TK ABA Surabaya Gelar Drama Kolosal Kenalkan Bencana Alam

20 April 2017 16:19 WIB | dibaca 1168

Sebagai puncak dalam semester akhir tahun pelajaran, TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 05 Surabaya menggelar drama kolosal bertemakan “Bencana Alam Gunung Meletus” pada Kamis (13/4). Kegiatan ini dikemas dengan konsep praktik dan simulasi dengan menampilkan miniatur gunung di tengah lapangan TK ABA 05 Surabaya yang disiapkan untuk dapat mengeluarkan asap, debu, dan hujan abu serupa sehingga para peserta memahami gejala alam tentang gunung meletus.

Terlihat ada beberapa anak yang menggunakan kostum Tim Sar, relawan evakuasi, wartawan dan yang tak kalah menarik yakni adanya sosok wali kota Surabaya, Risma dan staffnya yang dilakoni anak-anak usia dini.

Kepala TK ABA 05 Surabaya, Indah Lestari menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum dengan mengangkat tema puncak yang telah ditentukan oleh guru dan lembaga sekolah.  Menurutnya, dipilihnya tema bencana alam gunung meletus dimaksudkan agar para peserta didik dapat lebih memahami mengenai gunung meletus.

“Diharapkan anak-anak bisa memahami pengertian gunung meletus dan lebih sigap. Unsur sosialnya pun kita kenalkan untuk bisa saling membantu korban-korban bencana alam,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Koordinator Kelas Utsman bin Affan Sulistijawati menuturkan bahwa drama kolosal ini dijadikan nyata dihadapan anak-anak agar dapat menarik perhatian anak usia dini sehingga akan membuat anak-anak mengingat kejadian tersebut secara detail. Tak hanya itu, dalam kegiatan ini para peserta didik juga dilatih untuk ikut berempati terhadap bencana tanah longsor yang terjadi di Ponorogo beberapa waktu lalu dengan membawa nasi bungkus yang dimakan di lokasi untuk dapat turut berempati bagi korban bencana alam. Selain itu, para peserta didik juga dihimpun untuk menyisihkan uang tabungan untuk disumbangkan kepada korban bencana alam di Ponorogo melalui Lazismu Surabaya.

“Drama kolosal ini dijadikan nyata dihadapan anak-anak agar mereka lebih mengena dan memahami arti gunung meletus. Mereka diharapkan memiliki rasa peduli dan berempati pada masyarakat, serta rasa syukur kepada Allah SWT karena tempat kita jauh dari bencana,” pungkasnya (Firzah/Karima).