Makna Filosofi Klepon

23 Juli 2020 13:44 WIB | dibaca 211 | oleh: Dra. Shoimah Kastolani (Ketua PP 'Aisyiyah)

Akhir-akhir ini kita sangat prihatin karena media sosial diramaikan dengan tuduhan ada makanan yang tidak Islami. Menandai kita kurang dewasa dalam beragama yang hanya melihat dari simbol-simbol saja. Misalnya ada tuduhan klepon dengan parutan kelapa yang putih itu bagaikan salju, yang itu adalah lambang agama lain. Padahal diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda, yang artinya

Sesungguhnya agama itu mudah. Siapapun yang mempersulit dan membuatnya berat akan ditinggalkan oleh agama itu. Maka luruskanlah, carilah alternatif yang memudahkan dan menyenangkan.”

Anehnya kitapun dalam menanggapi meme tersebut, klepon tidak Islami juga kurang beretika dalam bermedsos. Justru lebih melecehkan agama Islam lagi. Memang perlu kita berhati-hati dalam bermedsos. Mari kita mencoba mengambil makna filosofi klepon tersebut.

Klepon adalah bagian dari jajan pasar yang sarat dengan nilai-nilai yang bijak. Dari sisi bahan, klepon terbuat dari beras ketan yang sangat lengket. Hal ini menunjukkan kalau dicampur pastilah saling menempel, seperti kita menempel kepada orang yang kita sayangi. Artinya, sebetulnya kita itu harus saling menyayangi.

Bentuk klepon seperti bulatan-bulatan sederhana yang terkadang bulatan tidak rata. Begitupun hidup kita dalam berjalan tidak benar-benar lurus, pasti ada ketidaksempurnaan. Bulatan tadi diberi warna dari daun suji. Dalam bahasa jawa amesu amung siji; menyembah hanya kepada yang  satu.

Warna hijau artinya kehidupan. Maka maknanya hidup memang harus menyembah Allah Yang Maha Esa. Laa tusyrik billah. Gula yang tersembunyi di dalam, di tengah klepon tersebut adalah gula jawa ataupun gula aren yang rasanya manis melambangkan pentingnya dia memiliki kebaikan hati walaupun tak terlihat dari luar. Kebaikan hati itu akan dirasakan oleh orang lain sangat manis. Belum lagi jika yang membuat seorang ibu yang lebih telaten, bertenagakuat maka pertanda bahwa komposisi kehidupan bukan hanya dari materi saja tetapi membutuhkan kelembutan dan ketegaran.

Dari segi memasaknya, klepon dipanaskan di air yang mendidih kemudian di dalam panci dalam waktu lama. Kemudian mengapung ke atas tanda masak. Ini mengisyaratkan sebuah kehidupan, orang yang sukses akan berada di bawah dahulu sampai posisi kesuksesan, kita harus berproses terlebih dahulu, bekerja keras untuk meraih kesuksesan.

Penyajian klepon pun tidak bisa disajikan secara tunggal atau sendiri, pasti bersama-sama dengan klepon-klepon lainnya. Misalnya satu lingkaran daun kecil yang dibuat dari daun pisang atau orang Jawa menyebutnya sudi, isinya tiga atau lima butir klepon. Maknanya kita hidup itu harus hidup bermasyarakat. Tidak hidup sendiri, tidak boleh egois, karena kita juga harus memikirkan orang lain.

Agar tidak lengket, harus ada parutan atau baluran kelapa. Kelapa itu sendiri, untuk mendapatkan dagingnya yang lembut harus melalui kulitnya yang keras. Manusia memang harus melewati tahapan hidup. Tekstur klepon memang kenyal tapi kemudian terasa manis di dalamnya. Itu adalah pertanda, di kehidupan ini kadang-kadang berliku tetapi akan terasa indah pada waktunya.

Kesimpulannya, klepon itu lambang kesederhanaan, kelembutan, kesabaran, keuletan dan ketelitian. Tetapi ada rasa tersembunyi adalah lambang kesyukuran. Jangan sempit memaknai klepon tidak Islami. Makanan itu adalah halal, apalagi kalau bahannya halal. Sejak kapan makanan memiliki agama sehingga dituduh tidak syar’i. mari kita petik nilai-nilai yang bijak dari klepon tadi. Islam mengajarkan kepada kita undzur ma qola, wa la tandzur man qola; lihatlah isi pembicaraan atau ajarannya, jangan melihat siapa yang berbicara atau memberikan pelajarannya. Dan kepada pedagang jika akan beriklan, dianjurkan untuk menempuh dengan cara yang baik, legal, tanpa menjatuhkan yang lain.