Pemanfaatan Air untuk Kemakmuran Dunia

10 Juni 2016 11:22 WIB | dibaca 1597 | oleh: Oleh : Dr. Casmini ([Ketua Divisi Muballighat Majelis Tabligh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah])

 

“....dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Q.S. al-Anbiya : 30)

Dari ayat di atas, Allah menegaskan bahwa segala sesuatu yang hidup dijadikannya dari air. Dengan kata lain “tiada air, tiada kehidupan.” Kajian global kondisi air di dunia yang disampaikan pada World Water Forum II di Denhag tahun 2000 memproyeksikan bahwa pada 2025 akan terjadi krisis air di beberapa negara, termasuk Indonesia, dari 10 negara yang kaya air. Krisis ini sebagai akibat dari kesalahan pengelolaan air yang tercermin dari tingkat pencemaran air yang tinggi, pemakaian air yang tidak efisien, fluktuasi debit air sungai yang sangat besar, kelembagaan yang masih lemah, dan peraturan perundang-undangan yang tidak memadai.

Ketersediaan air di Indonesia mencapai 15.000 meter kubik per kapita per tahun-- masih di atas rata-rata dunia yang hanya 8.000 meter kubik per kapita per tahun. Namun jika ditinjau ketersediannya, setiap pulau akan sangat lain dan bervariasi. Pulau Jawa yang luasnya mencapai 7% dari total potensi air tawar nasional, namun pulau ini dihuni oleh sekitar 65% total penduduk Indonesia. Kondisi ini menggambarkan potensi kelangkaan air di Pulau Jawa sangat besar. Apabila fenomena ini terus berlanjut maka akan terjadi keterbatasan pengembangan dan pelaksanaan pembangunan di daerah-daerah tersebut karena daya dukung sumber daya air yang telah terlampaui. Potensi krisis air ini juga terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Memperhatikan persoalan tentang kelangkaan air tersebut, maka perlu optimalisasi pemanfaatan air demi keberlangsungan kehidupan dunia.

Islam memandang bahwa air merupakan elemen vital yang pertama kali diciptakan oleh Allah Swt sebelum menciptakan kehidupan di bumi ini. Air sebagai sesuatu yang menyebabkan semua yang ada di bumi ini bisa hidup. Allah menciptakan air dan menjadikannya dengan air itu sebagai asal muasal sesuatu, sebagaimana firman Allah yang artinya, ‘Kami telah jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air” [Q.S. 21:30, 24:45, 25:54]. Semua yang hidup termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan, semuanya sangat tergantung pada air sebagai kelangsungan hidupnya [Q.S. 2:164, 6:99, 22:5]. Berarti air menjadi sumber kehidupan dari semua makhluk hidup karena tidak ada makhluk yang dapat bertahan hidup tanpa adanya air.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa bumi semula kering dan gersang. Namun Allah menurunkan hujan dan mengubah dunia menjadi hijau dan hidup [Q.S. 22:5]. Air membungkus permukaan bumi jika dilihat dari kejauhan tempat kebiruan. Demikian cara tuhan menciptakan kehidupan di bumi ini, selanjutnya adalah tugas dan kewajiban manusia untuk terus memberdayakan kehidupan agar menjadi lebih baik, yang salah satunya adalah menjaga dan melestarikan sumber-sumber air.

Setelah mengetahui betapa vital keberadaan air bagi kehidupan, maka upaya penting yang harus dilakukan berikutnya adalah bagaimana menjaga dan memanfaatkan sumber-sumber air agar tetap terpelihara dengan baik. Kelangsungan sumber-sumber air untuk terus hidup seperti sungai, sumur, dan mata air harus selalu dijaga dengan baik karena akan menentukan keberlangsungan makhluk hidup itu sendiri.

Dalam kajian fikih Islam dijelaskan bahwa kualitas air ini dapat berubah karena berbagai sebab, di antaranya karena adanya pencemaran. Identifikasi perubahan itu dapat diketahui melalui perubahan sifat kemurnian dan kemutlakannya. Perubahan dapat diketahui secara indrawi yakni bau, warna, dan rasa. Larangan mengotori atau mencemari kemurnian dan kebersihan air sangat tegas tuntunannya dalam Islam sebagai mana dijelaskan oleh Rasulullah dalam beberapa hadistnya.

Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu mandi janabah di air yang diam (tidak mengalir) [H.R. Muslim]. Kemudian dalam lafazh Bukhari : “Janganlah kamu kencing di air yang diam yang tidak mengalir, kemudian mandi di dalamnya”. Dan dalam riwayat Muslim dengan lafaz “kemudian ia mandi dari air tersebut”. Dan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafaz : “Dan janganlah ia mandi di dalamnya dalam keadaan junub”.

Dijelaskan dalam hadist Rasulullah yang lain, dari riwayat Abu Daud, yang artinya : “Takutlah kalian dari tiga hal yang mendatangkan laknat; buang hajat di air yang mengalir, di tengah jalan dan di tempat berteduh”.

Daerah yang memiliki padang rumput dan sumber mata air tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan perorangan semata. Hal itu menjadi hak bersama-sama untuk keperluan kebutuhan air termasuk untuk keperluan ternak-ternak mereka. Hal yang sepadan dengan itu adalah sungai dan wilayah keliling sumber air seperti sumur dan telaga yang biasa disebut dengan istilah harim. Kata “harim” bermakna kawasan terlarang (hijau) yang mengitari sumur dan sumber air. Di kawasan tersebut tidak diperbolehkan berdiri bangunan-bangunan kecuali untuk keperluan yang berhubungan dengan konversi sumber air tersebut. Ibnu Qudamah [541-620 H] menjelaskan bahwa setiap sungai harus memiliki zona bebas untuk kepentingan pemanfaatannya dan tidak boleh dimiliki oleh siapapun.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Muhammad al-Bujairni bahwa kawasan bantaran sungai demi kepentingan dan konservasinya tidak boleh didirikan bangunan, sekalipun masjid, dan setiap bangunan di atasnya harus dibongkar. Dan hampir semua empat mazhab fikih sepakat menggusur semua bentuk bangunan yang ada di kawasan bantaran sungai. Sering kita temukan saat sekarang bangunan-bangunan yang berdiri di kawasan bantaran sungai dapat menganggu fungsi kawasan sungai. Ekstrimnya dapat menyebabkan banjir dan sering menelan korban. Ini bukti kurangnya kesadaran akan fungsi bantaran sungai.

Uraian di atas menunjukkan bahwa Islam memiliki kepedulian terhadap keberadaan air, mengingat air merupakan bagian penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Maka ketersediaan sumber daya alam termasuk air adalah untuk kesejahteraan semua. Pemanfaatkan terhadap air harus dikembangkan dan diberdayakan secara maksimal. Keberadaan air yang melimpah di bumi ini tidak ada yang sia-sia bagi kehidupan manusia.

Air laut yang melimpah dan terjaga kebersihannya akan menambah populasi ikan ikan yang berlimpah. Di beberapa negara bahkan air laut yang asin dapat diubah menjadi tawar untuk penggunaan kebutuhan harian seperti yang dilakukan di Arab. Demikian pula dengan sungai-sungai yang banyak terdapat di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk banyak hal seperti waduk, PLTA, irigasi, kolam pembudidayaan ikan, bahkan di beberapa negara air sungai dapat direformasikan menjadi air beku.