Nilai-nilai Spiritual Landasan untuk Menyelesaikan Persoalan Keluarga

13 Oktober 2016 15:24 WIB | dibaca 1087 | oleh: Dra. Susilaningsih K. MA

Sumber Gambar: Okezone.com

 

Sebuah keluarga dibangun di atas landasan spiritual karena berkeluarga merupakan salah satu perintah Allah SWT bagi manusia dalam rangka melaksanakan tugas kemanusiaan, yaitu sebagai khalifah Allah di bumi, yang salah satu tugasnya adalah sebagai agen memberlanjutkan keberadaan manusia di bumi. Oleh karena itu sebagai Dzat Pemilik manusia Allah swt telah mengisyaratkan adanya panduan nilai-nilai spiritual dalam membangun keluarga, mulai pada pelaksanaan upacara pernikahan sampai pada ketika pasangan suami isteri membangun keluarganya. Membangun sebuah keluarga merupakan sebuah perjalanan hidup yang panjang, dan diharapkan terlaksana sampai akhir hayat, yang pasti akan melewati riak dan gelombang kehidupan berupa persoalan berkeluarga yang tidak mudah. Diperlukan suatu kemampuan yang kuat bagi pasangan suami isteri untuk dapat mengelola mengintegrasikan tiga kecerdasan bawaannya yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) yang disandarkan pada nilai-nilai spiritual terkait dengan kehidupan berkeluarga.

Nilai-nilai Spiritual Berkeluarga

Proses berkeluarga harus melewati suatu upacara sakral, dan nilai kesakralan itu hadir karena pernikahan harus dilaksanakan atas nama Allah Swt sebagai wujud dari ketaatan pasangan muslim dan muslimah kepada Allah. Nilai kesakralan itu merupakan ekspresi dari pengakuan adanya nilai spiritual yang hakiki yaitu nilai ketuhanan, nilai Ilahiyah Tauhidiyah sebagai sumber dari nilai nilai spiritual terkait dengan kehidupan manusia, dan dalam hal ini terkait dengan kehidupan berkeluarga. Semua nilai kehidupan yang bersumber dari ajaran dan petunjuk Allah Swt adalah nilai spiritual, lima diantaranya adalah nilai tentang kasih sayang, kebersamaan, kejujuran, keadilan, dan keindahan (Ary Gunanjar Agustian, ESQ Power, 2004, hlm.57). Bersama dengan nilai ketuhanan Ilahiyah Tauhidiyah nilai-nilai spiritual tentang kemanusiaan itu merupakan fitrah (bakat) pemberian Allah Yang Maha Pengasih pada awal kejadian manusia sebagai modal dasar kehidupan bagi manusia, dan tertanam dalam hati nurani, suara hati, atau qalbu (conscience) [QS As-Sajdah (32) : 9]

Nilai-nilai spiritual terkait dengan kehidupan keluarga dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu (1) nilai-nilai tentang laki-laki dan perempuan sebagai pasangan dan disahkan dalam upacara penikahan, (2) nilai-nilai terkait dengan cara membangun keluarga. Nilai-nilai spiritual tersebut berungsi sebagai panduan untuk pembinaan keluarga serta penyelesaian permasalahan yang dihadapinya.

Pertama, dalam buku Tuntunan menuju Keluarga Sakinah, (PP ‘Aisyiyah, 2015, hlm. 21-22) disebutkan  bahwa pengertian keluarga sebagai berikut. “Bangunan keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan tercatat di Kantor  Urusan Agama yang di landasi rasa saling menyayangi dan menghargai dengan penuh rasa tanggung jawab dalam menghadirkan suasana kedamaian,ketenteraman, serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang diridhai Allah Swt.”

Dalam pengertian tersebut terkandung dua nilai terkait ikatan pernikahan, yaitu ikatan suami istrei dengan Allah Swt sebagi tanda ketaatan dan ikatan kepada negara sebagai jaminan hukum. Dengan mendasarkan pada dua ikatan tersebut maka diharapkan pasangan suami isteri akan memiliki kesadaran kesakralan dari ikatan sebuah perkawinan yang merupakan ikatan perjanjian suci (mitsaqan ghalida) sehingga akan bersungguh-sungguh dalam menjaga kebahagiaan dan kelanggengan keluarga.

Kesadaran tersebut menjadi jalan kembali ketika suami isteri itu menghadapi persoalan yang dihadapi. Pernikahan yang tidak dicatatkan di KUA biasa disebut nikah sirri, yang tidak memberi jaminan hukum khususnya bagi isteri dan anak. Sehingga mereka tidak mendapat hak waris dari suami/ayah. Bagi anak juga tidak akan mendapat akte lahir yang dinasabkan kepada Ayahnya.

Kedua, nilai-nilai terkait dengan cara membangun dan membina keluarga. Tujuan keluarga adalah untuk melaksanakan amanah dari Allah Swt sebagai makhluk manusia yang diciptakan berpasang-pasangan dalam keadaan bahagia dunia akherat. Untuk mencapai itu maka di samping harus mampu menguatkan berkembangnya nilai-nilai spiritual Ilahiyah Tauhidiyah maka keluarga tersebut juga  harus mengembangkan nilai-nilai spiritual terkait dengan kemanusiaan yang lima diantaranya telah diutarakan pada pembahasan di muka.

