Komitmen 'Aisyiyah Merawat Bumi

31 Agustus 2017 20:26 WIB | dibaca 353 | oleh: Tri Hastuti Nur R (Sekretaris Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

 

Komitmen ‘Aisyiyah Merawat Bumi
Oleh : Tri Hastuti Nur R

 

Kalimat yang menyatakan bahwa bumi ini bukanlah warisan nenek moyang kita namun titipan anak cucu kita. Pernyataan tersebut mengandung makna yang dalam bahwa kekayaan alam, laut, gunung, sungai, udara, flora fauna dan kekayaan lain yang terkandung di muka bumi harus dijaga kelestariannya. Al Quran Surah  Al-Baqarah : 30 memberikan petunjuk dan sekaligus perintah kepada manusia pentingnya peran manusia dalam menjaga bumi yaitu “Dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada Malaikat sesungguhnya Aku akan mengangkat manusia sebagai Khalifah di muka bumi, apakah engkau akan mengangkat orang yang selalau berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami selalu bertasbih, memujiMu dan mengkuduskan namaMu Allah berfirman “Sungguh aku sangat mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Ayat di atas menjadi peringatan bagi manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi baik terkait dengan urusan dengan manusia lain maupun dengan bumi dan seisinya.

 

Namun peringatan atas tugas menjaga bumi ini, nampaknya belum cukup sakti untuk menjadi kalimat pengingat bagi manusia akan pentingnya menjaga lingkungan alam baik udara, flora fauna maupun isi bumi (gas, mineral) dan sebagainya. Berbagai kejadian bencana alam yang terjadi seperti banjir di berbagai daerah di Indonesia, kebakaran hutan khususnya di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, tanah longsor; terjadi dikarenakan ulah manusia yang tidak menjaga alam dan bahkan merusaknya.

 

Beberapa tindakan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan seperti menebang hutan secara massif yang tidak segera dimbangi dengan penanaman pohon kembali, mambakar hutan, membuang sampah di sungai sehingga menyebabkan air sungai penuh sampah, kotor dan banjir, membunuh fauna yang dilindungi,; buang air besar tidak di WC tertutup, mengeksplotasi kekayaan laut, mengeksploitasi sumber kekayaan alam tanpa kenal batas. Perilaku manusia yang tidak peduli dengan alam, yang menganggap alam adalah obyek yang layak untuk dieksplotasi secara habis-habisan, merupakan jiwa-jiwa manusia yang serakah dan lupa akan tugas sucinya sebagai khalifah yang harus menjaga dan memakmurkan bumi. Dikarenakan menuruti nafsu serakah untuk menguasai alam, manusia bertindak semena-mena terhadap alam, sehingga ekosistem darat, laut dan udara terganggu. Dampaknya adalah kerusakan alam yang akan membahayakan keselamatan manusia; dan kehidupan generasi yang akan datang.

 

Al Quran Surah Ar-Rum ayat 41 telah memperingatkan pada manusia akan dampak jika manusia tidak menjaga bumi yang telah diamanahkan padanya yaitu “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. Ayat ini mengisyaratkan dan sekaligus peringatan kepada manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan; dan jika tidak dijaga maka akan berdampak pada kerugian manusia sendiri.

 

Sebagai warga bumi, maka menjaga kelestarian lingkungan, merawat bumi yang telah memberikan kelangsungan hidup manusia merupakan kewajiban kita sebagai manusia sebagai khalifah di bumi.  Hal-hal sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian alam adalah dengan tidak membuang sampah di sungai sehingga sungai tetap terjaga kebersihannya; sampah tidak menumpuk di sungai sehingga menyebabkan banjir, menanami lahan kosong dengan tanaman yang bermanfaat sehingga tidak terjadi longsor, menaman pohon di sekitar rumah sehingga udara segar dapat dihirup dengan baik, tidak menebang pohon sembarangan dan juga merawat laut yang telah menyediakan berbagai sumber kehidupan untuk manusia. Mari merawat bumi sebagai bagian tugas kemanusian kita.

 

* Dikutip dari Tajuk Rencana majalah Suara 'Aisyiyah - September 2017