Pimpinan Pusat 'Aisyiyah Bersama Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta Adakan Talkshow Bertajuk "Film Bangun Generasi Melek Kesehatan Reproduksi"

19 Desember 2016 14:17 WIB | dibaca 1106

Kesehatan reproduksi bukan hanya urusan perempuan tetapi juga urusan semua insan agar derajat kesehatan reproduksi di Indonesia menjadi lebih baik. Hal tersebut disampaikan Noordjannah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam pembukaan Talkshow bertema “Film Bangun Generasi Melek Kesehatan Reproduksi”, di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Sabtu,17/12). Noordjannah juga mengapresiasi banyaknya anak muda yang hadir dalam talkshow dan mengikuti kompetisi film tentang kesehatan reproduksi.
 
Dalam pembukaan tersebut, Warsiti, Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menyampaikan banyaknya problem kesehatan reproduksi dan juga informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi. “Media memegang peran penting dalam membangun generasi yang memiliki kesadarantentang kesehatan repoduksi”, ujarnya.
 
Talkshow ini sendiri merupakan puncak acara setelah sebelumnya berlangsung Kompetisi Video bagi kaum muda yang mengambil tema “Bergandeng Tangan Membangun Generasi Melek Kesehatan Reproduksi.” Dalam Talk Show, hadir tiga narasumber, yakni Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga merupakan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Edi Cahyono, sutradara film ‘Siti’, yaitu peraih film terbaik Citra Festival Film Indonesia 2015; dan Mega Ardina, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
 
 
Menurut Tri Hastuti, bicara tentang kesehatan reproduksi sejatinya bukan hanya factor biologis tetapi juga bicara tentang relasi antara laki-laki dan perempuan. Ia mengambil contoh tingginya angka HIV/AIDS pada ibu rumah tangga karena relasi yang tidak setara antara suami dan istri dalam rumah tangga. Tri menambahkan, pada remaja pun, ketidaksetaraan relasi antara laki-laki dan perempuan rentan terjadi dalam pacaran.
 
Edi sendiri lebih tertarik mengangkat film tentang kemanusiaan. Cerita menurut Edi merupakan kekuatan dari film. Lahirnya film Siti, menurut Edi, terinspirasi saat ia membaca berita tentang kematian perempuan usia 18 tahun yang bekerja sebagai pemandu karaoke. “Saya bertanya kepada diri saya, sebeulnya hidupnya untuk siapa?” Kemiskinan, tambah Edi, membuat orang dapat melakukan apapun untuk bertahan hidup. Ke depan, Edi juga mengusulkan agar diselenggarakan Kompetisi Film tentang kesehatan reproduksi.
 
Di penghujung acara, diumumkan Pemenang kompetisi video, pemenang pertama, film berjudul Sadari oleh Winda Dwi Astuti dari Universitas Ahmad Dahlan. Pemenang kedua, Cegah Pernikahan Dini untuk Melindungi, oleh Nashwan Ihsan Fazil dari Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta; Anisa Story oleh Nabila Linati Fajri dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan film favorit berjudul Kenali Sejak Dini. [NKA]