Tanwir Daring Bersama Muhammadiyah 'Aisyiyah 2020

19 Juli 2020 16:38 WIB | dibaca 154

.
Ahad, (19/7) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Pimpinan Pusat 'Aisyiyah gelar Tanwir ke-III dengan tema "Hadapi Covid-19 dan Dampaknya : Beri Solusi untuk Negeri" secara daring. Tanwir merupakan musyawarah tertinggi dalam persyarikatan setelah Muktamar yang digelar untuk memutuskan hal-hal terkait organisasi. Akan tetapi dikarenakan kondisi Covid-19 saat ini maka pelaksanaan Tanwir ke-III periode 2015-2020 dilaksanakan secara daring. "Pelaksanaan Tanwir secara online ini diadakan secara khusus dikarenakan keadaan akibat pandemi Covid-19, yang tidak memungkinkan untuk pertemuan langsung (luring) dengan melibatkan jumlah orang yang banyak," ujar Haedar Nashir selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat menyampaikan pidato iftitahnya.
 
Haedar melanjutkan bahwa kehidupan dalam berbagai aspek berada dalam keadaan darurat. "Banyak hal berubah karena pandemi ini dari normal menjadi tidak normal, telah 4 bulan lebih kita lewati keadaan darurat ini dengan sejumlah masalah berat disertai ikhtiar,  namun penularan Covid-19 sampai hari ini masih tinggi dan belum menurun atau landai, meskipun pemerintah menetapkan kebijakan “New Normal”."
 
Tanwir ke-III ini istimewa tidak hanya karena dilaksanakan pertama kali secara daring akan tetapi juga dilaksanakan untuk memutuskan penundaan Muktamar ke-48 Muhammadiyah 'Aisyiyah yang sedianya akan dilaksanakan pada 24-27 Desember 2020. "Semula kita berharap pandemi landai dan normal di bulan tersebut. Namun dari hasil kajian MCCC yang melibatkan para ahli kedokteran, virus, dan epidemiologi termasuk hasil komunikasi MCCC dengan ahli epidemiologi dari ahli UI, UGM, UNAIR— disimpulkan bahwa sampai bulan Desember 2020 belum dapat dipastikan landai dan tidak disarankan melakukan kegiatan Muhammadiyah yang melibatkan massa dalam jumlah besar/banyak." 
 
Sebagai organisasi modern tentu Muhammadiyah perlu mengkaji segala sesuatu dengan seksama berdasarkan berbagai analisis situasi yang faktual dan mengutamakan keamanan, kesehatan, dan keselamatan jiwa manusia. Haedar menegaskan bahwa kematian satu orang pun menyangkut jiwa manusia yang sangat berharga karena itu bersikap hati-hati dalam penyelenggaraan pertemuan besar persyarikatan sangat diperlukan."Bahwa tujuan Syariat Islam ialah tegaknya kemaslahatan hidup manusia dan alam lingkungannya, yang dirumuskan oleh para fuqaha sebagai “Maqasidus Syariat” yakni hifdz-din (mejaga agama), hifdz-aql (menjaga akal), hifdz-mal (menjaga harta), hifdz-nasl (menjaga keturunan), dan hifdz-nafs (menjaga jiwa). Dalam hal Hifdu-nafs atau menjaga jiwa pun tidak lepas dari iman dan Islam, bukan sesuatu yang berlawanan dengan prinsip keyakinan dan agama." 
 
Karenanya PP Muhammadiyah dalam Pleno 1 Juli 2020 yang kemudian dibawa ke Rapat Pimpinan yang melibatkan Ortom Pusat, PWM, dan PWA seluruh Indonesia tanggal 5 Juli 2020 mengkaji kembali penundaan Muktamar yang semula dilaksanakan bukan Desember 2020. "Keputusan menunda Muktamar setelah Desember 2020 yang keputusan finalnya dibawa ke Tanwir hari ini, dengan dua opsi yakni opsi minimal bulan Juli 2021, dan opsi maksimal ke bulan Juli 2022 sesuai rekomendasi MCCC."
 
Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini yang juga menyampaikan pidato iftitahnya mengungkapkan rasa haru atas terselenggaranya Tanwir-ke III kali ini yang dilaksanakan secara daring. "Tanwir yang digelar pada situasi masa pandemi untuk mengagendakan dan membicarakan persoalan penting organisasi dimana organisasi besar ini harus tetap berjalan tetapi disatu sisi persyarikatan Muhammadiyah yang besar ini termasuk didalamnya ‘Aisyiyah dapat memberikan kontribusi besar pada bangsa dan negara pada situasi Covid-19 yang sungguh memprihatinkan ini." 
 
Selama situasi pandemi Covid-19 ini, 'Aisyiyah sebagai ibu negeri menurut Noordjannah tidak tinggal diam tanpa berbuat apa-apa pada permasalahan bangsa. "Kami mengapresiasi semangat, keikhlasan dan kesungguhan yang luar biasa pada ‘Aisyiyah disemua tingkatan pada masa pandemi ini tetap berbuat amal kebaikan tanpa henti dengan kegiatan dan progam untuk mengatasi dampak Covid-19 melalui berbagi dengan sesama, edukasi dan pemberdayaan dan berbagai kegiaatan lainnya yang dilakukan baik secara mandiri dan yang lebih luas bersama MCCC sampai ditingkat ranting." 
 
Berkenaan dengan penundaan pelaksanaan Muktamar ke-48 Noordjannah menyampaikan bahwa Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sebagai penanggung jawab Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 bersepakat bahwa pelaksaaan Muktamar menyesuaikan dengan kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai induk organisasi dan membasnya dalam sidang Tanwir ini.
 
Tanwir ke-III Muhammadiyah 'Aisyiyah ini kemudian dilanjutkan dengan penyampaian usulan pelaksanaan waktu Muktamar yang disampaikan oleh anggota tanwir yang terdiri dari 34 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Hasil dari penyampaian saran dan usulan kemudian secara musyawarah mufakat di putuskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Suri)