Kepemimpinan Transformatif

04 Maret 2017 13:34 WIB | dibaca 703 | oleh: Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si (Sekretaris Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

Kepemimpinan merupakan faktor penting yang akan menentukan keberhasilan sebuah organisasi apapun dalam mencapai visi dan misinya. Banyak kasus organisasi baik organisasi massa, perusahaan, daerah ataupun negara yang dipimpin oleh pimpinan yang kuat dan visioner akan mampu membawa organisasi tersebut pada “kebesaran” dan membawa manfaat bagi banyak pihak. Fakta menunjukkan banyak daerah yang dipimpin oleh kepala daerah yang visioner dan berorientasi pada rakyat maka daerahnya maju dan berkembang; sebagai misal kota Surabaya, kabupaten Bojonegoro, kota Bandung maupun kabupaten Banyuwangi menunjukkan hal tersebut. Daerahnya berkembang baik dan rakyatnya lebih sejahtera. Demikian halnya dalam mengelola organisasi massa seperti ‘Aisyiyah, elemen kepemimpinan merupakan elemen yang penting dalam menggerakan organisasi untuk mencapai visi dan misi organisasi. Pimpinan-pimpinan organisasi mulai dari ranting, cabang, daerah, wilayah dan nasional yang visioner, penuh komitmen pada organisasi, mampu menggerakkan sumberdaya yang ada  maka nampak dari dinamika organisasi, inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh organisasi, tumbuh dan kuatnya cabang ranting dan amal usaha serta besarnya kontribusi organisasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Pentingnya peran dan posisi kepemimpinan dalam menggerakan roda organisasi, ‘Aisyiyah dalam Pokok-Pokok Pikiran Aisyiyah Abad Kedua secara jelas tertulis tentang kepemimpinan transformatif. Kepemimpinan transformatif adalah kepemimpinan untuk perubahan yang mampu memobilisasi seluruh potensi, mangagendakan perubahan, dan  memproyeksikan  masa depan menuju kemajuan dan keunggulan. Kepemimpinan model transformatif tersebut sejalan dengan spirit Islam dan uswah hasanah Nabi yang membawa perubahan sebagai jalan  kemajuan sepanjang kemauan ajaran Islam untuk membangun peradaban yang utama. Fungsi kepemimpinan transformatif dalam ‘Aisyiyah akan mampu membawa ‘Aisyiyah menjadi lebih dinamis dan inovatif dalam mengembangkan dakwah pencerahan melalui amal usaha dan program-program praksis untuk pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan kehidupan umat  dan  bangsa.

Kepemimpinan ‘Aisyiyah  dalam memasuki abad kedua memang memerlukan peran-peran transformasional sebagai jalan dinamis mewujudkan misi dakwah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 104.Secara tegas dalam QS Ali Imron ayat 104, menekankan bahwa ada “kewajiban” bagi setiap manusia untuk berbuat baik pada yang lainnya :“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung “. Kepemimpinan yang transformatif di organisasi termasuk ‘Aisyiyah menghendaki sikap, perilaku dan kemampuan (kompetensi) untuk menggerakan organisasi dalam rangka melakukan dakwah amar maruf nahi mungkar. Pemimpin transformatifbukanlah penguasa yang minta dilayani, tapi justru memiliki kewajiban untuk melayani orang lain, melayani masyarakat dikarenakan posisinya. Pemimpin bukanlah jabatan yang dikejar-kejar dan diminta namun ada berbagai peran dan kewajiban yang harus dijalankan sebagai pemimpin. Terkait dengan kepemimpinan ini, Hadist Rasul yang diriwayatkan oleh HR Muslim meriwayatkan sebagai berikut :“Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah, sedangkan tugas itu adalah amanah, dan pada hari kiamathal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik (H.R. Muslim No.1725)”. Untuk menjalankan tugas sebagai pemimpin, maka pemimpin haruslah memiliki kemampuan menggerakan sumberdaya orgaisasi terutama sumberdaya manusia untuk bekerja bersama untuk mencapai tujuan organisasi dan melakukan dakwah amar maruf nahi mungkar. Mengutip Dave Ulrich bagaimana kepemimpinan yang berhasil merupakan sebagai perkalian antara kredibilitas dan kemampuan. Kredibilitas terkait dengan ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi, sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dipercaya baik koleganya, anggotanya maupun oleh lingkungannya; sedangkan kemampuan adalah kemampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpinannya.

