Akhir Ramadhan Refleksi Insan Bertaqwa

04 Juni 2019 16:18 WIB | dibaca 136 | oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Akhir Ramadhan

 

Refleksi Insan Bertaqwa

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Umat Islam Indonesia insya Allah akan mengakhiri bulan Ramadhan 1440 Hijriyah hari ini Selasa 4 Juni 2019 dan Rabu 5 Juni 2019 akan memasuki Idul Fitri 1 Syawwal 1440 H.  Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengumumkan lebih sebulan yang  lalu mengenai ketetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.  Pemerintah melalui sidang isbat pada Senin malam (3 Juni 2019)  juga telah mengumumkan bahwa Idul Fitri 1440 H jatuh pada hari Rabu 5 Juni 2019.

Berhubung dengan momentum akhir puasa Ramadhan dan jelang Idul Fitri 1450 Hijriyah, maka semua insan beriman yang menunaikan puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan lainnya dapat berefleksi diri. Apakah  semakin bertaqwa sebagaimana tujuan utama berpuasa? Taqwa dalam makna mendalam yakni menjadikan diri sebagai insan yang menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya,  yang membuahkan pencerahan jiwa, pikiran, sikap, ujaran, dan tindakan yang serbautama dalam bingkai akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) dan melahirkan rahmat bagi semesta (rahmatan lil-‘alamin) kapan dan di manapun berada.

Karenanya mari di ujung bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fitri setiap muslim khususnya keluarga besar Muhammadiyah meneguhkan diri sebagai insan bertaqwa dengan mengimplementasikan nilai-nilai Ramadhan dan Idul Fitri sebagai berikut:

Pertama,  mengoptimalkan hari terakhir Ramadhan untuk semakin menguatkan iradah (kehendak) dalam berpuasa  ke tingkat “khusus al-khusus” (puasa qalbu secara otentik dari segala nafsu duniawi ke puncak tauhid yang tinggi) serta menjalankan segala ibadah lainnya sehingga meraih kualitas sebagai insan bertaqwa. Menjadi insan yang kian dekat kepada Allah dalam kerekatan habluminallah serta berbuat ihsan dan amal shaleh dalam interaksi habluminannas. Intinya menjadi insan yang shaleh lahir dan batin, individu dan kolektif, menunjukkan uswah hasanah, dan menebar rahmatan lil-‘alamin hasil puasa dan ibadah Rahamadhan lainnya yang mencerahkan kehidupan.

Kedua, menyiarkan takbir di setiap masjid, mushala, dan tempat lainnya secara khusyuk. Hendaknya kegiatan takbir keliling sebagai bagian dari tradisi yang baik pada setiap mengakhiri Ramadhan dan menyambut Idul Fitri dijadikan syiar Islami yang dilakukan dengan tertib dan semarak disertai edukasi bagi anak-anak dan remaja muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah, meneladani Rasulullah,  menghayati Islam sebagai agama yang luhur dan mencerahkan, berbuat baik kepada kedua orangtua dan sesama, serta menjadi generasi qurrata-‘ayunin(permata hati) dan ulul-albab yang mengembangkan tradisi iqra,  berakhlaq mulia, dan membangun peradaban utama.

Ketiga, Umat Islam yang berhasil dalam puasanya tentu harus mampu menunjukkan kebajikan individual dan  kolektif yang membuahkan kesalehan. Sebagai wujud aktualisasi puasa dalam perilaku taqwa yang berbuah ihsan atau kebajikan utama, maka umat Islam pasca Ramadhan penting untuk memelopori gerakan kesalehan berupa keadaban ihsan di ruang publik. Tunjukkan perilaku ihsan sebagai segala bentuk kebajikan yang melampaui dalam seluruh interaksi sosial muslim baik dengan sesama muslim maupun dengan sesama umat beragama dan warga bangsa yang menebar rahmat bagi semesta.

