Tujuh Poin Penting Bahasan Konsolidasi Nasional Pimpinan Muhammadiyah

09 Mei 2019 14:48 WIB | dibaca 40

YOGYAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan beberapa poin penting dalam bahasan Konsolidasi Nasional Pimpinan Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Rabu (08/05). Turut dihadiri oleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah bersama ‘Aisyiyah saat ini melanjutkan perjuangan dakwah pendiri Muhammadiyah. Di tengah berbagai macam organisasi yang hadir dalam berbagai situasi bangsa, kita berusaha bergerak lebih dinamis untuk dapat melewatinya dengan baik.

Lebih lanjut, haedar menyampaikan poin penting dalam bahasan Konsolidasi Nasional Pimpinan Muhammadiyah.

Pertama, pembinaan paham keislaman dalam Muhammadiyah. Sebagai organisasi dakwah Islam, Muhammadiyah juga bertanggung jawab dalam memberikan paham Islam yang komprehensif untuk masyarakat. “Dapur utama dakwah Muhammadiyah dalam Majelis Tarjih dan Tajdid perlu untuk terus memproduksi pemikiran dan pemahaman keislaman. Nanti Majelis Tablih sebagai institusi penyebar paham Islam itu kepada masyarakat, terlebih untuk generasi milenial,” ungkap Haedar.

Menurutnya, para pimpinan Muhammadiyah harus hadir menunjukan petunjuk sebagai Islam yang berwatak tajdid di tengah arus. Dan Muhammadiyah harus menghadirkan juga Islam Wasatiyah berkemajuan.

Kedua, Muhammadiyah sebagai organisasi yang besar. Muhammadiyah besar dan semoga karena kualitas sumber dayanya. “Meskipun sudah menjadi organisasi yang besar, jangan sampai berkurang jumlah sumber dayanya,” terangnya.

Ketiga, kaderisasi di berbagai bidang: amal usaha, politik, ekonomi, akademis. Haedar memandang bahwa kebutuhan sumber daya manusia untuk ke dalam dan ke luar semakin bertambah. Kader di semua bidang harus terus diperkuat menjadi kader yang ideologis dan profesional. Oleh karena itu, pembinaan perlu dilakukan sejak dari hulu.

Dalam bidang politik, komitmen Muhammadiyah dalam mendorong kader yang menjadi calon legislatif menjadi bagian dari menyebarkan misi Muhammadiyah.

Keempat, dakwah di media sosial. Haedar memandang pentingnya tabligh hadir dalam dunia digital di media sosial. Lintas majelis diharapkan dapat berhadapan dan mengisi ruang media sosial sebagai bagian dari dakwah komunitas.

Kelima, penguatan dakwah komunitas, seperti Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ). GJDJ ini merupakan komitmen dan terobosan Muhammadiyah sejak tahun 1969. Sehingga semakin banyak yang merasakan manfaat dari kehadiran Muhammadiyah.

Keenam, memperkuat kehadiran Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Haedar menyampaikan pentingnya peningkatan kualitas dan jaringan dalam amal usaha tanpa melupakan pendekatan ke bawah. “Bagaimana pemberdayaan dari Muhammadiyah dari atas ke bawah menjadi penting dan pemberdayaan dari berbagai sisi. “AUM yang berkualitas mulai banyak, namun AUM yang berada di level menengah dan bawah juga masih banyak. Kekuatan Muhammadiyah, tumbuh berdiaspora dari bawah, namun kualitasnya harus dibangun dengan jejaring yang kuat dari samping, saling memberdayakan antar AUM. “Keseksamaan kita ke depan lebih penting,” paparnya.

Ketujuh, dinamika pertumbuhan gerakan di masing-masing daerah. Haedar mengajak semua pimpinan untuk saling bergandeng tangan dalam menggerakkan organisasi. Pengalaman kita sangat kompleks. Kekuatan Muhammadiyah justru ada di ranting dan cabang. LPCR membantu kita membaca realitas cabang dan ranting, dan tugas kita semua untuk mendinamisasi Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Dalam dinamika keumatan, kata Haedar, Muhammadiyah perlu menjadi solusi. Belakangan tumbuh ghirah kolektivitas beragama dan semangat untuk menunjukkan identitas masing-masing. Semangat beragama ini harus dibingkai oleh Muhammadiyah. (AAM)

Sumber foto: muhammadiyah.or.id