Siti Noordjannah Beri Pesan Untuk Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah

31 Januari 2019 11:56 WIB | dibaca 343

Salah satu program unggulan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) ‘Aisyiyah adalah Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA).  SWA adalah suatu kegiatan pendidikan, pelatihan dan mentoring bagi pelaku wirausaha UMKM, mendorong usaha yang sudah ada, dan lahirnya pelaku-pelaku usaha yang baru.

Dyah Suminar yang merupakan Ketua MEK Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menyampaikan bahwa SWA adalah yang mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi perempuan dan juga dalam bekerjasama dengan berbagai pihak. Pada Rabu (30/01) SWA melaksanakan workshop yang ditujukan sebagai wadah sharing untuk mendapatkan formula, strategi bersama untuk perkembangan SWA.

“Workshop ini sebagai media utuh tukar pikiran sehingga mendapatkan rumusan yang disusun bersama, model-model perkembangan ekonomi yang mengikuti zaman, agar juga program SWA ini bisa berkelanjutan” juga disampaikan oleh Dyah Suminar dalam sambutannya pada kegiatan Workshop SWA tersebut. Workshop SWA dilakukan bersamaan dengan Monev Klinik Usaha Keluarga ‘Aisyiyah (KUKA) di Aula lantai 2 Kantor Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (PPA), Jalan KH. Ahmad Dahlan no. 32 Yogyakarta.

Selain itu, Dyah juga memaparkan perkembangan SWA selama 6 tahun ini sejak di-launching pada tahun 2013. “SWA sudah sampai angkatan ke 10, diikuti oleh daerah-daerah sampai sudah berkembang di 15 kabupaten/kota dengan jumlah alumni 1119 orang. Alumni juga merupakan anggota KUKA” jelasnya.

Workshop SWA dan Monev KUKA dibuka langsung oleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Drs. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si. Dalam sambutannya, Siti noordjannah menyampaikan tiga pesan penting yang harus dilakukan untuk pekembangan gerak SWA. Sebelumnya, Noordjannah menyebutkan bahwa panglima perang dakwah saat ini adalah ekonomi. Maka pesan pertama Noordjannah adalah perlunya advokasi dengan pemerintah. “SWA bisa dijadikan wadah mediasi organisasi dengan pemerintah. Di setiap kegiatan SWA, pemerintah harus hadir memberikan kontribusi, berkolaborasi supaya pemerintah bisa diajak berkomitmen dalam mendukung SWA ini,” ujarnya.

Kedua, terjalinnya hubungan BUEKA (Bina Usaha Keluarga ‘Aisyiyah) dengan SWA. “SWA dan BUEKA yang sudah jadi trademarks ‘Aisyiyah harus ter-connect. Kolaborasi internalnya itu harus terprogram. Harus bisa saling bersinergi, antar program, antar majelis, dengan jaringan di luar organisasi,” sebut Noordjannah.

Ketiga, pasca workshop SWA harus memformulasikan strategi agar berkelanjutan. “Kumpulkan kekuatan bersama untuk membranding SWA sebagai kekuatan wirausaha perempuan. Membranding bahwa perempuan bisa, perempuan bisa menjadi terdepan, dan saling mendukung, serta berkompetisi secara sehat.”

Setelah resmi dibuka, Workshop SWA dilanjutkan dengan foto bersama dan penyampaian materi mengenai Peluang dan Tantangan SWA oleh Dr. Suranto yang merupakan mentor SWA Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sragen. (AAM)