Pandemi Covid-19 dan Masyarakat Separuh Sehat

04 Mei 2020 14:01 WIB | dibaca 306 | oleh: 'Aisyiyah (Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

Oleh:

Wildan* dan Nurcholid Umam Kurniawan**

*Dokter Jiwa RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta

 **Direktur Pelayanan Medik RS PKU Muhammadiyah Bantul/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

 

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta,

Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh.

(Albert Einstein, 1879-1955)

Nabi Muhammad saw menjelaskan tentang agama/keberagamaan dalam satu kalimat singkat namun padat dan sarat makna, ad-Din al-Mu’amalah, agama adalah interaksi. Interaksi yang dimaksud di sini adalah hubungan antara manusia, dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dengan lingkungan-baik hidup atau tidak-serta diri sendiri. Semakin baik interaksi itu, semakin baik pula keberagamaan pelakunya, demikian pula sebaliknya (Shihab, 2006).

Kenyataan di lapangan selama ini yang disampaikan ke masyarakat, hanyalah hablun minaallah dan hablun minannas. Jarang sekali disampaikan hablun minal’alam, apalagi hablun minafsihi dapat dikatakan sama sekali tidak pernah disebut. Maka, jangan salahkan masyarakat apabila mereka “separuh” saleh, saleh ritual dan saleh sosial. Mereka tidak saleh lingkungan akibatnya jadi banjir, longsor, abrasi. Tidak juga saleh individual sehingga mereka jadi perokok, pelaku seks bebas, pembuat hoax (tak sadar bahwa sebelum orang itu membohongi orang lain, sebenarnya lebih dulu membohongi dirinya sendiri,  jadilah Homo mandex – manusia pembohong, bukan Homo sapiens - manusia arif bijaksana). Adapun menjaga kesehatan dikategorikan menjaga hubungan dengan diri sendiri (hablun minafsihi).

Lagi, kenyataan di lapangan, selama ini yang disampaikan ke masyarakat hanyalah sehat jasmani dan sehat ruhani. Akibatnya masyarakat jadi separuh sehat. Mereka tidak sehat secara kaaffah, tidak holistik, tidak menyeluruh. Mestinya sehat itu selain sehat jasmani juga sehat nafsani (jiwa, mental), sehat ruhani (spiritual-Nasrani, maknawi-Persia), serta sehat mujtama’i(sosial kemasyarakatan). Jadi, individu yang sehat adalah apabila sehat jasmani, nafsani, spiritual, dan sosial. Dengan kata lain kesehatan adalah keadaaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan).

Peristiwa penolakan sebagian masyarakat terhadap jenazah korban musibah Covid-19 adalah salah satu contoh konkret bahwa mereka itu hanya seperempat sehat, hanya sehat jasmani semata. Mereka itu tidak sehat nafsani. Hal ini dapat terjadi karena tokoh masyarakat lokal bisa jadi punya ciri kepribadian paranoid lalu bereaksi emosional. Bahwa reaksi emosional itu munculnya seperempat detik. Bersifat spontan, reaktif, tanpa mikir, muncul dalam bentuk perilaku hadapi (fight) atau lari (flight). Tokoh lokal itu karena tidak berani menghadapi sendirian lalu memprovokasi warga terjadilah shared paranoid, perilaku paranoid berjamaah. Munculnya keberanian menolak petugas pengubur jenazah karena mereka berkelompok. Sedangkan reaksi nalar munculnya dua detik. Mereka tidak menggunakan akal budi, tindakannya merupakan pantulan hati yang tidak nurani, tidak bercahaya. Yang muncul hati zhulmani, hati yang gelap (black heart). Ini gambaran riil selain tidak sehat nafsani sekaligus tidak sehat rohani menolak jenazah yang mati syahid dan tidak sehat mujtama’i karena miskin empati.

Health is not everything but without it everything is nothing, memang kesehatan itu bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan segalanya jadi tidak ada maknanya (Arthur Schopenhauer, 1788-1860).

Bagaimana upaya menjaga kesehatan era pandemi Covid-19?

Bahwasanya status kesehatan itu ditentukan oleh 1) faktor keturunan (10%); 2) faktor pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Rumah Sakit (10%); 3) faktor lingkungan, seperti bencana alam, banjir, gempa bumi (25%); dan 4) faktor perilaku (55%). Kesehatan itu berkaitan dengan sifat Tuhan Ar-Rahman (Tuhan Maha Kasih tanpa pilih kasih). Meskipun manusia itu beriman, tapi abai pola hidup sehat akibatnya akan jatuh sakit. Maka, pola pikir sehat (healthy mindset) akan menghasilkan gaya hidup sehat (healthy lifestyle). Oleh karena itu beberapa hal berikut penting untuk dilakukan:

      Pertama, pelihara kesehatan jasmani.

