Muhammadiyah Di Hadapan Semesta

10 Agustus 2019 13:10 WIB | dibaca 192 | oleh: Aan (Jurnalis Web Muhammadiyah)

Dalam hitungan hijriyah, tepat pada hari ini 8 Dzulhijjah 1440 H, Muhammadiyah genap berusia 110 tahun. Organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau dalam kalender Masehi 18 November 1912. Sejak awal berdirinya Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan penghalau ajaran Tahayyul, Bid’ah dan Churafat (TBC). Anti TBC kemudian menjadi simbol pemersatu gerakan ini, meski terjadi banyak pertentangan dan perlawanan. Namun gerakan anti TBC yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dan organisasi Muhammadiyah secara perlahan berhasil diterima Umat Islam masa itu, sehingga persebaran Muhammadiyah diterima di berbagai pelosok negeri. Haedar Nashir pada (5/8) mengatakan terkait hal tersebut karena alam pikir Muhammadiyah sudah diterima sebagai alam pikir umum Umat Islam di Indonesia.

Gerakan anti TBC yang dilakukan oleh Muhammadiyah lebih dimaksudkan karena pada masa itu Umat Islam menjalankan ajaran atau ritual yang mencampur-aduk (sinkretis) dengan praktik animisme dan dimanisme. Ritual-ritual yang awalnya hanya sebagai budaya kemudian bergeser menjadi bagian dari ajaran Islam yang tidak boleh ditinggalkan. Sehingga menimbulkan ketergantungan umat Islam tidak lagi kepada Tuhan dan usahanya sendiri. Melainkan keberhasilan dan kegagalan atas usaha yang mereka lakukan digantungkan kepada ritus-ritus nir-ilmiah, berharap kepada pohon beringin, pantai laut kidul dan sejenisnya. Simbol-simbol tersebut dianggap memiliki penunggu yang memiliki otoritas atas berhasil dan tidaknya dari usaha mereka.

Kini, diusianya yang ke-110 tahun. Tugas pemurnian yang diemban oleh Muhammadiyah belum sepenuhnya tuntas. Karena seiring berjalan waktu, TBC (mitos) juga mengalami tranformasi dan berubah kedalam bentuk-bentuk baru. Berkaca pada tema muktamar Muhammadiyah yang akan digelar pada 2020 nanti, Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta. Diskursus atau persoalan tentang mitos kontemporer masih menjadi lahan garap yang ‘kudu’ dituntaskan oleh Muhammadiyah. Meskipun Muhammadiyah lahir pada bagian kedua evolusi pemikiran bangsa Indonesia, yaitu bagian ideologi. Namun tugas Muhammadiyah sebagai penghalau mitos (TBC) tetap harus diperankan dan dijalankan.

Mitos kontemporer yang erat kaitannya dengan komersialisasi, merupakan bagian dari gurita kapitalisme global. Usaha komersialisasi yang dilakukan oleh kelompok kapital menjadikan umat Islam hanya sebagai penikmat, konsumen dan menyebabkan ketertindasan.

Praktik ajaran tersebut menyebabkan ketertinggalan dan ketertindasan umas Islam, maka Muhammadiyah selain melakukan pemurnian ajaran juga merupakan organisasi keagamaan yang memiliki fokus pada gerakan sosial yang sering disebut sebagai gerakan Al Ma’un. Melalui gerakan  Al Ma’un, Muhammadiyah banyak membangun prasarana umum yang bisa digunakan dan bermanfaat. Keberadaan Muhammadiyah sebagai Penolong Kesengsaraan Umum memposisikannya sebagai lawan terdepan terhadap praktik kolonialisme (sekarang,pemodal) masa itu. Di Indonesia kini, Muhammadiyah memiliki 9.415 AUM Pendidikan mulai dari TK sampai SMA, 2.199 AUM Kesehatan, 454 AUM Bidang sosial, dan 176 PTM.

Perputaran kekayaan hanya di kelompok orang-orang kaya harus ‘dilawan’ oleh Muhammadiyah, perlawanan tersebut sebagai perintah dalam Al Qur’an surat al Hasyr ayat (59: 7). Maka bagian kalimat kedua dari tema muktamar ke 48, ‘Mencerahkan Semesta’ Muhammadiyah harus siap dengan konsekuensi dari perintah tersebut. Sebagai perintah yang harus dijalankan, tentu dalam ukuran semesta perjuangan Muhammadiyah membutuhkan energi atau daya yang lebih besar lagi.

Menuju cita-cita besar dari tema Muktamar ke-48, saat ini Muhammadiyah sudah memiliki beberapa Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang tersebar di berbagai negara. Keberadaan PCIM di negara-negara tersebut memiliki kegiatan, termasuk diantarnya adalah menyelengarakan pendidikan, baik TK ataupun sekolah. Selain itu Muhammadiyah juga mulai membangun Perguruan Tinggi (PTM) di beberapa negara, diantaranya Malaysia dan Australia. Langkah strategis yang dilakukan merupakan usaha sebagai suluh pencerahan Muhammadiyah terhadap semesta. Dipilihnya penyebaran bidang pendidikan karena Muhammadiyah meyakini bahwa, pola pendidikan yang diajarkan oleh Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan yang menggabungkan antara religiusitas dan berkemajuan sebagai solusi atas persoalan manusia saat ini yang berada pada era distrubsi (Haedar, 8/8).

Selain pendidikan, aksi kemanusiaanyang dijalankan oleh Muhammadiyah juga telah mendunia. Aksi tanggap bencana, baik alam maupun kemanusiaan yang diperankan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) banyak menginspirasi banyak pihak. Melalui program Muhammadiyah-Aid, berhasil menyentuh daerah-daerah rawan konflik salah satunya di Rakhine State, Myanmar. Disana bukan hanya memberikan bantuan berbentuk Ad hoc, melainkan juga bantuan yang diberikan dalam bentuk pemberdayaan berkelanjutan (sustainable empowerment), seperti pembangunan pasar, balai pelatihan, sekolah dan sarana umum lainnyaDari aksi tersebut Muhammadiyah berhasil mengorbitkan tokohnya ke kancah dunia, misalnya Rahmawati Husein, wakil Ketua MDMC tersebut terpilih untuk memegang jabatan dalam Dewan Pengarah Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Dana Tanggap Darurat Global (Advisory Group United Nation Central Emergency Response Fund/AG UNCERF). Rahmawati menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia dan bersama dengan 19 orang lainnya yang ditunjuk oleh Sekjen PBB. (a’n)