Kedewasaan Berpolitik

28 Desember 2018 10:35 WIB | dibaca 180 | oleh: Tri Hastuti Nur R (Sekretaris Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

 

Pemilu merupakan salah satu momentum penting dalam proses demokrasi yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Pemilu tahun 2019 memakan biaya sebesar 24,9 triliun untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, legislatif (pusat, propinsi dan daerah) serta DPD. Hasil yang diharapkan dari sebuah proses demokrasi ini adalah tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara adil dan merata. Demokrasi tidak hanya berhenti pada tata cara (prosedur) bahwa pemilihan umum telah dilaksanakan dan berhasil memilih pasangan presiden dan wakil presiden, anggota legislatif dan DPD; namun para kandidat terpilih memiliki amanah dan tanggungjawab untuk menyejahterakan seluruh komponen bangsa. Jangan sampai “pesta demokrasi” usai, presiden dan wakil presiden sudah terpilih, legislatif dan DPD terpilih namun kehidupan rakyat tidak beranjak menuju kesejahteraan.

Ada fenomena yang cukup menggelisahkan terkait dengan proses pemilu 2019; jika tidak segera diantisipasi, yaitu dengan terbelahnya masyarakat (polarisasi) antara pendukung pasangan pertama dan pasangan kedua. Apalagi dengan semakin maraknya perkembangan berita hoax di media sosial, dan masyarakat tidak kritis akan berita-berita hoax yang tersebar. Rata-rata setiap hari ada 1500 berita hoax di media sosial. Bahkan pasca Bawaslu dan KPU menetapkan jadwal kampanye bulan Oktober 2018, berdasarkan catatan Polri, terdapat 3500 berita hoax yang tersebar di media sosial terutama tentang pilpres dan pileg. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat bahwa terdapat 90 daerah yang berpotensi menjadi sasaran kampanye hitam dengan menggunakan isu SARA (suku, agama, ras) pada Pemilu 2019. Kampanye hitam ini ada unsur menghina kelompok lain (kandidat lain) termasuk dengan menggunakan isu SARA.

Jika pada pemilihan umum tahun-tahun sebelumnya penggunaan isu SARA, atau bentuk-bentuk kampanye hitam yang lain sudah saling dilakukan, maka pada Pemilu 2019 ini, kondisi ini lebih massif dengan kehadiran media sosial dengan beragam platform dan meningkatkan kepemilikan akun media sosial. Salah satu tantangan besar dalam mengawal pemilihan umum yang adil dan jujur serta damai dalam Pemilu 2019 ini adalah meningkatkan penggunaan media sosial untuk menyebarkan berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech) yang sangat berpotensi menggangu kedamaian, menganggu keamanan, menimbulkan keresahan dan  menyebabkan masyarakat kita terbelah dalam kubu-kubu pendukung. Fenomena ini tentu sangat meresahkan kita sebagai warga bangsa yang mendambakan kedamaian dan persatuan bangsa dengan terus berproses membangun demokrasi menuju masyarakat yang sejahtera.

Menyikapi kondisi tersebut, maka para kandidat dan juga pendukung-pendukung, elit masyarakat, tokoh agama dan tokoh masyarakat janganlah menggunakan politik untuk kepentingan sesaat. Para elit partai politik dan kandidat presiden maupun wakil presiden, diharapkan tidak menggunakan politik untuk ambisi pribadi dan kelompoknya, dan mengeruk kepentingan semata bagi kelompoknya demi kekuasaan. Pemilu 2019 janganlah menjadi arena untuk memecah belah pendukung; jangan sampai bangsa Indonesia terbelah dikarenakan aksi dukung mendukung kandidat dengan mengabaikan etika politik, meninggalkan kesantunan bahkan menyebarkan ujaran-ujaran kebencian yang membuat suasana Pemilu 2019 gaduh dan tidak damai. Para kandidat, elit politik, tokoh-tokoh memiliki peran-peran yang strategis untuk membangun suasana damai Pemilu 2019. Mereka harus merawat bangsa ini bukan memecah belah hanya untuk kepentingan kekuasaan; dan bahkan menggunakan isu SARA dan mengumbar ujaran kebencian untuk mendapatkan dukungan masyarakat (pendukung). Bagaimanapun kebhinekaan yang telah kita jaga dan kita tumbuhkan sejak tahun 1928 tercabik-cabik dikarenakan Pemilu 2019. Kemerdekaan negara ini dibangun dengan fondasi kebhinekaan. Janganlah dikarenakan perbedaan pandangan politik bangsa kita akan terpecah belah. Mari mengawal Pemilu 2019 secara damai, dengan menggunakan etika politik, semoga menghasilkan pimpinan-pimpinan yang amanah dan dapat dipercaya untuk mengelola negara ini menuju negara yang sejahtera dan medapatkan keberkahan dari Allah.