Ringankan Beban Pasien Penyakit Menahun, 'Aisyiyah Luncurkan Asuhan Paliatif Terpadu

21 Oktober 2019 14:30 WIB | dibaca 226

 

BantaengKanker payudara dan kanker serviks merupakan penyebab terbanyak pertama dan kedua kematian pada perempuan akibat kanker. Data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus.

Tingginya angka kasus kanker payudara dan kanker serviks terebut sangat disayangkan karena kedua jenis kanker tersebut adalah jenis kanker yang bisa dicegah jika dilakukan deteksi dini.  Sayangnya, sebanyak 70 % dari jumlah pasien kanker datang dalam kondisi stadium 3. Hal tersebut antara lain dipicu oleh minimnya informasi yang diketahui oleh masyarakat tentang deteksi dini kanker serviks dan payudara, kurangnya ketersediaan layanan deteksi dini di Puskesmas, kurangnya fasilitas pengobatan kanker di berbagai daerah di Indonesia, dan problem keterjangkauan biaya pemeriksaan IVA maupun pengobatan kanker bagi masyarakat.

 

Berangkat dari kondisi tersebut, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian pada isu-isu kesehatan reproduksitelah melakukan upaya-upaya untuk mencegah kanker serviks dan payudara dari hulu hingga ke hilir. “’Aisyiyah berupaya melaksanakan mulai dari edukasi deteksi dini kanker dan mendorong perubahan perilaku yang melibatkan berbagai pihak, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan deteksi dini hingga mendorong advokasi kebijakan dan anggaran terkait deteksi dini,” ungkap Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah yang juga merupakan Koordinator Program MAMPU-‘Aisyiyah. Dari berbagai upaya yang dilakukan tersebut menurut Tri kemudian muncul kebutuhan akan pendampingan lebih lanjut bagi para perempuan yang terdeteksi menderita kanker sehingga ‘Aisyiyah mempunyai komitmen untuk membentuk tim asuhan paliatif yang bekerjasama dengan berbagai pihak mulai dari puskesmas, bidan, perangkat pemerintahan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

  

Tim Asuhan Paliatif inisiatif ‘Aisyiyah dalam program MAMPU telah terbentuk di berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu di bulan Oktober ini yang merupakan bulan peringatan Paliatif serta bulan peduli kanker payudara atau Pink Day,‘Aisyiyah secara resmi meluncurkan Model Asuhan Paliatif Terpadu di Komunitas dengan tema “Asuhan Paliatif Terpadu : Merajut Harapan.”

Dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Kementrian Kesehatan RI, Wakil Bupati Bantaeng, Kepala Dinas Kesehatan, Dinas terkait, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, Puskesmas, dan ribuan warga ‘Aisyiyah, acara Peluncuran Model Asuhan Paliatif Terpadu di Komunitas ini berlangsung di Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng pada Minggu (20/10).

In’am selaku Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Bantaeng menyampaikan bahwa tingginya angka penderita kanker payudara dan kanker serviks di Bantaeng menjadi salah satu alasan penting terbentuknya tim asuhan paliatif terpadu ini. “Pasien kanker dan juga pasien dengan penyakit menahun membutuhkan perhatian dan pendampingan yang lebih baik dari sisi pengobatan maupun dari sisi gangguan psikososial dan spiritual,  begitu pun dengan keluarga pasien, ini bisa dilakukan dengan adanya sinergi multi pihak sehingga bisa memperkuat serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit,” ungkapnya. ‘Aisyiyah menurut In’am akan semakin memperkuat sinergi dengan berbagai pihak sehingga tim asuhan paliatif ini bisa terbentuk juga di puskesmas, desa, dan kecamatan lain di Bantaeng.

  

Layanan Asuhan Paliatif yang diinisiasi oleh ‘Aisyiyah dan melibatkan multipihak ini sangat diapresiasi oleh Wakil Bupati Bantaeng dan juga Dinas Kesehatan.

Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin menyampaikan apresiasi atas terbentuknya asuhan paliatif di Bantaeng ini. "Selaku pribadi dan pemerintah Kabupaten Bantaeng, kami mendukung sepenuhnya layanan paliatif terpadu ini sebagai wujud kepedulian daerah terhadap penderita kanker dan penyakit katastropik lainnya."

  

 

Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng, Andi Ihsan menyampaikan bahwa pihaknya akan mendorong agar asuhan paliatif bisa direplikasi di seluruh puskesmas yang ada di Bantaeng. “Kami juga terus mendorong seluruh puskesmas yang ada di Bantaeng agar dapat mengimplementasikan kegiatan ini,” ujar Andi Ihsan.

Kepala Seksi Penyakit Kanker, Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Kementrian Kesehatan RI, Trio Toufik Edwin T, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menghadapi penyakit katastropik seperti kanker, stroke, cirrhosis hepatis dan lain-lain. Hal tersebut menurutnya berdampak besar terhadap perekonomian negara karena memakan biaya pengobatan yang sangat besar.Trio menyampaikan bahwa satu juta orang membutuhkan pelayanan paliatif dari 260 juta penduduk Indonesia, 25% karena kasus kanker. Namun, hanya 1% yg mendapatkan paliatif kanker di rumah sakit."Negara akan Hemat 2-5 triliun bila layanan paliatif dilaksanakan di masyarakat dibandingkan bila di rumah sakit," tuturnya mendukung pengembangan layanan asuhan paliatif di komunitas oleh ‘Aisyiyah ini. 

  

Menurut Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Shoimah Kastolani, kepedulian ‘Aisyiyah atas kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak telah ada sejak organisasi ini berdiri dan masih akan terus berlanjut. “Asuhan paliatif ini merupakan salah satu bukti nyata kerja ‘Aisyiyah yang bersinggungan langsung dengan masyarakat dan melihat adanya kebutuhan dari masyarakat akan asuhan paliatif bagi para perempuan yang menderita kanker payudara dan kanker serviks maupun pasien dengan penyakit menahun lain,” ujarnya.

  

Untuk mendukung implementasi dari Asuhan Paliatif ini ‘Aisyiyah juga menyusun Buku Panduan Asuhan Paliatif Terpadu di Komunitas. Secara simbolis buku ini diserahkan kepada Kementrian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng, dan perwakilan anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah.

  

Selain launching Asuhan Paliatif Terpadu, pada acara Pink Day yang diikuti ribuan warga Bantaeng ini juga berlangsung pemeriksaan IVA dan Sadanis, Penyerahan dana GISI (Gerakan Infaq Sayang Ibu), bazar produk BSA-BUEKA, donor darah, dan jalan santai yang diikuti oleh masyarakat umum. (Suri)