Perempuan Terdampak Covid-19: Pemicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga

03 Agustus 2020 09:22 WIB | dibaca 252 | oleh: 'Aisyiyah (Suara 'Aisyiyah)

Perempuan merupakan salah satu dari kelompok rentan yang terdampak Covid-19. Masalah keterbatasan akses layanan bagi ibu hamil, ibu nifas, akseptor KB, dan balita; hingga kerentanan perempuan pada kekerasan dalam rumah tangga menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi.

Isu Gender di Masa Covid-19

Sebanyak 71% atau 259.32 orang perawat perempuan berada di garda depam berisiko terpapar virus. Belum lagi di tengah kondisi langkanya APD (Alat Pelindung Diri) dan bertambahnya pasien Covid-19.

Selain perawat, perempuan lain yang mudah terpapar ialah perempuan yang bekerja pada sektor jasa layanan langsung seperti kasir, resepsionis, pedagang, dan sebagainya. Kemudian, para perempuan disabilitas dan lansia. Belum lagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan; dan masih banyak lagi pekerjaan dengan gender stereotype lainnya yang sangat dikhawatirkan dapat terpapar virus ini.

Himbauan stay at home pada dasarnya dapat menyelamatkan masyarakat dari tertularnya virus Covid-19. Akan tetapi, di sisi lain akan menjadi pemicu masalah lainnya. Salah satunya kekerasan dalam rumah tangga. Menurut Komisioner Komnas Perempuan RI, Alimatul Qibtiyah, terdapat lima aspek yang dapat memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, di antaranya:

Pertama, aspek psikis. Pengasuhan dan pekerjaan domestik (masih) menjadi tanggung jawab perempuan.

Kedua, dampak pada fisik. Tekanan psikis memicu stres dan lelahnya fisik karena beban berlebih pada perempuan.

Ketiga, aspek ekonomi. Pengeluaran bertambah baik secara kualitas dan kuantitas, sementara pemasukan terbatas.

Keempat, aspek seksualitas atau private time. Bbagi beberapa keluarga yang memiliki jumlah kamar terbatas mengakibatkan waktu berdua suami-istri berkurang dan terganggu.

Kelima, aspek profesionalitas. Suami atau istri atau anggota keluarga lainnya, jika ditempatkan menjadi kolega, kebanyakan tidak mampu mengimbangi persoalan yang biasa dihadapi di kantor terkait pekerjaan formal.

Selanjutnya, terkait proses pembelajaran di rumah. Bagi beberapa keluarga, hal ini menjadi persoalan karena tidak semua orang tua mampu menjadi guru yang baik untuk semua mata pelajaran. Selain itu, pembelajaran masa kini banyak dioperasikan dengan menggunakan media digital sehingga menuntut orang tua dan anak untuk lebih melek teknologi.

Sumber: Disarikan dari Suara 'Aisyiyah edisi 5 (Mei, 2020) hal. 21-22