Mengakhiri Stanting : Membangun Generasi Kuat dan Cerdas

14 Desember 2017 18:52 WIB | dibaca 431 | oleh: Tri Hastuti Nur Rohimah (Sekretaris Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

Republik ini sudah merdeka selama 72 tahun. Namun sungguh ironis dikarenakan sampai detik ini kita masih dihadapkan pada masalah stunting terutama pada anak-anak. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hak dasar manusia untuk hidup sejahtera tidak terpenuhi dan tyerabaikan; apalagi anak-anak adalah generasi masa depan yang akan meneruskan dan membangun negeri ini. Dampak dari stunting yang paling membahayakan adalah terjadinya kematian pada bayi. Tentu hal ini merupakan bentuk pelanggaran pada hak anak khususnya hak hidup anak. Dampak yang lain adalah pada pertumbuhan anak baik secara fisik (pertumbuhan badan) maupun pertumbuhan otak yaitu daya pikirnya (kognitif) serta rentan sakit di masa depannya. Pertumbuhan kognitif yang tidak sempurna karena stunting akan berdampak pada rendahnya kualitas hidup seseorang. Lalu apakah stunting itu? Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gisi yang kurang dalam kurun waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gisi. Stunting menunjukkan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gisi kronis.

Data menunjukkan bahwa Indonesiamenduduki posisi ke 17 dari 117 negara terkait dengan permasalahan gizi ini. Angka stunting di Indoensia lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand. Data prevalensi stunting di Indonesia pada 2016 masih sebesar 27,5%; dengan presentase tertinggi berada di propinsi NTT dan Sulawesi Tenggara. Sementara jika dilihat dari kategori pulau, presentase gizi buruk yaitu meenunjukkan Maluku dan Papua 10,20%, Kalimantan 7,25%, Sumatera 6,38%, Sulawesi 6,46%, Bali dan Nusa Tenggara 6,93% dan Jawa Sebesar 4,08%.

Kenyataan in sungguh memprihatinkan di tengah gencarnya pelaksanaan pembangunan yang bertujuan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia. Artinya masih besar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua warga negara Indonesia; salah satunya dalam upaya mencegah terjadinya stunting. Terkait dengan kebijakan stunting ini, pemerintah Indoensia telah menandatangani kesepakatan SDGs dengan dua tujuan terkait dengan pencegahan stunting. Pada tujuan 1 adalah mengakhiri kelaparan dan memastikan adanya akses bagi seluruh rakyat, khususnya mereka yang miskin dan berada dalam situasi rentan, termasuk bayi, terhadap pangan yang aman, bernutrisi dan berkecukupan sepanjang tahun; dan pada goal yang lain adlaah mengakhiri segala macam bentuk malnutrisi. gizi buruk dan penelantaran pada anak balita, dan mangatasi kebutuhan nutrisi untuk para remaja putri, ibu hamil dan menyusui dan manula. Kesepakatan tersbut, oleh pemerintah dituangkan dan program 1000 Hari Kehidupan Pertama.

'Aisyiyah yang sejak kelahirannya memiliki komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam strategi dakwahnya telah melakukan upaya dalam strategi dakwahnya telah melakukan upaya-upaya pengurangan stunting melalui berbagai program yang telah dilaksanakan baik melakukan edukasi di komunitas maupun melakukan advokasi alokasi anggaran pemerintah kabupaten dan desa untuk mencegah stunting. Inovasi-inovasi program 'Aisyiyah dalam gerakan pencegahan dan penurunan angka stunting, merupakan implementasi gerakan praksis 'Aisyiyah dalam gerakan pencegahan dan penurunan angka stunting, merupakan implementasi gerakan praksis 'Aisyyiah yang dilandasi oleh nilai-nilai theologis dalam al-Qur'an. Anjuran untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah seperti ditegaskan dalam Q.S. An Nisa:9 yang menyatakan "Hendakanya mereka takut jangan sampai meninggalkan anak keturunan yang lemah di belakanganya, dikhawatirkan akan sengsara, sebab itu hendaklah mereka patuh kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar," (Q.S. An-Nisa: 9). Ayat ini menegaskan bahwa setiap keluarga harus memprihatikan kebutuhan gizi anaknya sehingga mereka akan menjadi generasi yang kuat dan cerdas. Jangan sampai nkeluarga menelantarkan anaknya dan tidak memperhatikan kebutuhan gisi anak-anaknya.

Berbicara tentang gizi, salah satu hal yang sangat oenting adlah ASI. Islam telh mengajarkan agar ibu memberikan ASI baik IMD, ASI Eksklusif 6 ulan maupun menyusui selama 2 tahun. ASI adalah gisi terbaik bagi anak-anak untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan mencegah terjadi stunting.

Landasan teologis sebagaimana terdapat dalam Q.S Al-Bawarah: 233 ini menjadi dasar bagi 'Aisyiyah dalam melakukan gerakan pencegahan dan penurunan stunting. Sebagai wujud dari gerakan tersebutr, 'Aisyiyah mengembangkan Rumah Gizi melalui Balai Sakinah 'Aisyiyah di komunitas untuk melakukan edukasi, melakukan gerakan ketahanan pangan dan mendorong alokasi dana desa dan kebijakan untuk pemenuhan gizi baik untuk kelompok ibu hamil, bayi dan balita, remaja maupun lansia. 'Aisyiyah terus mendorong agar pemerintah di berbagai level pimpinan bersinergi dengan berbagi pihak untuk mengakhiri stunting.