Resmi Dilantik, Ketua PCIA Mesir Fokus Hasilkan Karya

20 September 2020 08:00 WIB | dibaca 152

 
"Walaupun saat ini kami terbatas pandemi, tetapi kami berusaha untuk terus menghasilkan karya yang mampu mencerahkan umat." Hal tersebut disampaikan oleh Amastasya Dhyaz Pratiwi, Ketua PCIA Mesir Periode 2020-2022 usai dilantik resmi oleh Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (PPA) pada Sabtu (19/9) secara daring. 
 
Tasya, panggilan akrabnya adalah lulusan Madrasah Muallimat Muhammadiyah yang saat ini tengah menyelesaikan tahun akhir kuliahnya di jurusan Ushuluddin Tafsir di Al Azhar. "Awalnya mungkin terasa seperti beban akan tetapi karena saya percaya dan saya dipercayai oleh teman-teman untuk memimpin PCIA Mesir yang merupakan PCIA pertama di luar negeri maka saya merasa optimis Insya Allah ke depannya bisa memegang amanah ini."
 
Pergantian periode kepemimpinan PCIA Mesir sendiri menurut Tasya sudah berlangsung pada saat dilakukannya Musyawarah Cabang Istimewa (Muscabis) ke delapan pada 29 Februari silam akan tetapi karena terdampak Covid-19 pada saat itu belum dilakukan pelantikan oleh PPA. Akan tetapi menurutnya walaupun masih menunggu pelantikan secara resmi oleh Pimpinan Pusat, sejumlah program dan kegiatan telah berjalan.
 
Dalam periode kepemimpinannya ini Tasya menekankan Prinsip 3T yakni Tertib Beroganisasi, Tertib Administrasi, Tertib Prestasi. "Jadi kita ke Mesir tidak hanya beroganisasi saja, kita tidak juga hanya kuliah saja tetapi dua-duanya balance, mendukung organisasi juga belajar administrasi dan juga prestasi." Semua kegiatan di PCIM PCIA menurut Tasya akan menunjang pendidikan teman-teman yang belajar di Al Azhar, begitupun apa yang dipelajari di Al Azhar akan dituangkan di PCIA Mesir. 
 
Untuk saat ini PCIA Mesir bekerja dengan 5 Majelis dan 1 Lembaga yakni Majelis Tabligh, Majelis Keilmuan, Majelis Pengembangan Kader, Majelis Hubungan Luar Negeri, dan Lembaga Pengelola TK ABA. Setiap Majelis dan Lembaga ini disampaikan oleh Tasya terus bergerak dengan tentu saja memperhatikan protokol kesehatan di situasi pandemi ini. 
 
Menurut Tasya secara kualitas setiap masa pasti memiliki program unggulannya dan perkembangan terus terjadi. Termasuk dari amal usaha kebanggan PCIA Mesir yakni TK ABA yang kini telah memiliki guru tetap dan sudah mendapat kepercayaan dari para orang tua negara tetangga seperti Malaysia, bahkan dari orang Mesir sendiri ada yang ingin memasukkan anaknya untuk belajar di TK ABA. "Meskipun kita belum bisa menerima tetapi itu adalah salah satu wujud kepercayaan warga setempat dengan TK ABA yang kita kelola."
 
Selain itu, saat ini PCIM dan PCIA sedang menggarap Muadalah Muhammadiyah Boarding School Prambanan dengan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta seingga diharapkan kedepannya akan semakin banyak kader Muhammadiyah yang datang ke Mesir. 
 
Salah satu yang menjadi pegangan Tasya dalam berkegiatan atas nama persyarikatan adalah pesan dari Ketua Umum 'Aisyiyah dan Ketua Umum Muhammadiyah bahwa para kader di luar negeri adalah berperan sebagai duta, baik duta Indonesia maupun duta persyarikatan. "Ini adalah tekad kita bahwa hidup di Mesir itu punya dua tugas yakni Tholabul 'Ilmi sekaligus mengabdi kepada persyarikatan."
 
Dalam pidato pelantikannya Tasya juga menyukil statement Dar al-Ifta al-Mishriyyah atau Lembaga Fatwa Mesir bahwasanya perempuan itu tidak lemah, perempuan itu adalah partner dalam membangun masyarakat dan merupakan fondasi dalam bermasyarakat. "PCIA Mesir akan berusaha membawa semangat ini karena semangat ini juga sejalan dengan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah yang tidak membedakan peranan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun perempuan bukan berarti kita tidak bisa produktif, bukan berarti kita tidak bisa berkembang."
 
Pada kesempatan pelantikan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini menyampaikan pesan semangat kepada para pengurus PCIM dan PCIA Mesir yang resmi dilantik. “Rawatlah kultur organisasi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dengan memiliki sifat tertib, transparan, akuntabel, bertanggung jawab, luas dan luwes serta senang berdakwah di mana saja.” (Suri)