Dilema Pernikahan Usia Anak. Jatuh Cinta Sebelum Siap Nikah, bolehkah?

01 Agustus 2018 15:10 WIB | dibaca 196 | oleh: Alimatul Qibtiyah, Ph.D (Lembaga Penelitian dan Pengembangan PP 'Aisyiyah)

 

Senang atau menyukai lawan jenis adalah naluri dari Allah SWT. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa yang telah siap menikah, tetapi juga dapat dirasakan oleh anak-anak dan remaja. Zaman sekarang sudah banyak orang yang menikah karena memang mencintainya bahkan sebelum menikah, bukan karena dijodohkan orang tua atau ustadznya yang dikenal dengan istilah cinta ba’da nikah.

Cinta merupakan anugerah dari Allah SWT. Disebutkan dalam QS. Ar-Rum ayat 21 bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan agar merasa tenteram dan bahagia. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 juga disebutkan bahwa Allah menciptakan perempuan dan laki-laki agar saling mengenal. Kedua ayat dari kedua surah tersebut menunjukkan bahwa jatuh cinta atau perasaan cinta lumrah untuk dirasakan karena merupakan salah satu rahmat Allah SWT.

Selain landasan al-Qur’an, ada hadist populer yang berkaitan denfan pengelolaan cinta ini yakni sabda nabi SAW yang ditujukan pada Ali bib Abi Thalib,

“Janganlah mengikutkan pandangan dengan pandangan, karena pandangan pertama ditoleransi bagimu dan tidak untuk selainnya” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan At-Tirmidzi melalui Buraidah)

Hadist ini juga popular dengan singkatan “pandangan pertama nikmat dan pandangan kedua laknat”. Artinya adalah pandangan pertama tersebut nikmat atau ditoleransi. Juga menunjukkan bahwa jatuh cinta adalah hal yang normal. Pandangan kedua laknat berarti pandangan yang mengarah pada nafsu yang dilarang oleh agama. Namun, bagaimana jika pandangan kedua, ketiga dan seterusnya tidak disertai dengan nafsu atau tidak dikhawatirkan menimbulkan rangsangan birahi? Secara substantif hal itu tidak masalah. Poin dari hadist ini adalah bagaimana mengelola pandangan agar tidak sampai dilaknat.

Dalam konsep pendidikan seksualitas ada istilah “I feel and I believe”. Perbedaan antara kenyataan dan nilai adalah aspek penting ketika berbicara nilai dalam pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Pernyataan yang dimulai “apa yang saya yakini (I believe) dan apa yang saya rasakan (I feel)” akan membantu anak atau remaja dalam menghadapi perbedaan antara kenyataan dan nilai yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan yang tepat. Jika merasa gemetar (I feel) saat melihat orang yang disukai itu adalah hal yang normal. Namun yang harus diingat selanjutnya adalah apa yang saya yakini atau ajaran agama yang harus saya pegang teguh (I believe) tidak membolehkan saya ke arah nafsu.

Kedua istilah tersebut harus dibarengi dengan pendidikan seksualitas secara tepat dan benar. Seperti memberikan penjelasan bahwa perempuan yang telah haid dan laki-laki yang telah mimpi basah dapat ‘menciptakan’ manusia baru jika melakukan hubungan layaknya suami-istri. Perlu ditekankan jika sebelum berusia 21 tahun kesehatan reproduksi terutama pada perempuan belum dapat dikatakan sehat dan masih rentan dengan permasalahan reproduksi.

Selain itu, untuk menjadi pasangan suami-istri atau ke arah pernikahan haruslah siap lahir dan batin, siap secara fisik dan mental, juga psikis. Konsep yang mudah disampaikan pada anak-anak atau remaja yang jatuh cinta sebelum siap menikah di antaranya;

Pertama, syahadat: rasa cinta harus dilandasi kematangan diri untuk dapat diungkapkan pada yang disukai secara tepat. Akan lebih indah jika rasa cinta kita ungkapkan pada dzat yang memiliki rasa cinta. Sampaikan segala apa yang kita rasakan termasuk kegalauan karena jatuh cinta sebelum siap menikah agar terhindar dari perbuatan yang dilarang-Nya.

Kedua, shalat: jadikan rasa cinta sebagai ajang untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya, seperti meningkatkan ibadah yang wajib dan yang sunnah. Berkegiatan positif seperti semakin giat belajar, banyak menolong orang lain, berbagi kebaikan, dan jangan sampai sebaliknya.

Ketiga, zakat: perjuangan dan pengorbanan pada yang dicintai perlu dilakukan dengan cara-cara yang baik. Zakat adalah salah satu caranya.

Keempat, puasa: menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya merupakan wujud nyata ungkapan pada yang dicintai. Dianjurkan berpuasa seperti seseorang yang ingin memperbaiki kualitas-kualitas diri selama menjalani puasa dengan tetap melakukan hal-hal positif.

Kelima, haji: ketika sudah siap seacar fisik, mental, psikis, ekonomi dan sebagainya maka bersegeralah untuk membangun mahligai rumahtangga.

Anak-anak atau remaja yang jatuh cinta namun belum siap menikah harus diajarkan cara berkomunikasi secara asertif. Berani mengungkapkan pikiran, perasaan, hak dan kebutuhan pribadi, memperhatikan dan menghormati pikiran dan perasaan orang lain serta mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Katakan “TIDAK” pada ajakan yang menjurus kemaksiatan, bahkan menjurus pada hubungan suami-istri sebelum menikah, karena hal itu BUKAN tanda CINTA pada seseorang.

Upaya-upaya ini menjadi sangat penting, karena jika kita memilih untuk menikahkan anak akan banyak menimbulkan persoalan. Anak-anak yang seharusnya sekolah dan berproses di masyarakat agar menjadi sosok yang keren, berkarakter, dan visioner akan terhenti jika harus menikah dan memikirkan keluarga sebelum waktunya.

Pernikahan adalah perjanjian yang sakral dan sungguh-sungguh (mitsaqon ghaliza) yang mengedepankan kesadaran berpasangan, rasa kesalingan, dan musyawarah. Hal ini tentu tidak mudah jika tidak diiringi edukasi dan pemahaman perihal pernikahan dan kehidupan berrumahtangga. Dakwah pencerahan dengan pendekatan humanitas yang mengantarkan dan mempersiapkan remaja yang sehat, keluarga yang sakinah harus tetap digerakkan di masyarakat. Semoga tidak lagi banyak pernikahan dini di masyarakat kita, aamiin yaa rabbal’alaamiin.