Perempuan dalam Masa Iddah: Bolehkah Perempuan Bekerja Selama Masa Iddah?

03 Maret 2020 18:17 WIB | dibaca 596 | oleh: Siti Aisyah (Ketua PP 'Aisyiyah)

Belum sampai satu bulan ditinggal wafat suami, seorang perempuan telah keluar rumah untuk kembali bekerja. Sebagian tetangga yang melihatnya mengatakan bahwa ia belum boleh keluar rumah setelah ditinggal wafat oleh suami dalam beberapa bulan. Memang benar bahwa perempuan yang bercerai dengan suaminya saat masih hidup atau telah meninggal dunia memasuki masa iddah.

Seperti Apa Masa Iddah yang Dimaksud?

Kata iddah berasal dari kata ‘adda ya’uddu artinya menghitung. Dalam hal ini, yang berkaitan dengan perkawinan bermakna masa-masa menunggu bagi seorang perempuan. Artinya adalah seberapa lamanya seorang perempuan menunggu sejak suaminya meninggal dunia atau sejak bercerai dengan suaminya, baik itu cerai hidup maupun cerai mati, artinya suaminya meninggal dunia sampai dia secara hukum boleh menikah lagi. Artinya sudah tidak terikat lagi dengan suami yang sebelumnya.

Hal ini sebenarnya terkait dengan spirit perkawinan dalam Islam, bahwa perkawinan itu sebenarnya adalah akad atau perjanjian yang sangat kuat antara suami dan istri untuk mewujudkan satu keluarga yang bahagia, yang sejahtera, yang sakinah mawaddah wa rahmah. Maka status perempuan sekarang sudah tidak bersuami istri akan tetapi statusnya belum putus secara hukum setelah masa iddah itu selesai.

Hal tersebut dilakukan untuk melindungi perempuan, karena pada masa jahiliyah, masa pra-Islam, hak-hak perempuan, akses perempuan dalam keluarga tidak mendapatkan kedudukan yang setara dengan laki-laki. Demikian juga ketika terjadi perceraian atau suaminya meninggal dunia, maka sebenarnya ada hak-hak bagi seorang perempuan.

Hak-hak itu adalah kepastian hubungan dengan suami sebelumnya setelah masa iddah itu selesai. Pada intinya iddah adalah masa menunggu.

Berapa Lama Waktu Perempuan untuk Menunggu?

Lamanya waktu menunggu tergantung dengan kedudukan atau kondisi seorang perempuan yang cerai hidup atau meninggal oleh suaminya. Apabila setelahnya seorang perempuan menikah kemudian ada ketidakcocokan sebelum dia melakukan hubungan seksual maka tidak ada masa menunggu/iddahnya. Kalau dia sudah menikah dan sudah melakukan hubungan seksual maka masa iddahnya adalah dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 228 disebut tsalasata quru atau tiga quru. Kata quru dapat bisa berarti suci atau berarti haid.

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam hal ini para ulama memiliki perbedaan pendapat. Kalau Asy-Syafi’iyah memaknai tsalata quru adalah tiga kali suci. KemudianIimam yang lain memaknai tsalata quru adalah tiga kali haid. Kalau dilihat bahwa sebenarnya perceraian yang Sunni itu dijatuhkan setelah kondisi istrinya suci maka mestinya itu dimaknai tiga kali suci.

Di Indonesia terdapat dalam kompilasi hukum Islam, disebutkan dalam 3 bulan atau yang dalam hitungan hari adalah 90 hari. Kita fokuskan pada ketika suaminya meninggal, kalau dia dalam keadaan hamil maka masa iddahnya sampai anaknya lahir. Kalau suaminya meninggal tidak dalam keadaan hamil maka masa iddahnya adalah 4 bulan 10 hari. Ini sebenarnya adalah masa untuk berkabung dan memastikan kondisi istri ini masih ada kaitannya dengan suami sebelumnya atau tidak, rahimnya sudah bersih atau belum.

Sekarang masalahnya kalau ada istri yang suaminya meninggal, dia dalam keadaan hamil maka mengambil yang mana? Apakah sampai anaknya lahir padahal sudah hamil tua, sudah 8 bulan misalnya maka tidak sampai 4 bulan 10 hari. Maka dalam hal ini diambil mana yang paling lama, tetap selama 4 bulan 10 hari. Tetapi kalau dalam 4 bulan 10 hari belum lahir maka ditunggu hingga bayinya lahir.

Bolehkah Perempuan Keluar Rumah untuk Bekerja selama Masa Iddah?

Perempuan keluar rumah seperti untuk bekerja selama masa iddah bisa dinilai tidak Islami, tetapi tidak bekerja bisa menimbulkan problem ekonomi tersendiri. Banyak pandangan yang mengatakan bahwa selama masa iddah perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah untuk urusan apapun.

Tetapi sebenarnya tidak ada larangan untuk hal itu. Misalkan untuk apa perempuan keluar rumah selama masa iddah? Bisa untuk silaturrahim, beraktivitas untuk mengikuti pengajian atau bahkan kalau suaminya meninggal maka dia menjadi kepala keluarga. Perempuan kepala keluarga dimana dia harus bertanggung jawab terhadap anak-anak yatim yang ditinggalkannya.

Memang anak-anak yatim dan perempuan tersebut memiliki hak waris yang ditinggalkan suaminya, namun tanggung jawab semua kepada ibunya yang sekarang sudah ditinggal oleh suaminya. Maka sebenarnya inti dari masa iddah itu berakhirnya masa iddah berarti berakhirnya perempuan itu boleh menikah dengan laki-laki lain.

Mungkin dalam masyarakat ada kekhawatiran kalau perempuan keluar nanti ada hal-hal yang tidak diinginkan sehingga belum masanya maka dia ada hubungan dengan laki-laki lain, itulah yang dihindari. Tapi selama perempuan itu dapat menjaga diri, selama masyarakat juga bisa melindungi hak perempuan tadi maka tidak ada masalah kalau dia keluar rumah.

Jadi spirit dari iddah kalau dilihat secara hukum sebenarnya untuk memastikan kapan perempuan itu dapat dinikahi atau menikah dengan laki-laki lain. Oleh karena itu, selama masa menunggu harapannya perempuan dapat menjaga diri. Demikian juga masyarakat di sekitarnya juga dapat menjaga diri, dapat menghormati kedudukan perempuan yang dia itu sebagai perempuan kepala keluarga.

Sehingga kalau dia bekerja dan harus keluar rumah atau bekerja di rumah memiliki warung/toko dan dia berhubungan dengan banyak orang bahkan dengan laki-laki yang bukan mahram sebenarnya tidak ada masalah selama dia dapat menjaga diri sehingga kehormatan diri dan kehormatan keluarga dapat dijaga.

Bayangkan kalau seorang perempuan yang memiliki tanggung jawab anak-anak yatim tersebut bila dia tidak boleh keluar rumah padahal yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya adalah dirinya. Walaupun sebenarnya ketika ayahnya meninggal ada pamannya yang dapat menjadi wali tetapi pada masa sekarang ini, apakah wali itu kemudian bertanggung jawab terhadap kehidupan keponakannya?

Realita yang terjadi dalam masyarakat justru semuanya adalah tanggung jawab perempuan yang sudah ditinggal suaminya. Ibu dari anak-anaknya yang dia harus membesarkan, harus mendidik seorang diri. Maka ketika dia keluar untuk kepentingan-kepentingan keluarga, kepentingan masyarakat tidak menjadi masalah bahkan hal itu sesuatu amal sholih, amal yang baik.

Gambar: google.com