Kemajemukan Berbangsa Meniscayakan Kearifan Kolektif

23 Agustus 2019 16:48 WIB | dibaca 164 | oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

 
OlehKetua Umum PP MuhammadiyahHaedar Nashir
 
Indonesia adalah  bangsa dan negara yang majemuk dalam hal pemeluk agama, suku bangsa, ras, kedaerahan, golongan, bahkan lokasi geografis. Bhineka Tunggal Ika selain telah menjadi idiom dan alam pikiran kolektif dalam kehidupan keindonesiaan, juga menjadi identitas dan rujukan sikap berbangsa yang menggambarkan mozaik kearifan dari realitas kemajemukan di tubuh bangsa Indonesia. Kemajemukan itulah yang telah menjadikan Indonesia kokoh sebagai negara-bangsa karena disangga secara bersama-sama.
 
Dengan spirit Bhineka Tunggal Ika bangsa Indonesia dapat melewati gesekan dan masalah SARA (suku, agama, ras, dan golongan)  dari masa ke masa, meskipun melalui pengalaman dan proses yang penuh pergumulan dan pengorbanan dari semua komponen bangsa.
 
Karenanya setiap warga bangsa siapapun dia, baik secara individu maupun kolektif, penting menyadari dan menghayati betul makna kemajemukan ini. Bahwa masyarakat Indonesia itu sungguh beragam dan dapat hidup dalam keragaman.
 
Jangan pernah merasa hidup sendiri di Republik inui. Manakala hakikat kemajemukan tersebut diabaikan dan tidak dipahami secara seksama akan muncul pernyataan, ujaran, sikap, dan tindakan yang tidak semestinya yang akan menyinggung dan mengganggu suasana kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sehingga lahir masalah dan keresahan sosial. Kita perlu belajar dari sejar