Tuhan dalam kitab suci ketika berbicara tentang hidup menggunakan kosakata Aku, hanya Tuhanlah semata yang mampu memberi hidup. Ketika berbicara tentang kematian menggunakan kosakata Kami. Maka Tuhan memberi perintah dilarang membunuh atau bunuh diri karena tindakan itu menyebabkan kematian prematur. Manusia modern usia harapan hidupnya berkisar 110-120 tahun. Di Pulau Okinawa, Jepang, terkenal sebagai immortal land, warganya berumur 100 tahun tertinggi di dunia. Mereka jarang yang sakit jantung, obesitas, kanker, stroke, diabetes. Apabila penderita penyakit ini terpapar virus Covid-19 akan meningkat risiko kematiannya. Makanan mereka sayuran, produk kedelai, dan sari laut. Rahasia mereka berumur panjang hara hachi bu, makan sampai 80 persen kenyang!

Merokok meningkatkan risiko kematian apabila terpapar Covid-19 dibandingkan dengan non perokok. Sebatang rokok memperpendek umur 12 menit. Jadi, tindakan merokok termasuk tindakan bunuh diri pelan-pelan (slow suicide). Nikotin dalam rokok menyebabkan adiksi. Dampaknya timbul Gangguan Jiwa dan Perilaku Akibat Tembakau yang kode penyakitnya F17.

Olahraga yang teratur dan terukur dengan intensitas sedang dalam waktu 150 menit per minggu akan meningkatkan imunitas tubuh. Maka stay active.

Ikuti dan patuhi petunjuk Kemenkes RI senantiasa menjaga jarak fisik (physical distancing), hindari kerumunan warga, rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai masker jika keluar rumah. Tidur cukup 7-8 jam per malam. Ternyata yang tidur 7 jam lebih panjang umur.

Kedua,pelihara kesehatan nafsani.

Salah satu ciri individu yang sehat jiwa adalah mampu menghadapi stres kehidupan secara wajar. Stres adalah suatu bentuk ketegangan yang mempengaruhi fungsi organ tubuh (jantung, paru-paru, lambung). Jika ketegangan itu berlebihan dampaknya timbul gangguan fungsi organ tubuh, keadaan ini disebut dengan distress. Stres dalam kehidupan termasuk adanya pandemi Covid-19 suatu hal yang tidak dapat kita hindari. Oleh karena itu hadapilah stres tanpa mengalami distress.

Adapun stres yang dapat menimbulkan gangguan jiwa jika stres itu bersifat kumulatif, menumpuk (cumulative stress), tidak diharapkan (unexpected), mendadak (unpredictable), tidak direncanakan (unplanned), dan tidak bisa terselesaikan dengan tuntas (chronic). Sedangkan corak kepribadian yang mudah mengalami distress adalah apabila individu tadi punya sifat 1) serba hati-hati, takut gagal, takut memperoleh hinaan, dan takut apabila berbuat kesalahan; 2) butuh keberhasilan tinggi, ingin segala sesuatunya serba sempurna (perfectionist); 3) workaholic, pecandu kerja, bangga bila tidak pernah libur; 4) kaku dalam proses pikir, kurang lentur/rigid; dan 5) usia tengah baya yang menghadapi krisis tengah umur, hati-hati individu yang glamur (golongan lanjut umur)!

Upaya yang dapat dilakukan agar tidak mudah stres antara lain kepribadian harus fleksibel, lentur, plastis, tidak kaku, tirulah pohon kecil ketika badai datang meliuk, badai lewat tegak kembali. Jangan seperti pohon besar melawan badai, tumbang! Lakukan pula pendalaman agama atau falsafah hidup. Meskipun stay at home agar tidak bosan dan kesepian lakukanlah kontak sosial lewat hp dengan kerabat, sahabat. Dapat juga lakukan relaksasi/meditasi. Kembangkan hobi, berkebun, mendengarkan musik, nonton film. Adapun keluarga sakinah itu baru dapat diwujudkan apabila masing masing anggota keluarga mampu menahan gejolak emosi, mereka lalu bermusyawarah pake nalar, gunakanlah akal budi hasilnya saya oke, kamu oke, kita semua oke. Keluarga akan jadi adem ayem meskipun stay at home. Jadilah Happy Family.