Berikut adalah pembahasan tentang nilai-nilai tersebut:

1)     Nilai Ilahiyah Tauhidiyah. Sebenarnyalah semenjak ditiupkan ruh ke dalam janin manusia ketika berusia 4 bulan dalam kandungan maka setiap orang telah dikaruniai oleh Allah potensi Ilahiyah Tauhidiyah, rasa kebertuhanan terhadap Allah Yang Maha Esa [ Q.S Al-A’raf (7) : 172]. Dengan menggantungkan diri kepada Allah Swt dan berpedoman pada nilai-nilai berkeluarga yang telah dituntunkanNya melalui ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw maka sebuah keluarga akan dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

2)     Nilai kasih sayang. Sebagai bagian dari nilai spiritual kemanusiaan, rasa kasih sayang memiliki kedudukan vital bagi eksistensi dan perkembangan manusia, karena tanpa rasa kasih sayang manusia akan cacat secaea kejiwaan yang akan berdampak kepada kondisi biologisnya. Sebenarnyalah rasa kasih sayang yang bersumber dari sifat Allah Yang Maha Rahman dan Rahim telah dititipkan kepada makhluk perempuan yang bernama Ibu, menjadi apa yang disebut sebagai motherly love, cinta natural ( unconditioned love), cinta tanpa syarat. Pada suami isteri ada juga cinta yang disebut dengan condutuined love, cinta berbentuk, yang keberadaannya harus selalu diperbaharui. Kedua macam rasa cinta tersebut merupakan senjata untuk meluruhkan persoalan-persoalan yang dihadapi keluarga.

3)     Nilai kebersamaan. Manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial, sehingga akan mengalami rasa kesepian dalam kesendiriannya. Suasana kebersamaan akan menggairahkan proses kehidupan manusia dalam melaksanakan amanah untuk mengelola bumi. Rasa kebersamaan ini juga yang akan mampu menjadi jalan penyelesaian persoalan yang dihadapi keluarga, karena suami atau isteri tidak akan merasa terpojok sendirian ketika menghadapi suatu masalah.

4)     Nilai Kejujuran. Sifat jujur senada dengan salah satu sifat utama Rasulullah saw, yaitu fathanah, amanah. Kejujuran merupakan modal kelanggengan sebuah keluarga karena akan memberikan rasa kepercayaan antara suami isteri dan anggota keluarga yang lain. Sekali saja anggota keluarga merasa tidak dipercaya walau sudah berlaku jujur, atau sekali saja berlaku tidak jujur biasanya sudah menjadi bibit percecokan. Oleh karena itu sifat dan sikap jujur harus dikembangkan sejak usia awal dalam proses pengasuhan, karena sifat jujur itu merupakan fitrah, bawaan, sebagai bagian dari nilai spiritual yang dianungerahkan oleh Allah swt.

5)     Nilai keadilan. Ini terkait dengan hak dan harga diri seseorang. Apabila seseorang merasa dinilai dan disikapi secara tidak adil maka dia akan menganggap dirinya dilecehkan harga dirinya. Dalam kehidupan keluarga perasaan tersebut dapat memicu adanya perpecahan antar anggota keluarga. Islam telah mengajarkan tentang keadilan tersebut dalam ayat-ayat al-Quran surat hujurat (49) ayat 13. Pada dasarnya semua manusia itu mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

6)     Nilai keindahan. Keindahan merupakan nilai spiritual yang membawa kelembutan hati. Keindahan adalah ciptaan Allah sebagaimana tersebut pada salah satu sifat Allah dalam Asma al-Husna yaitu Al Badii’ (Yang Maha Pencipta Keindahan).rasa suka pada keindahan dan suka mencipta keindahan perlu dikembangkan dalam keluarga semenjak usia dini. Berdampingan dengan berkembangnya rasa kasih sayang maka keberadaan rasa keindahan dalam keluarga akan  memberikan suasana nyaman sehingga ketika keluarga sedang menghadapi masalah dapat berusaha mencari pemecahannya dalam suasana yang nyaman.

 

Pengelolaan persoalan keluarga harus dilakukan sepanjang waktu karena persoalan keluarga dapat muncul kapan saja, dan itu juga merupakan bagian dari dinamika berkeluarga. Dalam proses pemecahan persoalan yang dihadapi, antara suami isteri harus ada kesamaan persepsi serta menggunakan langkah yang sama. Proses pemecahannya juga harus memanfaatkan tiga macam kecerdasan yang dimilikinya, yaitu IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (Kecerdasan Emosional), dan SQ (Kecerdasan Spiritual) secara integratif. Biasanya  ketika suatu keluarga sedang menghadapi masalah suasana emosi menjadi gundah. Pada saat suasana seperti itu sebaiknya emosi ditenangkan dulu, kemudian hati dibawa kepada penyerahan diri kepada Allah sehingga kegundahan mereda dan emosi menjadi tenang.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari Suara 'Aisyiyah September 2016, halaman 23.