahan usia anak.

Meskipun menurun, Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Selain itu, angka anak perempuan menikah kurang dari usia 18 tahun masih sebanyak 340.000 anak.

“Laporan ini adalah upaya mendorong reformasi kebijakan dan investasi program oleh para pengambil keputusan. Tujuannya, dapat menginformasikan tindakan apa yang bisa diambil untuk mengurangi pernikahan usia anak di Indonesia” tulis laporan kersama riset antara Pemerintah Indonesia dan UNICEF tersebut.

Penyebab Terjadi Pernikahan Usia Anak

Berdasarkan pada penelitian Djamilah dan Reni Kartikawati berjudul Dampak Perkawinan Anak di Indonesia, yang dilakukan di delapan daerah yakni DKI Jakarta, Semarang, Banyuwangi, Lampung, Kabupaten Sukabumi, NTB, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara menyebutkan penyebab pernikahan usia anak di Indonesia dibagi dalam 3 faktor besar, antara lain pendidikan, kemiskinan, serta tradisi: adat dan pemahaman keagamaan. Perkawinan yang dimaksud juga berdampak pada 4 aspek, yaitu ekonomi, sosial, kesehatan (reproduksi dan seksual), dan psikologis.

Dari segi faktor pendidikan, banyak kasus pernikahan usia anak disebabkan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan rendahnya pengetahuan dan pemahaman berumah tangga dan persoalan kesehatan reproduksi.

Dari faktor kemiskinan, tidak adanya biaya untuk menyekolahkan anak terutama anak perempuan menyebabkan anak yang menikah dini mengalami putus sekolah. Kasus lainnya, sebagian besar daerah ada yang menikahkan anak perempuannya untuk membayar atau menebus hutang.

Dari faktor tradisi terbagi menjadi faktor adat dan faktor pemahaman agama. Dalam pandangan adat, pemberian pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dianggap tabu, sehingga anak akan cenderug mencari tahu sendiri dari media lain seperti internet bahkan mencoba-coba sendiri. Selain itu, ada anggapan popular bahwa paham agama membenarkan pernikahan usia anak untuk menghindari zina.

Menurut Sekretaris PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti, pemahaman sebagian orang yang menjadikan pernikahan ‘Aisyiyah dengan Nabi Muhammad SAW sebagai dasar untuk memaklumi pernikahan sangat disayangkan. Dalam konteks perkawinan, anak adalah orang yang organ reproduksinya belum siap melakukan aktivitas seksual, juga mengandung dan melahirkan bagi anak perempuan.”seharusnya sosialisasi dan pendidikan kesehatan reproduksi harus diangkat dibandingkan menikahkan anak untuk terhidar dari zina”, tutur Tri Hastuti.

Dampak Pernikahan Usia Anak

Pernikahan usia anak berdasarkan penelitian tersebut berdampak pada empat aspek yaitu ekonomi, sosial, kesehatan (reproduksi dan seksual), dan psikologis.

Dari aspek ekonomi, pernikahan usia anak selalu melahirkan siklus kemiskinan. Anak yang menikah kurang dari 18 tahun seringkali tidak memiliki pekerjaan layak. Pada akhirnya orang tua anak tetap menanggung hidup pasangan tersebut. Hal tersebut bahkan terjadi turun temurun dan membentuk apa yang disebut sebagai kemiskinan struktural.

Selain itu, kondisi emosi anak atau remaja yang belum stabil kerap memantik pertengkaran sampai mengakibatkan perceraian dan Kekerasan dalam Rumah tangga (KDRT). KDRT biasanya terjadinya pada pasangan yang memiliki hubungan yang tidak seimbang dengan perempuan sebagai korban. Di Banyuwangi, 300-400 kasus perceraian adalah korban pernikahan anak, mereka adalah 90% dari total pemohon perceraian. Di beberapa kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura), korban pernikahan usia anak bisa bernasib lebih buruk. Mereka putus sekolah dan berakhir di lembah hitam prostitusi setelah bercerai.

Pada akhirnya, kasus pernikahan usia anak dapat mengancam kehidupan ibu dan bayi. Angka Kematian Ibu dapat terjadi karena ketidaksiapan ibu melahirkan dan merawat anak, hingga menyebabkan perilaku aborsi tidak sehat. Selain kematian ibu, Angka Kematian Bayi (AKB) naik dari 49 kasus di tahun 2012 menjadi 77 kasus di tahun 2013. Kedua hal tersebut rentan terjadi menurut Dinas Kesehatan Ibu dan Anak Provinsi Sulawesi Utara karena ibu muda korban pernikahan usia anak tidak memahami masalah kehamilan, merawat anak, dan sebagainya.