Strategi Muhammadiyah - 'Aisyiyah Capai Dakwah Inklusif di Masyarakat

05 Maret 2020 21:15 WIB | dibaca 223

Yogyakarta -- Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah abad kedua menghadapi persoalan dakwah yang semakin menantang. Sebut saja dengan perkembangan teknologi, masyarakat dimudahkan dalam mencari dan menemukan konten keagamaan pada genggaman gawainya. Tidak ada jalan lain bagi para pendakwah selain semakin aktif dan kreatif dalam berdakwah. Para pendakwah juga dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan keagamaan masyarakat.

Sejatinya, masyarakat tingkat ranting atau grassrot adalah sasaran yang cukup penting bagi dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan konsep beragama yang berkemajuan. Hal itu dianggap relevan untuk menjawab permasalahan umat saat itu. Apa yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan adalah bagaimana memahami al-Qur’an dengan melibatkan akal pikiran yang murni kepada masyarakat.

Kejumudan beragama masyarakat saat itu dan tertutupnya pintu ijtihad oleh kalangan pemuka Islam menjadi kesempatan bagi Ahmad Dahlan dalam mengembangkan dakwahnya. Dengan konsep dakwah yang berkemajuan, membantu Ahmad Dahlan menghasilkan produk pemikiran berupa amal usaha yang semakin menguatkan keagamaan di berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, maupun pelayanan sosial.

Hal tersebut membuktikan bahwa dakwah Muhammadiyah bersifat adaptif terhadap persoalan keagamaan masyarakat. Dipertegas oleh Siti Syamsiyatun, anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, bahwa dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus adaptif terhadap kultur lokal untuk mencapai inklusifitas dalam berdakwah.

Disampaikan dalam FGD Pengembangan Dakwah Inklusif di Komunitas pada (5/3) di Ruang Sidang Kantor PP ‘Aisyiyah, Jalan Ahmad Dahlan nomor 32, Yogyakarta Syamsiyatun melanjutkan bahwa dakwah inklusif bagi Muhammadiyah dapat dicapai dengan ma’ruf. Artinya memahami persoalan umat saat itu dan mencarikan jalan keluarnya dengan konsep Islam berkemajuan. Topik yang diangkat dalam FGD sendiri merupakan hasil Tanwir II ‘Aisyiyah pada November 2019 yang lalu dan akan dibawa ke Muktamar 48 pada bulan Juli mendatang.

Konsep Islam berkemajuan juga masih relevan dipakai dalam dakwah Muhammadiyah hari ini. Konsep inilah yang mampu mewujudkan sikap ma’ruf dalam berdakwah dan keshalehan yang memberdayakan serta mencerahkan umat.

Menurut Syam, sapaan akrabnya, Islam berkemajuan abad kedua Muhammadiyah harus terus meluaskan dakwah dengan kemajuan ijtihadnya, baik dalam persoalan agama, ibadah, muamalah, sosial, dan dalam konteks ‘Aisyiyah misalkan dengan pemberdayaan perempuannya dalam mencapai dakwah inklusif.

Paparan lain disampaikan oleh Zuly Qodir, seorang Sosiolog-Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah yang menyampaikan tentang Re-branding ‘Aisyiyah: Gerakan Pencerahan dan Kemanusiaan.

Satu hal yang melekat dalam paparannya adalah bahwa dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus menjadi lilin di tengan kegelapan. Persoalan keumatan saat ini harus banyak yang diopeni oleh ‘Aisyiyah. Apakah itu persoalan kemanusian hingga persoalan kebangsaan yang salah satu tujuannya adalah memberdayakan perempuan.

Tiga pesan dalam paparannya yaitu pertama, dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus kontekstual dan disebarkan sebanyak mungkin melalui media sosial. Kedua, bahwa persoalan yang terjadi di masyarakat harus dapat diuraikan dan diselesaikan. Ketiga, dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak lepas dari tujuan untuk memberdayakan dan mencerahkan.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini yang turut menyertai jalannya FGD. Noordjannah memberikan pandangannya bahwa dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sudah inklusif walaupun belum teroptimalisasi.

Noordjannah berpesan bahwa ke depan dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus dipetakan dengan jelas wilayahnya. “Prioritas peta dakwah ini yang akan menentukan strategi dakwah kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhannya, apakah dakwah substantif, spiritual dan sebagainya,” jelasnya.

Noordjannah menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga harus kokoh memegang prinsip dakwah dengan paham Muhammadiyah. “Kita harus tetap kokoh memegang prinsip dan pandangan kita, pandangan mencerahkan. Kokoh dalam berprinsip bisa dengan strategi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

“Maka poin dakwah inklusif ini adalah bagaimana mengembangkan nilai-nilai keagamaan juga toleransi di komunitas, memasifkan dakwah untuk kelompok marjinal seperti petani, nelayan, dan sebagainya, dakwah untuk kelompok difabel, bahkan memikirkan dan menyiapkan strategi dakwah di daerah 3T,” tutup Noordjannah. (AAM)