STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta Siap Hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

13 Agustus 2015 17:54 WIB | dibaca 1351

Ilustrasi MEA

 

Per tanggal 31 Desember 2015, akan berlaku Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang membutuhkan kesiapan. Menurut Lathifah Iskandar, Ketua Majelis Ekonomi PP ‘Aisyiyah, Indonesia belum siap untuk menghadapi MEA, karena menurut ahli ekonomi semua indikator belum terpenuhi. “’Aisyiyah punya tanggung jawab moral yang besar, untuk menyiapkan masyarakat Indonesia untuk masuk ketika MEA telah berlaku,” ujar Lathifah.

Di Thailand, tambah Latifah, masyarakat di desa sudah membincangkan MEA. Menurutnya,  Indonesia terlambat untuk membicarakan kesiapan MEA. Justru malah ‘Aisyiyah yang mengundang pemerintah, padahal berjejaring menjadi bagian strategis untuk menghadapi MEA. Dalam pandangan Latifah,  ‘Aisyiyah abad ke dua harus masuk pada gerakan yang lebih strategis menghadapi tantangan era ke depan.

Lebih lanjut Latifah menjelaskan, kesehatan dan ekonomi sebagai core ‘Aisyiyah harus bersiap menghadapi MEA. ‘Aisyiyah sudah mengawali dengan diskusi dan menumbuhkan enterpreneurship antara lain dengan mengadakan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah. Untuk menghadapi MEA, ‘Aisyiyah menyiapkan strategi yang mungkin dapat dilakukan hingga tingkat Cabang/Ranting atau Kecamatan/Desa.

Di bidang kesehatan, ‘Aisyiyah yang memiliki amal usaha bidang pendidikan kesehatan juga telah bersiap menyambut MEA, sebagaimana dilakukan oleh Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta. Sekolah tinggi yang sedang dalam rintisan menuju universitas ‘Aisyiyah ini menyiapkan diri melalui berbagai program kemitraan, “Sejauh ini kita sudah menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan dan kesehatan di Singapura, Thailand, dan Taipey, ungkap Warsiti, Ketua Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta. Ia menyebut beberapa lembaga, seperti National Taipey University of Health Sciences; Kokaen University dan Mahidol University di Thailand; Tokushima University di Jepang; dan Nee Ann dan Tamasek di Singapura. Kerjasama tersebut, terang Warsiti, antara lain dilakukan  di bidang pengembangan sumber daya dosen, pertukaran mahasiswa, praktik klinis, dan riset kolaborasi.

Yuli Isnaeni, Wakil Ketua II Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta mencontohkan, dosen-dosen di Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta dapat menempuh pendidikan S3 di Taiwan dengan beasiswa dari pemerintah setempat. Begitu juga dengan pertukaran mahasiswa Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan mahasiswa dari lembaga pendidikan setempat baik di Taipey, Thailand, Singapura, dan Jepang. Selain bekerjasama dengan lembaga pendidikan, ‘Aisyiyah juga bekerjasama dengan Institusi Kesehatan, seperti  National Taiwan Hospital University, sehingga mahasiwa dapat magang di rumah sakit tersebut.

Bahasa, tegas Yuli, juga menjadi faktor penting bagi mahasiswi/mahasiswa Stikes ‘Aisyiyah dapat berkompetisi di tingkat regional maupun global. Karenanya, tambah Yuli, Stikes ‘Aisyiyah memiliki program khusus bagi mahasiswi bekerjasama dengan National Institute of Information and Technology India untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris maupun Arab, kesiapan yang harus dimiliki untuk memasuki dunia kerja, dan jaringan kerja sektor kesehatan di tingkat regional maupun internasional. “ “Mulai terasa manfaatnya,” ungkap Yuli. Ia mencontohkan, pengalaman hasil magang maupun mengikuti pertukaran mahasiswi menambah privilege untuk memperoleh kesempatan kerja. Warsiti selaku Ketua Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta pun merasakan hal yang sama, bahwa program kerjasama selain memperkuat kampus dan sumber daya manusia  yang ada, “tetapi juga memberi kepercayaan diri civitas akademika untuk bersaing di luar negeri, khususnya negara ASEAN menyambut MEA,” beber Warsiti.