Rakornas Diklitbang PP Muhammadiyah Angkat 9 Isu PTMA

19 Oktober 2019 09:04 WIB | dibaca 260

Yogyakarta – Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Rapat Koordinasi Nasional Bidang Akademik dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA), pada Jumat (18/10) di Hotel Inna Garuda Malioboro. Acara yang bertemakan “Peningkatan Mutu dan Inovasi PTMA di Era Revolusi Industri 4.0” ini dihadiri oleh sebagian jajaran PP Muhammadiyah, Pimpinan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Pimpinan PTMA, serta Narasumber dan tamu Undangan yang seluruhnya berjumlah 254 peserta. Pemukulan gong oleh Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad menjadi tanda bahwa acara yang akan diadakan selama tiga hari kedepan Jumat-Minggu (18-20/10) resmi dibuka.

Muhammad Sayuti, selaku Ketua Penyelenggara Rakornas menyampaikan dalam sambutannya bahwa Rakornas ini adalah Rakornas yang istimewa, karena merupakan kegiatan Rakornas yang terakhir pada periode ini. Kemudian, Muhammad Sayuti menegaskan, “Rakornas ini juga istimewa apalagi dengan dua bidang yaitu Bidang Akademik dan al-Islam Kemuhammadiyahan, mungkin ini yang pertama untuk AIK,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, bahwa Rakornas kali ini menjadi rekor karena jumlah pesertanya terbanyak yakni diikuti oleh 254 peserta. Prof. Lincolin Arsyad dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa ada sembilan isu pokok yang akan dihadapai PTMA di masa mendatang. “Ini masalah yang sangat krusial yang akan kita hadapi bersama di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Sembilan Isu yang disampaikan oleh Prof. Lincolin, yaitu perubahan akreditasi Institusi/Prodi, perubahan regulasi pendidikan, pentingnya branding dan re-branding, peningkatan kualitas dan kuantitas SDM, perbaikan sisitem kelembagaan, penerapan sistem dan teknologi informasi di semua bidang, persaingan dengan PTN maupun dengan PTS, peningkatan peran PTMA sebagai media dakwah dan wahana pengembangan yang par excellence kemudian yang terakhir adalah peningkatan budaya akademik dan internasionalisasi.

Lebih lanjut, Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, turut memberikan amanat dalam kegiatan Rakornas tersebut. Haedar menyampaikan bahwa dasar pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan holistik. Konsep pendidikan holistik menjadi karakter dari pendidikan Muhammadiyah. “Pendidikan holistik adalah merupakan satu paradigma pendidikan yang menyeluruh. Kalau orang menyebutnya sebagai perspektif yang berangkat dari asumsi bahwa pada dasarnya manusia itu dapat menemukan identitas makna dan tujuaannya melalui hubungan dengan orang lain dan proses pendayagunaan seluruh potensi akal pikiran untuk tumbuh menjadi manusia yang dewasa, manusia yang utuh,” ujarnya. Haedar menyampaikan bahwa tugas perguruan tinggi adalah memberikan pencerahan serta harus bergerak di area moral atau akhlakul karimah.

Rangkaian acara pembukaan Rakornas diakhiri dengan launching dua buah buku yang merupakan hasil kerja sama antara Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Pengembangan PP Muhammadiyah. Buku tersebut merupakan buku filsafat yang masing-masing berjudul “Jejak-jejak Filsafat Pendidikan Islam: Menggagas Paradigma Pendidikan Muhammadiyah” dan “Jejak-jejak Filsafat Pendidikan Muhammadiyah: Membangun Basis Etis Filosofis bagi Pendidikan.” (Fazira/AAM)

Sumber foto: muhammadiyah.or.id