Nilai-nilai Islam tentang Relasi Laki-laki Perempuan - bagian 2

13 Juni 2017 18:12 WIB | dibaca 421 | oleh: Alimatul Qibtiyah, Ph.D (Ketua LPP Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, anggota MTTP PP Muhammadiyah dan Dosen KPI UIN Sunan Kalij)

Jika sebelumnya kita sudah membahas tiga poin tentang nilai-nilai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang ada dalam al-Qur'an di sini maka pada artikel berikut akan kita lanjutkan pada poin selanjutnya.

                Keempat. Di sisi Allah perempuan dan laki-laki masing-masing bertanggung jawab atas perbuatan amal shaleh yang mendatangkan pahala dan perbuatan dosa yang menyebabkan hukuman. Konsep ini didasarkan pada Surat An-Nisa (4) ayat 124. Laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan setara di depan hokum. Perempuan yang berbuat salah akan mendapatkan sanksi atas pelanggaran yang telah dilakukannya sebagaimana laki-laki. Keduanya bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan yang berzina mendapat hukuman had [An-Nur (24): 2]. Demikian juga para pencuri, perampok, koruptor, baik laki-laki maupun perempuan akan mendapat sanksi atas kesalahan yang diperbuatnya [Al-Maidah (5): 38].

                Kelima.  Laki-laki dan perempuan diciptakan dari zat yang sama untuk menciptakan kesejahteraan di dunia ini. Ini didasarkan pada Surah An-Nisa (4) ayat 1: kata kholaqokum pada ayat ini dapat diartikan laki-laki dan perempuan bukan hanya laki-laki yang banyak diterjemahkan oleh banyak kalangan. Sedangkan kata “min nafsi wahidah” berarti zat yang satu sedangkan zaujaha berarti pasangan yang berarti laki-laki ataupun perempuan. Qur’an tidak menyebutkan Hawa itu diciptakan dari tulang rusuk Adam yang berdampak inferioritas perempuan.

Dengan berdasar ayat-ayat tersebut maka sebenarnya tidak ada alasan untuk memposisikan laki-laki lebih unggul dan menghasilkan relasi yang subordinasi pada perempuan. Islam yang dipahami oleh muslim dari kalangan moderat dan berkemajuan (termasuk di dalamnya Muhammadiyah, ‘Aisyiyah) terkait dengan penciptaan manusia adalah bahwa manusia baik laki-laki dan perempuan adalah kemuliaan akhlaknya dan juga ketinggian taqwanya. Artinya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang bertaqwa dan juga yang paling baik amal perbuatannya, buka karena jenis kelaminnya (QS Al-Hujarat: 13).

Implementasi konsep relasi yang seimbang di persyarikatan dapat dirasakan oleh warganya. Contoh nyata adalah adanya hak kepemimpinan perempuan di Muhammadiyah. Walaupun secara jumlah masih sedikit karena juga terkait dengan ketersediaan SDM, Muhammadiyah sudah memasukan perempuan dalam kepengurusan Muhammadiyah. Bahkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah memasukan salah satu ketua di PPM adalah perempuan. Bentuk relasi seimbang lainnya adalah yang umum  dapat dilihat adalah hamper di setiap acara persyarikatan didesain tempat duduk kelompok perempuan tidak di belakang laki-laki tetapi disamping kelompok bapak-bapak. Semoga saja konsep relasi seimbang laki-laki dan perempuan yang sudah diputuskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah dapat lebih banyak lagi dirasakan dampaknya di masyarakat.

Oleh: Alimatul Qibtiyah, Ph.D
*Ketua LPP Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, anggota MTTP PP Muhammadiyah dan Dosen KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta