Ta'awun Muhammadiyah Bagi Suku Kokoda di Papua Barat

12 Januari 2019 14:16 WIB | dibaca 34

Diberdayakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah sejak 2013, diujung tahun 2018 Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kampung Warmon Kokoda sampaikan progres perkembangan dakwah pemberdayaan ke kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Jl. Ahmad Dahlan, No 103, Ngampilan, Yogyakarta, Ahad (30/12).

Diselah jamuan makan, Muhammad Nurul Yamin mengungkapkan, dakwah melalui pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah melalui MPM setidaknya telah merubah kehidupan masyarakat suku Kokoda. Akan tetapi tidak sampai menghilangkan sama sekali kearifan lokal.

“Muhammadiyah hadir melalui dakwah bil hal (perbuatan/aksi nyata), pemilihan dakwah tersebut memiliki dampak yang signifikan kepada masyarakat Kampung Warmon Kokoda,” ungkap Yamin.

Kehadiran Muhammadiyah diseluruh pelosok negeri merupakan aksi konkret dari Ta’awun untuk Negeri, saling bersinergi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah. Selain itu, MPM juga mengandeng Pendidikan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sorong.

  

Selaras dengan yang disampaikan Yamin, Ari Syamsudin Namugur, anggota MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat sekaligus ketua PRM Kampung Warmon Kokoda mengatakan, dampak atas dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah kepada masyarakat Papua, khususnya masyarakat Kokoda begitu terasa.

Ia menceritakan, dimulai sejak tahun 2013 oleh almarhum Said Tuhuleley, ketua MPM PP Muhammadiyah periode 2010-2015 datang menyentuh masyarakat Kokoda secara langsung dengan mottonya ‘Selama rakyat masih menderita, tidak ada kata istirahat’.

“Motto tersebut menjadi sebuah suplemen penambah semangat masyarakat sana untuk terus bergeliyat memajukan Papua, khususnya Kokoda,” ceritanya.

“Banyak hal baru yang bisa kita rasakan, dahulu kita berkebun dengan cara-cara yang biasa. Setelah MPM datang, kita menjadi tahu mulai dari cara pembibitan, penanaman, perawatan sampai panen. Kita juga di kampung belajar pembuatan pupuk kompos, dan alhamdulillah panen kebun kita baik,” katanya.

“Melihat perubahan kami karena sentuhan dakwah seperti ini, yang dilakukan Muhammadiyah, masyarakat non muslim Papua juga ingin merasakan sentuhan dakwah Muhammadiyah,” imbuhnya.

Kedepan, pihaknya bersama pemerintah desa dan daerah berencana akan membuat tempat budidaya ikan tawar yang akan dikelola oleh masyarakat lokal dan mendirikan pasar ikan. Sehingga masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk berlayar sebagai nelayan, tetap bisa memiliki pemasukan ekonomi.

Syamsudin menambahkan, saat ini juga sedang melakukan proses penyelasaian pembelian kapal tangkap yang akan digunakan oleh masyarakat Kokoda untuk meningkatkan hasil nelayan yang selama ini masih menggunakan kapal kecil.

Pembelian kapal ini juga termasuk kelanjutan aksi yang telah dilakukan MPM.

“Dahulu kita diberdayakan melalui pemberian mesin oleh MPM, sekarang masyarakat kita jadi termotivasi untuk bisa berbuat lebih,” lanjutnya.

Selain itu, Muhammadiyah juga diharapakan untuk menyiapkan kader-kader masyarakat lokal yang bisa berdaya dan memberdayakan daerahnya.

“Muhammadiyah harus bisa lebih konsen memperhatikan pendidikan anak muslim asli Papua untuk bisa belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Supaya mereka menjadi kader-kader Muhammadiyah terdepan dalam menciptakan Papua yang berkemajuan,”pungkasnya. (a'an)

Sumber : www.muhammadiyah.or.id