Program Psikososial Atasi Situasi di Masa Pandemi Covid-19

04 Agustus 2020 11:04 WIB | dibaca 221

Dalam situasi krisis di masa pandemi Covid-19 ini, banyak beredar informasi hoax di media sosial. Akibatnya, pembaca ataupun penonton dibuat bingung dan keliru dalam memahami informasi terkait Covid-19. Menurut Eli Nur Hayati, Pengajar Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), diperlukan program literasi digital untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat dalam membaca berita yang berkaitan dengan informasi Covid-19 di media sosial.

Selain itu, perubahan sosial, ekonomi, politik dan relijius akibat pandemi ini menjadi pemicu timbulnya instabilitas masyarakat. Eli mencontohkan munculnya keluhan seperti stres, kesepian, kecemasan, hingga ketakutan yang berlebihan. Dikutip dari majalah Suara ‘Aisyiyah, Eli mengatakan, program psikososial diharapkan dapat mengatasi persoalan tersebut.

“Program psikososial diharapkan dapat membantu masyarakat menemukan tempat mengadu dan memberikan feedback atau umpan balik yang memadai, agar gejala mental yang kurang baik dapat teratasi,” ungkapnya.

Setidaknya, terdapat lima kategori orang-orang yang perlu memperoleh layanan psikososial. Pertama, kelompok masyarakat yang literasinya rendah, seperti kelompok masyarakat dengan sosial ekonomi serta pendidikan menengah ke bawah. Kedua, individu dengan kondisi mental yang rapuh karena berbagai masalah di masa lalunya. Ditambah wabah pandemi yang dapat memicu stres kelompok ini.

Ketiga, kelompok profesi kesehatan, yang beban kerjanya bertambah dan berada di garis terdepan dan terpapar langsung. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu bagi masalah kesehatan mental yang memerlukan intervensi psikososial.

Keempat, kelompok perempuan dan anak. Rumah dapat menjadi wilayah berisiko bagi perempuan dan anak terpapar tindak kekerasan domestik (rumah tangga). Situasi interaksi yang intens akibat durasi pertemuan keluarga di rumah yang lama ditambah dengan stresor (sumber stres) yang meningkat dapat berpotensi mengakibatkan kekerasan bagi perempuan dan kekerasan anak dari orang tuanya.

Kelima, kelompok pekerja tidak tetap, musiman, atau harian. Mereka yang berada di sektor ini rawan kehilangan mata pencaharian sehingga mengalami stres psikososial yang tinggi.

Menyikapi berbagai masalah tersebut, Muhammadiyah-‘Aisyiyah telah melakukan upaya pendampingan psiko-eko-religio-sosial bagi masyarakat. Khusus untuk layanan psikososial, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) sebagai pintu khusus respon kebencanaan, telah membentuk satuan tugas psikososial yang terdiri dari psikolog di berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia.

Sumber: Disarikan dari Majalah Suara 'Aisyiyah edisi 5 (Mei, 2020): 22