Kepemimpinan transformatif membutuhkan keteladanan dan kerja-kerja nyata bagi organisasi dan masyarakat bukan hanya ceramah dan perintah. Seorang pemimpin tidak sekedar hanya memberikan instruksi kepada kolega dan anggotanya namun memberikan keteladanan dan mampu menggerakan anggota-anggotanya untuk bekerja mendukung capaian visi misi organisasi. Keteladanan pemimpin menjadi sangat penting dikarenakan keteladanan lebih dahsyat dari kata-kata. Bahkan dalam Islam sendiri seorang pemimpin yang baik dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin sebaiknya memiliki sifat-sifat (1) siddiq (jujur) atau dapat dipercaya;(2) tabligh (penyampai) atau memiliki kemampuan berkomunikasi; (3)amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya; (4)fathanah (cerdas) mengelola organisasi dan memiliki inovasi-inovasi. Terkait dengan kepemimpinan transformative ini, terdapat 9 kharakter pimpinan Aisyiyah yang transformatif yaitu (1) berpaham Islam yang Berkemajuan (2) iklas, jujur dan amanah(3) cerdas dan berilmu (4) moderat dan bijaksana(5) etos kerja tinggi, disiplin dan produktif (6) adil dan memuliakan manusia (7)berjiwa Al Maun (8)gemar beramal dan berusaha; dan (9)berorganisasi dan kerjasama

Kharakter dan kemampuan kepemimpinan tersebut akan menjadi modal dalam menggerakan roda organisasi. Sebagai organisasi kader maka setiap kader Aisyiyah adalah pemimpin. Kepemimpinannya ini akan memberikan manfaat yang luas dalam masyarakat; dikarenakan semua kolega dan anggota-anggota merasakan kehadirannya sebagai pemimpin organisasi. Pemimpin transformatif merupakan agen perubahan yang akan mampu menggerakan roda organisasi sehingga dinamis dan membawa perubahan yang lebih baik untuk masyarakat dan daerahnya. Kepemimpinan yang transformatif memiliki kemampuan managerial mengelola organisasi termasuk menggerakkan pemimpin-pemimpin (kolega) dalam organisasi, termasuk pimpinan organisasi di bawahnya. Pemimpin yang transformatif memiliki kemampuan melakukan analisis berbagai masalah yang cukup kompleks di masyarakat dan berperan sebagai agen perubahan social dalam memberikan kontribusi menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya.

Perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki menjadi pemimpin; dan menjadi agen-agen perubahan sosial. Tidak ada larangan bagi perempuan menjadi pemimpin. Dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di muka bumi ini. Bahwa ada kesamaan antara laki-laki dan perempuan; dan hanya laki-laki perempuan hanya dibedakan berdasarkan pada kualitas iman dan amal sholehnya; yang telah disebutkan dalam QS An Nahl : 97 : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “.

Terkait dengan tugas kepemimpinan memakmurkan bumi ini, maka menghadapi berbagai tantangan masa depan, ‘Aisyiyah terus memperkuat kepemimpinan di berbagai level pimpinan dari ranting sampai dengan pusat; dan mendorong kader-kadernya untuk terlibat aktif sebagai pemimpin-pemimpin di berbagai level pengambilan keputusan publik. Kader-kader Aisyiyah dimanapun harus mewarnai dan menjadi agen-agen perubahan sosial yang menggerakan masyarakat untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk umat dan masyarakat. Untuk menggerakan masyarakat, pemimpin yang transformatif harus mampu meyakinkan kepada anggota-anggotanya dan masyarakat bahwa ide-idenya membawa manfaat bagi masyarakat. Dalam menggerakan harus diiikuti dengan keteladanan, tidak sekedar instruksi dan ceramah, namun bekerja bersama dengan prinsip saling menghargai.

 

Sumber : Tajuk Rencana Suara 'Aisyiyah Edisi Maret 2017