‘Aisyiyah dan Franco ‘Amal Muhammadiyah

20 Februari 2020 09:30 WIB | dibaca 148 | oleh: Muhammad Yuanda Zara (Sejarawan)

Di dalam Suara Muhammadiyah edisi 18/16-30 September 2016 silam saya menulis tentang satu peristiwa dalam sejarah Muhammadiyah yang nyaris dilupakan orang: terbit dan tersebarnya perangko amal (dalam ejaan zaman dulu: franco ‘amal) Muhammadiyah tahun 1941. Walau perangko amal ini bentuknya hanyalah kertas yang sangat kecil, namun jangkauannya amat luas, mencakup kota-kota Jawa bahkan daerah jajahan Belanda di Karibia. Banyak pemasukan yang diterima Muhammadiyah lantaran larisnya perangko amal ini. Sampai-sampai koran finansial berbahasa Belanda, Soerabaijasch Handelsblad, mengumumkan pada 24 September 1941: “Verkoop van Moehammadijah Zegels. Groot Succes” (Penjualan perangko Muhammadiyah sukses besar).

Artikel saya tersebut telah mengangkat satu kejadian kecil yang berimplikasi luas terhadap pengetahuan publik tentang amal dan dakwah Muhammadiyah. Namun, masih ada satu pertanyaan tersisa: Apakah hanya warga Muhammadiyah saja yang mempromosikannya? Bagaimanakah peran ‘Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah yang dikhususkan untuk kaum perempuan, dalam diseminasi perangko amal ini?

Dari penelurusan saya terhadap sejumlah sumber dari tahun 1941-1942, saya temukan bahwa ‘Aisyiyah sebenarnya turut memainkan peranan krusial dalam memperkenalkan perangko amal Muhammadiyah kepada publik, khususnya kaum ibu yang merupakan anggota maupun simpatisan ‘Aisyiyah.

Ada beberapa cara yang dilakukan ‘Aisyiyah dalam memastikan bahwa perangko amal Muhammadiyah menjangkau audiens yang luas dan beragam. Pertama, mempromosikan perangko amal Muhammadiyah di dalam berbagai acara yang diselenggarakan ‘Aisyiyah. Salah satu contohnya adalah pada malam Hari Raya Idul Fitri tahun 1942. Kala itu, ‘Aisyiyah Cabang Malang menyelenggarakan sebuah acara rapat plus amal di Sekolah Diniyah di Taloenstraat. Yang hadir cukup banyak. Ada sekitar 350 kaum perempuan yang hadir. Di samping itu, datang pula setidaknya 300 orang fakir miskin perempuan dan anak yatim.

Setelah acara dibuka oleh ketua panitia, anak-anak HW bagian Athfal menyanyikan lagu kehormatan (panembrama). Lagunya mempromosikan perangko amal Muhammadiyah yang telah diluncurkan setahun sebelumnya. Penyampaiannya dibuat sangat menarik karena anak-anak HW tersebut tidak hanya menyanyikan liriknya, tapi juga mengiringinya dengan mondharmonica (harmonika). Ini jelas membuat para pendengarnya tertarik dan pada gilirannya akan mendorong mereka untuk turut membeli perangko amal tersebut.

Kedua, publikasi resmi ‘Aisyiyah, Soeara ‘Aisjijah, memberikan ruang kepada Muhammadiyah untuk memasang iklan perangko amal di majalah itu. Salah satu iklannya dapat dibaca di Soeara ‘Aisjijah edisi tanggal 30 Januari 1942. Iklan itu menyerukan agar semakin banyak orang yang membeli perangko amal itu: “sedikit-sedikit bantoean dalam tiap-tiap menggoenakan Franco ‘Amal Moehammadijah itoe, akan berboeah besar bagi kemaslahatan ‘oemoem. Maka silahkan memesan dan membeli Franco ‘Amal dengan sebanja moemkin [sic], oentoek dipakainja sendiri dan didjoealnja poela (bagi menambah dan memperbanjak orang ber’amal).”

Iklan lainnya tampil di Soeara ‘Aisjijah tanggal 16 Februari 1942. Di advertensi sebanyak setengah halaman ini disampaikan bahwa penjualan perangko amal Muhammadiyah masih dibuka untuk umum. Dipromosikan pula keuntungan menarik yang bakal didapat konsumen bila membeli dalam jumlah besar. Bila memesan perangko seharga f 5 (5 gulden) maka “ongkos kirim vrij” (gratis ongkir, dalam istilah sekarang). Juga: “blanco brifkaar [sic] boleh dimintak.” Pesanan bisa ditujukan ke H.B. (Hoofdbestuur) Muhammadiyah di Yogyakarta.

KetigaSoeara ‘Aisjijah juga menyediakan ruang khusus bagi Muhammadiyah untuk menyampaikan pandangan dan seruannya secara lebih dalam berkaitan dengan perangko amal ini. Ini bisa dilihat dari lima halaman lebih uraian tentang perangko ini di Soeara ‘Aisjijah terbitan Agustus 1941. Ruang kolom ini diberi nama “Seroean soetji,” jadi menekankan nilai-nilai keagamaan di balik perangko amal tersebut. Penulisnya ialah As. Hadisiswojo Solo, yang dikenal sebagai anggota Hoofd Comite F.A.M. afd. pers dan propaganda.

Sang penulis menjelaskan bahwa penjualan perangko amal Muhammadiyah disambut sangat baik oleh berbagai kalangan. Para pembeli dan pemakai perangko amal ini amat beragam. Di antaranya ada para pedagang yang bergerak di industri tenun, batik, rokok, dan produk lainnya. Juga kalangan pemerintah dan swasta. Perangko amal Muhammadiyah mereka gunakan dalam aktivitas surat menyurat mereka dalam setidaknya satu bulan terakhir.

As. Hadisiswojo Solo juga menggarisbawahi bahwa:

Dan kita haroes ingat, bahwa wang keoentoengan Franco ‘Amal itoe oentoek keperloean oemoem, ja’ni: orang-orang atau anak-anak, laki-laki atau perempoean, ta’ pandang bangsa, ta’ pandang agama, ta’ pandang gegerombolan sarikat atau partijnja, tetapi bila mana mereka itoe menderita a.sakit, kita bela dalam roemah sakit, b. miskin, kita sediakan roemah miskin dan kita toentoen tjara pekerdjaan jang dapat menoentoen peri penghidoepannja, c.anak piatoe, kita pelihara djasmani dan roehaninja, dan kita sediakan roemah jatim. (Soeara ‘Aisjijah, Agustus 1941)

Itu artinya, perangko amal itu bukan hanya memberikan manfaat pada Muhammadiyah ataupun ‘Aisyiyah, tapi juga orang Hindia Belanda lainnya pada umumnya, tanpa memandang latar belakang mereka. Suatu hal besar dilakukan oleh selembar kertas kecil bernama perangko. Dan ‘Aisyiyah dengan berbagai cara telah turut membantu menyebarluaskan kesadaran tentang kehadiran perangko tersebut dan arti pentingnya bagi kepentingan umum di Hindia Belanda.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 10 Tahun 2018

Sumber: suaramuhammadiyah.id