Saatnya Kota Yogyakarta Bebas TBC, Mulai Dari Saya!

15 April 2019 17:01 WIB | dibaca 149

‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah telah berkiprah dan mampu bertahan lebih dari satu abad dalam usaha-usaha memajukan kehidupan umat, bangsa dan dunia kemanusiaan secara universal. Memasuki abad kedua, ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muslim semakin dituntut untuk meningkatkan dan menguatkan perjuangan dakwah dan tajdid (pembaharuan) untuk mencerahkan bangsa melalui program dan kegiatan praksis yang langsung menyentuh denyut kehidupan masyarakat luas. Dalam hal ini ‘Aisyiyah mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap isu-isu kesehatan di masyarakat sesuai dengan spirit Surat Al-Maun.

Memasuki abad kedua ini, Dakwah lintas batas ‘Aisyiyah diimplementasikan melalui program TBC di provinsi dan daerah dengan menyapa mereka yang lemah dan membutuhkan dukungan tanpa melihat wilayah, komunitas, gender, budaya, dan agama. ‘Aisyiyah juga menegaskan bahwa kerja-kerja TBC Care ‘Aisyiyah merupakan aktualisasi dari Risalah Pencerahan untuk dakwah lintas batas. Hal ini selaras dengan Risalah Pencerahan hasil rekomendasi Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu pada 15-17 Februari 2019.

Berdasarkan Global TBC Report Tahun 2018, diketahui insiden TBC sebanyak 842.000 kasus pada tahun 2017 serta mortalitas TBC 107.000 kasus[1]. Dengan angka notifikasi kasus tahun 2017 sebanyak 446.732 kasus maka kasus TBC yang ditemukan di Indonesia baru sekitar 53%, sisanya 47% kasus masih belum diobati atau sudah diobati tetapi belum tercatat.

Mereka yang belum ditemukan akan menjadi sumber penularan TBC di masyarakat. Ditambah dengan muncul tantangan baru bagi pengendalian TBC, misalnya ko-infeksi TBC-HIV, TBC resistan obat (TBC-RO), TBC komorbid, TBC pada anak, peningkatan putus pengobatan TBC pasca bencana dan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi.

Selain itu, salah satu pekerjaan rumah yang terus menjadi tantangan dalam upaya penanggulangan TBC saat ini adalah masih tingginya stigma di masyarakat. Stigma inilah salah satu alasan masih rendahnya temuan kasus TBC di Indonesia. Isu lainnya adalah kurangnya kampanye tentang TBC baik di masyarakat maupun media massa.

  

Hari TB sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret, selalu diperingati oleh dunia dan Indonesia setiap tahun. Pada tahun 2019, tema yang diusung adalah “Saatnya Kota Yogyakarta bebas TB, Mulai dari saya” Tema tersebut menjadi dasar dalam mengembangkan kegiatan mobilisasi masyarakat yang fokus menggambarkan peran masyarakat dalam mendukung upaya penanggulangan TB terutama untuk penemuan kasus TB secara aktif.

Kota Yogyakarta adalah kota tujuan wisata di Indonesia yang hampir setiap harinya mendapatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun asing. Sebagai kota wisata tentunya kota Yogyakarta mendapatkan sorotan dari seluruh penjuru nusantara. Hari TB Sedunia dapat menjadi momen untuk menunjukan bahwa kota Yogyakarta sangat mendukung penemuan kasus TB, mengobatinya sampai sembuh untuk memutus rantai penularan hingga terwujud Kota Yogyakarta Bebas TB.

Untuk itu, melalui momentum Peringatan Hari TBC 2019 SSR TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta pada hari ini Ahad 14 April 2019 bertempat di TB ABA Kauman Yogyakarta mengadakan kegiatan Sarasehan Gathering Keluarga Pasien TB disertai dengan Pemberian Nutrisi Tambahan untuk 50 pasien TB dan TB anak, serta Bantuan Pemasangan Genteng Kaca untuk 10 rumah pasien TBC. Kegiatan Sarasehan akan diisi Talkshow yang dibawakan oleh dr. Ardoristye Saptati Fornia M.Kes, Sp.P (dr. Poppy).

Indah Rachmawati Erkasi (Re) selaku Koordinator Pelaksana Program SSR TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa “Harapan untuk Kegiatan TB Day kali ini adalah untuk menunjukan bahwa kegiatan SSR TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta selain fokus dalam edukasi, soasialisasi, penemuan kasus baru tapi juga fokus pendampingi Pasien TBC dalam pengobatan sampai tuntas, karena angka kesembuhan di kota Yogyakarta belum maksimal. Semoga dengan kegiatan pemberian nutrisi kali ini dapat meningkatan semangat pasien untuk minum obat dengan teratur hingga tuntas dan sembuh. Sedangkan dengan adanya sarasehan oleh dokter spesialis paru harapannya agar pasien semangat dalm mewujudkan cintanya pada keluarga dan lingkungannya dengan tidak menularkan ke orang disekitarnya, menggunakan masker dengan benar, tidak membuang ludah di sembarang tempat, melaksanakan Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) serta mengelola tubuh dengan baik.”

Sofi Nuria Melati dari Tim SSR TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta yang juga selaku Panitia menambahkan bahwa “Besar harapannya kegiatan kali ini dapat mengurangi stigma terhadap TBC yang masih sangat tinggi di masyarakat Kota Yogyakarta dan meningkatkan kepedulian semua pihak dalam penanggulangan TBC di Kota Yogyakarta”

Terimakasih banyak untuk semua pihak yang mendukung Kegiatan TB Day kali ini, yaitu Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah se Kota Yogyakarta, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Bank BDW dan tentunya Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan jajarannya, dan pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Mari bersama-sama mewujudkan Kota Yogyakarta Bebas TBC mulai dari saya!