Keempat, setiap insan muslim mengimplementasikan spirit taqwa, imsak, dan i’tikaf dalam bermedia-sosial dengan menjadikan interaksi sosial-digital itu sebagai sarana silaturahim, ta’aruf, ta’awun,  dan dakwah yang mencerahkan. Melalui medsos sebarkan pesan-pesan kebenaran, kebaikan, kedamaian, kepantasan, persaudaraan, persatuan, ukhuwah,  dan segala pesan-pesan luhur dan mulia  yang melahirkan keadaban dan peradaban utama di ruang publik. Seraya menjauhkan dan tidak menjadikan media sosial sebagai sarana menyebar hoaks, silang sengketa, kebencian, permusuhan, amarah, dendam, ujaran-ujaran buruk, fitnah, tajassus(mencari-cari kesalahan orang),  ghibah atau menggunjing,  memberi label-label burukdan segala hal buruk yang dikembangkan menjadi lumrah dan tanpa tabayun.

Kelima, mewujudkan keshalehan dan ihsan dalam berbangsa dan bernegara dengan memupuk suasana kehidupan yang aman, damai, adil, selamat, toleran, ukhuwah, dan segala hal yang positif sebagai aktualisasi taqwa sehingga insan muslim menjadi uswah hasanah di ruang publik. Tegakkan keadaban mulia dalam kehidupan begbangsa serta jauhkan segala hal negatif yang menyebabkan hilangnya ketenteraman, keutuhan, dan persatuan sesama keluarga bangsa. Tradisi mudik, silaturahmi, dan saling memaafkan dapat dijadikan energi ruhani dan modal sosial bangsa yang mengikat kebersamaan dan kekitaan nan utama.

Keenam, pesan-pesan khatib dan mubaligh dalam khutbah Idul Fitri dan ceramah-ceramah keagamaan hendaknya membawa muatan keislaman yang mencerahkan, mendamaikan, mempersatukan, mencerdaskan, memajukan kehidupan. Bangkitkan ruh iman,  ikhlas, ilmu, ihsan, dan amal shaleh yang membawa keselamatan dan kebahagiaan hidup insan beriman di dunia dan akhirat. Semangat silaturahim dan saling memaafkan yang terkandung dalam ajaran Islam penting dipupuk subur serta diwujudkan menjadi budaya kolektif yang mendamaikan dan mencerahkan kehidupan bersama.

Ketujuh, khusus bagi warga Persyarikatan selain giat meningkatkan ibadah dan taqarrub kepada Allah  hendaknya semakin bersemangat dalam gerakan berilmu, beramal shaleh, dan berdakwah melalui Muhammadiyah menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Semangat amar ma’ruf dan nahyu munkar dilakukan dengan cara yang hikmah, edukasi, dan dialogis  sebagaimana prinsip dakwah yang diperintahkan Allah dan diteladankan Rasulullah. Pegang teguh paham agama yang  bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Nabi yang maqbulah disertai ijtihad sebagaimana Manhaj Tarjih dan perspektif Islam Berkemajuan. Perkokoh Kepribadian, Khittah, dan ideologi serta sistem gerakan sebagai karakter kolektif dan organisasi menuju Muhammadiyah berkemajuan. Tampilkan diri sebagai uswah hasanah di lingkungan umat dan masyarakat luas. Perkuat silaturahmi, toleransi, kebersamaan, dan persaudaraan di tengah dinamika perbedaan sehingga Muhammadiyah tetap utuh, bersatu, dan kuat sebagai organisasi Islam  yang besar dan telah berusia lebih seabad sebagai karunia Allah SWT yang harus dijaga keberadaan dan kelangsungannya oleh seluruh anggota, kader, dan pimpinan.

Nashrun minallah wa fathun qarib. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan, berkah, karunia, dan ridha-Nya untuk setiap insan beriman serta menjadikan umat Islam sebagai Khaira Ummah dan  Indonesia menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.