Akhlak Bermusyawarah

18 Mei 2016 09:42 WIB | dibaca 3671 | oleh: Dra. Hj. Cholifah Syukri (Ketua Majelis Tablig PP ‘Aisyiyah)

 

Oleh : Dra. Hj. Cholifah Syukri, Ketua Majelis Tablig PP ‘Aisyiyah [Artikel pernah diterbitkan di Majalah Suara 'Aisyiyah Edisi Agustus 2015]

Musyawarah berasal dari Bahasa Arab dari kata “syawara” yang berarti “mengeluarkan madu dari lebah”. Makna dari kata ini kemudian berkembang menjadi ‘segala sesuatu yang terkait dengan hal yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain termasuk pendapat’. Menurut ilmu sharf, kata syawara bisa berubah menjadi syaawara dari wazan faa’ala yang mengandung arti ‘saling’, yakni jenis kata yang memiliki pengertian bahwa suatu perbuatan yang dilakukan secara timbal balik. Dari uraian diatas diketahui bahwa musyawarah adalah sekelmpok orang (dua orang atau lebih) yang mengatakan sesuatu atau mengajukan suatu pendapat yang sifatnya dialogis untuk menemukan kata mufakat dalam memecahkan persoalan dan permasalahan.

Dalam proses musyawarah tersebut, semua orang yang berada dalam forum musyawarah seharusnya terlibat untuk mengemukakan pendapatnya. Kebebasan dalam berdialog disini bukan berarti tanpa aturan atau etika karena tujuan musyawarah adalah menemukan dan menentukan pendapat terbaik. Carapenyampaianharus dilakukan dengan baik sehingga dari proses musyawarah yang berlangsung itu dapat diperoleh dan diketahui mana pendapat yang berkualitas dan mana yang tidak. Dalam menyampaikan pendapat harus didasarkan logika, pertimbangan, fakta, dan data.

Urgensi musyawarah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga/rumahtangga, organisasi, kampung hinggatingkat Negara sangat dianjurkan oleh Islam. Musyawarah menjadi sesuatu yang penting untuk dilaksanakan dalam mengatur tata kehidupan.

Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an Surat as-Syura ayat 38 bahwa Allah memerintahkan manusia untuk bermusyawarah: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kamu berikan kepada mereka”.

Musyawarah dalam Islam memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan ibadah wajib yang lain(shalat). Perbedaannya adalah bahwa shalat merupakan ibadah mahdhah (hubungan antara manusia dengan Allah) sementara musyawarah merupakan ibadah muamalah yaitu ibadah yang terkait dengan hubungan sesama manusia. Musyawarah diperlukan untuk mengatasi persoalan masyarakat dan bekerjasama mengenai urusan-urusan penting.

Dalam ayat yang lain perintah bermusyawarah difirmankan oleh Allah Swt dalam al-Qur’an surah Ali Imran ayat 159 yang artinya : “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Setiap organisasi memiliki adat dan kebiasaan dalam pengambilan keputusan sesuai dengan aturan dan tertib organisasi yang telah menjadi kesepakatan bersama. Musyawarah bisa dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi, berdasarkan pada kepentingan bersama dengan semangat kebersamaan dan kejujuran. Tujuan musyawarah adalah untuk mencapai titik temu diantara perbedaan pendapat dalam rangka menerapkan keputusan berasama secara santun dan bersahabat.  Sebagaimana ayat diatas, 3 kata kunci yang menjadi landasan dalam bersikap yaitu : lemah lembut, pemaaf, dan mohon ampunan. Lemah lembut berarti berpendapat secara santun, menghormati semua peserta musyawarah, pemaaf berarti bisa berbeda pendapat dengan orang lain, dan memohon ampunan berarti mengakui bahwa hakekat kebenaran hanya pada Allah Swt.

Menurut Ali bin Abi Thalib ada tujuh hal penting yang terkait dengan musyawarah, yakni mengakomodir pendapat, mengambil kesimpulan yang benar, menjaga adanya khilaf atau kekeliruan, menghindari celaan, menciptakan stabilitas emosi, mengusahakan keterpaduan hati, dan mengikuti atsar.