'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Nilai-nilai Islam tentang Relasi Laki-laki Perempuan
12 Juni 2017 18:29 WIB | dibaca 216
oleh: Alimatul Qibtiyah, Ph.D (Ketua LPP Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, anggota MTTP PP Muhammadiyah dan Dosen KPI UIN Sunan Kal)

 

Oleh: Alimatul Qibtiyah, Ph.D
*Ketua LPP Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, anggota MTTP PP Muhammadiyah dan Dosen KPI UIN Sunan kalijaga Yogyakarta.

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling berbagi bukan untuk saling mendominasi. Dalam konsep tauhid yang berhak menyandang gelar nomor satu hanyalah Allah. Makhluk secara subtansi tidak berhak menyandang gelar nomor satu. Yang diperkenankan adalah terkait dengan peran dan fungsi yang berbeda. Ada yang berperan menjadi ketua atau presiden da nada yang berperan sebagai anggota atau rakyat biasa. Peran tersebut tidak serta merta membawa konsekuensi bahwa secara substantive dan juga filosofis yang berperan sebagai ketua akan mendapatkan sisi yang paling mulia di sisi-Nya. Demikian juga sebaliknya anggotanatau rakyat tidak secara otomatis akan terakhir masuk surga.

Demikian juga relasi relasi laki-laki dan perempuan di masyarakat dan di keluarga. Jika di masyarakat ada istilah bapak sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai kepala rumah tangga atau sebaliknya (realitas sudah ada ibu sebagai kepala keluarga dan bapak sebagai kepala rumah tangga), bukan berarti yang menjadi kepala keluarga mempunyai posisi yang amat dimuliakan dan harus dilayani sepenuhnya sehingga memunculkan relasi suami-istri yang tidak seimbang. Baik yang menjadi kepala rumah tangga maupun kepala kepala keluarga sama-sama mulianya dan kalau mereka berakhlakul karimah dan beramal nyata kemanfaatannya untuk manusia serta tidak lupa mendekatkan diri pada Allah, maka insya Allah surge jaminannya. Dalam Islam tidak mengindikasikan perempuan tidak punya otonomi sendiri untuk masuk surga ini, cukup populer di masyarakat.

Di dalam buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah yang digagas oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dan diputuskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai Hasil Putusan menyebutkan bahwa relasi laki-laki dan perempuan termasuk di dalamnya suami-istri adalah SEIMBANG. Relasi laki-laki dan perempuan dalam posisi setara, tidak ada superioritas dan subordinasi (diunggulkan dan direndahkan), masing-masing memiliki potensi, fungsi, peran, dan kemungkinan pengembangan diri. Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa perempuan dan laki-laki setara dihadapan Allah. Nilai-nilai kesetaraan tersebut bersifat qot’I dan mengikat untuk menjadi landasan utama membincangkan relasi laki-laki dan perempuan dalam Islam. Sementara itu peneguhan relasi yang seimbang di persyarikatan ini akan menguatkan identitas berkemajuan Muhammadiyah di abad kedua ini.

Relasi yang seimbang ini didasarkan pada nilai-nilai kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam al-Qur’an diantaranya:

                Pertama. Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai Hamba Allah. Ini ditegaskan Allah dalam Surah Adz-dzariyat (51): 56. Laki-laki dan Perempuan sama-sama berpotensi untuk meraih prestasi sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa (4): 124.

                Kedua. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah/wakil/pemimpin Allah. Al Baqarah ayat 30 khalifah/wakil/pemimpin Allah. Al Baqarah ayat 30 menyebutkan bahwa Allah sesungguhnya menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Dengan demikian baik laki-laki dan perempuan sama-sama punya hak untuk memimpin dunia ini. Bahkan jika dilihat dari sejarah kepemimpinan dalam al-Qur’an, Allah mengakui kehebatan , kearifan, kecerdasan Ratu Bilqis. Al-Qur’an surat Saba (34); 15 menginformasikan bahwa kerajaan Saba sebagai Negara yang baldatun toyibatun warobbun ghofur. Al-Qur’an Surat An-Naml (23) 32-35, 44 menunjukan bahwa Ratu Bilqis adalah seorang ratu yang demokratis (melibatkan pembesar lain dalam memutuskan perkara), bijaksana (tidak mau mengorbankan rakyat dan memperlakukan lawan politik secara terhormat) serta cerdas, terbuka dan religious (cerdas dna mudah menerima kebaikan sehingga dengan dia berpindah dari menyembah matahari menjadi beriman kepada Allah, Tuhan Nabi Sulaiman).

                Ketiga. Adam dan Hawa bersama-sama sebagai aktor terkait keberadaan manusia di surga dan di bumi ini. Seluruh ayat tentang kisah Adam dan Hawa sejak di surge hingga turun ke bumi menggunakan kata ganti mereka berdua (huma) yang melibatkan secara bersama-sama dan secara aktif Adam dan Hawa. Adam dan Hawa diciptakan di surga dan mendapatkan fasilitas surge sebagaimana disebutkan dalam Al-Baqarah (2): 35. Selain itu Adam dan Hawa mendapatkan kualitas godaan yang sama dari syetan sebagaimana disebutkan dalam Al-A’raf (7): 20. Mereka juga bersama-sama memakan buah khuldi dan karenanya menerima akibat jatuh ke bumi sebagaimana disebutkan al-Araf (7): 23.  Bersambung

Shared Post:
Idea Terbaru
Berita Terbaru