Refleksi 92 Tahun Nasyiatul 'Aisyiyah : Menjaga Semangat Perjuangan, Menggerakkan Dakwah Melintas Batas

11 Agustus 2020 07:28 WIB | dibaca 85

 
“Marilah Milad ini kita syukuri dengan syukur yang penuh, insyaallah Nasyiatul ‘Aisyiyah akan terus berjaya dan memberikan kebermanfaatan yang luas bagi dunia perempuan, umat dan bangsa, serta kemanusiaan semesta”, ajak Siti Noordjannah Djohantini Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah kepada kader Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) dalam pidato kunci pada acara puncak Milad NA ke 92 tahun (89 tahun dalam masehi) yang digelar secara daring, Ahad (9/8). 
 
Lebih lanjut Noordjannah berpesan agar kader NA tetap bergerak, berkontribusi dan berbuat dengan jiwa dan nilai dasar fondasi Islam seperti apa yang telah diletakkan para pendirinya yang tersurat dalam mars NA, yakni menjaga semangat perjuangan dengan terdidik tiap waktu serta menggemari kerja nyata demi kemuliaan Islam.
 
Dalam pesan selanjutnya Noordjanah mengajak kader NA untuk merefleksikan, gerak melintas batas yang sudah dimulai oleh para pionir ‘Aisyiyah. Spirit gerak dakwah melitas batas ini menurutnya didasarkan pada spirit pemikiran Islam yang berfondasi pada Islam berkemajuan yang melintas batas. “Spirit melintas batas adalah spirit Islam yang tidak ekslusif, Islam menjadi rahmatan lil alamin, membuka cakrawala dan membuat pemikiran melitas batas”, ujarnya.
 
Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan sebelumnya oleh Ketua Umum Nasyiatul 'Aisyiyah, Dyah Puspitorini. Dyah menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam kontribusi terhadap bangsa. “Dalam konteks menguatkan bangsa, laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, setara dan punya kesempatan yang sama untuk berbuat bagi bangsa”, papar Dyah. Dyah juga mengungkapkan bahwa keadaan pandemi tidak menyurutkan semangat kader NA untuk terus berjuang menjalankan seluruh program dan gerakannya. 
 
Dalam pesan yang lain, Prof.Chamamah Soeratno, ketua NA tahun 1965-1968 mengungkapkan bahwa Muhammadiyah yang lahir pada masa penjajahan,  telah melahirkan NA untuk berjuang memberikan penyadaran, pemberdayaan dan menaikkan derajat perempuan yang pada masa itu termarginalkan secara sosial. Hal ini adalah gerak melintas batas yang telah dilakukan pendiri-pendiri Muhammadiyah-‘Aisyiyah. 
 
Chamamah mengajak kader untuk membuat bangsa bahagia total, yakni bahagia total adalah bahagia dunia akhirat. Menurutnya cara agar bangsa bahagia total adalah dengan bergerak membantu sesama yang membutuhkan, seperti jika melihat orang lapar bergerak mencukupi makannya, jika melihat orang kurang pendidikan wajib bergerak dan semisalnya.
 
“Ayo membuat masyarakat Indonesia bahagia secara total, bahagia total itu ya bahagia dunia akhirat. Kalau lihat orang lain tidak bisa makan ya dikasih makan to, kalau lihat orang lain tidak pinter ya dipinterke to,” jelasnya
 
Dalam sesi setelahnya, Alimatul Muflihati, ketua NA 2008-20012, menerangkan bahwa dalam sejarah NA (Siswo Proyo Wanito) telah bergerak dalam bidang pendidikan, dan advoksi perempuan dan anak. Menurutnya saat itu NA telah mengajarkan ilmu-ilmu umum di luar ilmu-ilmu agama, mengorganisir TK ‘Aisyiyah Bustanul Atfhal (ABA) serta koperasi.
 
Menurut Alimatul, NA juga sangat progresif pada masanya karena telah menyelenggarakan tabligh dari kampung ke kampung (pendidikan non-formal), mengadakan iuran Idul Adha, pawai syiar peringatan hari besar Islam, dan lain sebagainya. (Suri)