PP 'Aisyiyah Respon Warga Terdampak Banjir di Yogyakarta

19 Maret 2019 12:24 WIB | dibaca 500

YOGYAKARTA -- Sebagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yakni Imogiri dan Kulon Progo dilanda banjir pada Ahad (17/03) lalu. Merespon hal tersebut, Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah beri bantuan kepada korban banjir melalui posko sementara di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Imogiri, Jl. Makam Raja No.18, Imogiri, Bantul dan di salah satu rumah warga yang dijadikan posko daerah Temon, Kulon Progo.

Mahsunnah Syakir, Ketua Lembaga Kebudayaan PP ‘Aisyiyah mewakili PP ‘Aisyiyah mengatakan bahwa PP ‘Aisyiyah berusaha untuk gerak cepat membantu warga terdampak musibah banjir tersebut. “Kami mencoba bergerak cepat untuk merespon berita banjir ini dengan membantu mencukupi fasilitas yang dibutuhkan terdampak” ujarnya.

Bantuan melalui posko sementara SMP Muhammadiyah Imogiri diterima oleh Muhammad Nur Amin selaku Ketua Posko. Ia mendampingi pengungsi dari sebagian wilayah Imogiri yang berada di posko sementara tersebut sejak Ahad hingga Senin (17-18/03). Menurutnya, pengungsi tersebut berasal dari tempat tinggal yang dekat dengan sungai, sedangkan sebagian warga di daerah Pundong tidak mengungsi karena banjir hanya setinggi lutut.

“Di Imogiri sendiri yang harus dievakuasi adalah mereka yang kondisi tempat tingalnya tidak memungkinkan, dan arus sungai juga masih cukup deras sehingga banyak barang warga yang hanyut. Bahkan di Pondok Abdul Alim seluruh santrinya kehilangan sepatu dan stok beras dapur pondok ikut hanyut. Tapi sebagian lainnya hari ini (18/03) sudah kembali ke rumah masing-masing,” cerita Nur Amin.

Nur Amin menuturkan selama mendampingi para pengungsi menerapkan sistem distribusi seperti di Palu, Sulawesi Tenggara dimana bantuan didistribusikan dengan tiga cara, yakni pertama dengan Posyan (Pos pelayanan) yang diassessment bersama, kemudian melalui Pos satelit dengan menghubungi Pimpinan Ranting (PR) Muhammadiyah-‘Aisyiyah setempat, serta distribusi langsung ke individu terdampak banjir.

Musibah banjir tersebut dianggap sebagai hikmah luar biasa bagi Nur Amin, pasalnya itu jadi momentum warga untuk mempercayai bahwa ‘Aisyiyah-Muhammadiyah memiliki kepedulian terhadap warga terutama para korban banjir. “Visinya adalah musibah membawa hikmah, dulu ‘Aisyiyah kurang diterima namun setelah bencana warga jadi terbuka terhadap ‘Aisyiyah atas kepedulian yang diberikan,” ungkapnya.

Sungai yang kotor akibat luapan banjir mengakibatkan berkurangnya pasokan air bersih, maka Nur Amin dan tim membentuk Water and Sanitation (WAS) untuk menyediakan air bersih bagi kebutuhan konsumsi air warga sekitar.

Sementara itu bantuan melalui posko sementara di Temon, Kulon Progo diterima langsung oleh Heni, anggota Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), ‘Aisyiyah Temon. Seperti di posko sementara Imogiri, sebagian pengungsi di Temon, Kulon Progo sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Heni menuturkan bahwa banjir dengan volume air tertinggi melanda daerah Bendungan, Kaliyan, Tayuban, dan Panjatan. Evakuasi warga dilakukan dengan menggunakan perahu karet karena tingginya banjir tersebut. “Kami sampai menggunakan perahu karet untuk evakuasi, karena airnya mencapai leher sapi” tutur Heni.

“Karena itu kami sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan dan insyaAllah akan kami salurkan satu per satu kepada warga,” tambahnya. Bantuan berupa tikar, selimut, dan pakaian ditampung Heni di rumahnya yang dijadikan posko sementara untuk kemudian didistribusikan kepada warga yang masih mengungsi. (AAM)