Fenomena Lagu Anak-anak Era Digital

11 Januari 2017 15:06 WIB | dibaca 635 | oleh: Barokatussolihah, S.Ag. M. SI. (Ketua Lembaga Kebudayaan PDA Kulon Progo)

Foto: Dokumentasi TK 'Aisyiyah 4 Tebet Saat Lomba Sekolah Sehat (Instagram.com)
 
Tentu masih melekat dalam ingatan, akan masa-masa indah dan naturat anak-anak tempo dulu, bagaimana kepolosan anak-anak mendendangkan lagu yang gembira dan lucu.
 
latar belakang yang membawa tulisan ini adalah hal yang memilukan dan memprihatinkan, ketika kita melihat anak-anakkecil di era gawai lebih suka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa daripada lagu anak-anak sesuai usia mereka.
 
seperti yang terjadi suatu hari dalam sebuah acara hajatan, di atas sebuah panggung bersama pemain elekton cukup ternama di wilayah Yogyakarta, anak usia sepuluh tahunan dengan dandanan menor menyanyi dan lincah melenggak-lenggokkan badannya. Yang mengejutkan ketika terdengar beberapa lagu yang bukanlah lagu anak-anak, melainkan lagu pop orang dewasa yang bertemakan rindu, asmara. Tentunya rasa miris ketika melihat realita tersebut.
 
kini lagu anak-anak mungkin sangat sepele bagi kita, namun apakah kita tahu manfaatnya, yaitu menjadi pengiring kita tahu manfaatnya, yaitu menjadi pengiring kita menuju sebuah kedewasaan dan kematangan secara normal. Dan ternyata lagu anak-anak memberikan kita semangat hidup dan perilaku sebagai seorang anak kecil yang normal.
 
saya sependapat bahwa melalui lagu anak-anak dapat diajarkan bagaimana mereka mengetahui sejarah, cerita patriotisme, nilai-nilai keagamaan, kasih orang tua, kepatuhan, kesopanan dan pendidikan di sekitar mereka.
 
Karena konsumsi musik yang tidak sesuai dengan usia anak akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Sebagaimana ungkapan Waluyo Hadi pada bukunya "Pendidikan Seni Musik Sebagai Upaya Menumbuhkan Daya Estetika Anak" yang mengatakan bahwa "ada korelasi antara pendidikan musik pada awal pertumbuhan anak dengan tingkat kecerdasan dan kepribadian anak". ( Waluyo Hadi 2004:37).
 
Fenomena yang terjadi
 
Kemanakah lagu anak-anak itu sekarang? Sebuah fakta dan realita terjadi dengan semakin menjamurnya dunia musik nusantara saat ini, khususnya dengan munculnya puluhan atau bahkan ratusan band anak muda dengan beraneka macam aliran dan ratusan judul lagu yang menarik. 
Satu sisi hal ini sangat membanggakan terkait kreativitas kompetensi anak muda yang senang musik. Semakin hari kian meningkat bagai jamur tumbuh di musim penghujan, sedangkan produksi blantika musik dewasa secara ekonomis lebih menguntungkan bahkan emmenuhi selera pasar.
Anak-anak saat ini lebih hafal dan lebih mengenal lagu-lagu orang dewasa karena hampir setiap saat mereka mendengar dan menyaksikan. mereka tidak lagi tahu dan mengenal lagu anak-anak. padahal banyak lagu-lagu dewasa yang dinyanyikan oleh anak-anak, sedangkan lagu tersebut kurang cocok atau bahkan tidak pantas dinyanyikan anak-anak.
 
Contoh di sebuah acara, anak menyanyikan lagu Selimut Tetangga, Selingkuh, Memili Setia dan sejenisnya. Sementara seusia mereka tentu lebih bagus bila menyanyikan lagu-lagu kanak-kanak seperti Bintang Kecil (Cipt. Daljono), Balonku, Bangun Tidur, Burung Kakak Tua, Cik Cik Periuk, Cemara, Tukang Pos, Tupai (Cipt. AT Mahmud) Niana Bobo, Kasih Ibu, Naik Delman, Tik Tik Bunyi Hujan, Menanam Jagung (Cipt. Ibu Sud), Dua Mata Saya, Topi Saya Bundar, Selamat Ulang Tahun, Selamat Pagi Bu Guru (Cip. Pak Kasur), Trio Kwek Kwek, Joshua, atau Lagu Dolanan (Jawa) Seperti Cublak-cublak Suweng, Suwe ora jamu dan sebagainya. Tetapi lagu-lagu tersebut tidak pernah terdengar di era gawai ini.
 
Merunut dari pertanyaan diatas, dapat dikatakan semua permasalahan ini menjadi tanggungjawab bersama. Hal ini menjadi dasar bagaimana semua pihak melihat peran serta dan arti penting lagu anak-anak bagi tumbuh kembang mereka. Bukan hanya di sekolah saja tetapi juga di lingkup keluarga serta lingkungan mereka sehari-hari.
Harapan kita semua, mudah-mudahan lagu anak-anak tidak akan hilang. Kepedulian dan peran serta semua pihak seperti pemerintah, pihak sekolah, pihak dunia hiburan dan mendia cetak maupun elektronik untuk secara bersama-sama memerhatikan lagu anak-anak agar kembali hidup dan tidak tinggal cerita kejayaan di masa lalu. Dalam konteks dakwah 'Aisyiyah, gerakan menumbuhkan kembali lagu anak dapat menjadi bagian dari gerakan 'Aisyiyah Cinta Anak.