Rapat Koordinasi Nasional LPCR “Konsolidasi Organisasi dan Penguatan Strategi Gerakan Menuju Kondisi Cabang dan Ranting Ideal”

15 September 2016 11:40 WIB | dibaca 1464

 

Pada tanggal 6 - 9 September lalu diadakan Rapat Koordinasi Nasional LPCR dengan tuan rumah Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Rakornas LPCR)  ini diadakan berkaitan dengan, Muhammadiyah sebagai organisasi yang telah memasuki usia abad kedua, dihadapkan pada tugas dan tantangan baru yang makin berat, bukan hanya karena makin kompleksnya perkembangan masyarakat yang menuntut berbagi penyesuaian, namun juga kemunculan banyak organisasi Islam baru mengharuskan Muhammadiyah memperbarui strategi dakwah dan perjuangannya. Salah satu tantangan tersebut adalah penataan dakwah dan perjuangan di tingkat akar rumput melalui pengembangan Cabang dan Ranting. Secara hirarki keorganisasian, Cabang dan Ranting adalah level organisasi paling bawah, sehingga sering juga dilihat dari logika garis wewenang dimana pimpinan Cabang dan Ranting sekadar pihak yang menunggu dan menjalankan perintah pimpinan yang di atasnya

Padahal sebenarnya Cabang dan Ranting justru memainkan peran ujung tombak dalam kinerja persyarikatan Muhammadiyah: Pertama, Cabang dan Ranting merupakan ujung tombak dalam rekruitmen anggota dan kaderisasi. Kedua, ujung tombak dalam menjalankan dakwah keagamaan. Ketiga, ujung tombak dalam ukhuwah dengan organisasi Islam yang lain, maupun dalam perjumpaan dengan organisasi sosial yang lain. Keempat, duta persyarikatan di masyarakat. Kelima, ujung tombak dalam membela kepentingan ummat.

Namun pada kenyataannya justru banyak permasalahan yang ditemukan pada ranting-ranting Muhammadiyah, Pertama, secara organisatoris masih rapuh. Masih banyak Cabang dan Ranting yang belum memiliki kepengurusan yang lengkap, dan mampu menjalankan tertib organisasi, dalam hal administrasi, keuangan, maupun kegiatan. Kedua, belum adanya tertib organisasi menyebabkan kepengurusan Cabang dan Ranting rentan konflik internal terutama terkait dengan pengelolaan amal usaha. Ketiga, lemah inisiatif, cenderung pasif dan menunggu instruksi dari atas. Keempat, kondisi diatas diperparah oleh fakta bahwa sumber daya manusia pimpinan Cabang dan Ranting masih banyak di dominasi kalangan usia lanjut. Kelima, akibatnya Cabang dan Ranting Muhammadiyah cenderung monoton dalam mengadakan kegiatan, serta kurang mampu merespon perkembangan dan tuntutan lokalitas. Keenam, kondisi di atas akhirnya membuat organisasi di tingkat Cabang dan Ranting memiliki daya saing yang rendah dibanding organisasi Islam baru yang banyak bermunculan, yang telah banyak mengambil alih jamaah maupun amal usaha Muhammadiyah.

Diungkapkan oleh Alimatul Qibtiyah yang juga hadir pada Rakornas LPCR tersebut bahwa banyak ditemukan kesenjangan yang berbeda pada permasalahan tiap-tiap ranting daerah, "Jadi semisal kita menemukan ternyata ranting di jawa timur itu sudah sangat maju, mereka mempunyai website yang bisa memunculkan data kader, dan pemetaan masalah yang rapi, namun untuk ranting di Indonesia timur memiliki masalah yang kompleks, seperti di daerah NTT dan NTB contohnya, yang semisal kalau ranting itu memiliki anggota minimal sejumlah 15, tapi kenyataannya hanya memiliki 3 anggota, nah hal yang seperti ini yang kita bahas untuk mendapatkan strategi yang baik dalam pemecahannya," Ungkan Alim, ketua Lembaga Pengembangan dan Penelitian Pimpinan Pusat 'Aisyiah.

Dalam Rakornas LPCR tersebut para pimpinan cabang dan ranting saling berbagi pengalaman terbaik, juga laporan dan membuat strategi demi menuju kondisi cabang dan ranting ideal. Agenda ini juga bertujuan untuk mengetahui dinamika dan perkembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah di Seluruh Indonesia. (NK)