Ketiga,pelihara kesehatan ruhani.

Sudah jatuh dihimpit tangga, demikian kata pepatah. Sudah jadi ODP, PDP, positif virus Covid-19, sudah bertaruh nyawa dengan menolong pasien korban pandemi oleh sebagian warga di-bully, dijauhi, dikucilkan, bahkan diusir dari kampung. Peristiwa ini jelas menyakitkan hati atas perlakuan masyarakat yang tuna empati dan miskin akal budi.

Lewat kitab suci Tuhan memberikan petunjuk (Q.S. Ali Imran: 134-135) ciri orang yang takwa adalah individu yang mampu menahan rasa dongkol dan suka memberi maaf. Robert Enright, dkk (1989) memberi maaf itu bertingkat-tingkat. Tingkat satu memaafkan apabila sudah dapat membalas (revengeful forgiveness), saya dapat memaafkan jika saya membalas sebesar rasa sakit yang saya alami. Tingkat dua memaafkan dengan restitusi (restitutional/ compensational forgiveness), jika saya dapat memperoleh kembali apa yang sudah diambil dariku saya dapat memaafkan, atau hanya jika aku merasa bersalah karena tidak memaafkan maka aku akan maafkan. Tingkat tiga pemaafan karena tuntutan lingkungan (expectational forgiveness), akhirnya saya dapat memaafkan karena yang lain menyuruh saya memaafkan. Tingkat empat memaafkan karena tuntutan hukum (lawful expectational forgiveness), saya memaafkan karena agama saya menyuruh saya memaafkan. Tingkat lima memaafkan untuk harmoni sosial (forgiveness as social harmony), saya memaafkan agar dapat mengembalikan hubungan baik. Tingkat enam pemaafan sebagai bentuk kasih sayang (forgiveness as love), saya memaafkan karena saya peduli tanpa syarat apa-apa. Ternyata pemaafan tingkat enam yang dapat meningkatkan derajat kesehatan karena tidak menaikkan tekanan darah!

Berbuat salah itu manusiawi, mempertahankan kesalahan itu perbuatan iblis, sudah tahu berbuat salah tetapi mengajak orang lain untuk ikut berbuat salah itu perbuatan setan. Setan itu kata sifat. Maka setan dapat berwujud jin atau manusia. Setan itu menggoda manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri dengan cara memperpanjang angan-angan (takut tertular Covid-19) dan memperindah perbuatan keji, mengusir pasien dan tenaga kesehatan serta menolak jenazah korban musibah Covid-19. Oleh karena itu imam dan makmum setan bertobatlah, tirulah doa kakek nenek manusia Nabi Adam dan Ibu Hawa yang substansinya mengaku telah mendhalimi diri sendiri dan beramal salah dengan mendhalimi orang lain, lalu memohon ampunan dan rahmat Tuhan. Inga inga syarat masuk surga itu 1) iman; 2) amal sholeh; 3) ampunan; dan 4) rahmat Allah. Kitab suci adalah petunjuk Tuhan agar manusia berperilaku manusiawi, bukan hewani. Para nabi adalah contoh manusia yang paling manusiawi dengan kata lain contoh manusia yang paling optimal kesehatan ruhaninya. Tirulah!

Keempat, peliharalah kesehatan mujtama’i.

Pada zaman now diingatkan agar orang itu jangan baper. Hal yang paling sulit dikendalikan adalah pengendalian merasa miskin. Oleh karena itu orang yang takwa adalah orang yang mampu mengendalikan rasa miskin. Dengan demikian akan suka mendermakan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit (Q.S. Ali Imran: 134-135). Maka, buat warga yang PDP, Pas Duwe Penghasilan, saat ini justru merupakan peluang emas yang dianugerahkan Tuhan, apalagi saat ini bulan Ramadan, untuk membantu warga yang ODP, Ora Duwe Penghasilan akibat pandemi Covid-19, sekaligus sebagai PMA (Penanaman Modal Akhirat). Dengan demikian menjadi Mantab (Makan tabungan) kelak di sana!.

Last but not least, doa orang bijak, Ya Tuhan, berilah hamba keberanian untuk mengubah apa-apa yang masih bisa diubah. Berilah hamba kemampuan untuk memerima apa-apa yang tidak bisa diubah lagi. Berilah hamba kebijaksanaan untuk mampu membedakan apa yang masih bisa diubah dan yang tidak.