Perhatikan Konsumsi Anak Untuk Cegah Stunting

23 Juni 2020 16:19 WIB | dibaca 31

Salah satu dampak di masa pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh orang tua dalam memberikan makanan pada anak. Padahal memberikan asupan makanan bergizi dan bernutrisi menjadi poin penting kepada anak terutama di 1000 hari pertama kehidupannya. Hal itu perlu dilakukan untuk mencegah stunting pada anak.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, H. Fery Fahrizal, SKM., MKM mengatakan bahwa pencegahan stunting juga menjadi prioritas nasional. Hal itu Fery sampaikan dalam webinar yang diadakan YAICI dan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah bertema “Lindungi Anak Indonesia dari Stunting di Masa Pandemi Covid-19” melalui aplikasi Zoom.

“Target kita di tahun 2023 harus menurunkan angkanya sampai 14 persen prevelansi stunting. Dari hasil riset tahun 2018 di Sumsel berada di 25,9 – 48,1 persen. Tetapi kemudian dari hasil survei alhamdulillah sudah ada penurunan dengan range 17-41 persenan,” jelasnya.

Meskipun sudah ada penurunan, lanjutnya, namun masih harus mencapai target di bawah 20 persen. Maka perlu pemantauan dari berbagai pihak mulai dari Posyandu dengan mencatat tumbuh kembang anak dari berat badan, tinggi badan dan lain-lain.

Fery berpesan bahwa untuk mencegah stunting harus mengetahui penyebabnya. Oleh karena itu, asupan gizi di 1000 hari pertama kehidupan harus dipenuhi.

Sementara itu, Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Chairunnisa mengatakan bahwa penyebab stunting itu multi dimenasi dan yang juga paling penting adalah di 1000 hari pertama kehidupan.

“Penyebabnya seperti gizi buruk, kurang pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, terbatasnya layanan kesehatan, praktik pengasuhan yang tidak baik, kurang akses air bersih dan sanitasi,” jelas Chairunnisa.

Berdasarkan hasil riset tahun 2019, lanutnya, terhadap 2.700 responden bahwa masih ada kebiasaan mengkonsumsi susu kental manis (SKM). Padahal SKM lebih banyak mengandung gula.

Hal tersebut dibenarkan Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat yang mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan SKM adalah susu. Akhirnya tidak sedikit orang tua yang memberikan SKM untuk dikonsumsi untuk anaknya.

“Tentu ini tidak baik dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi, karena berpengaruh pada tumbuh kembang serta menyebabkan stunting. Sebab kandungan gula dalam SKM hampir 50 persen dari komposisinya. Padahal ada batasan jumlah konsumsi gula yang diperbolehkan sesuai rentang usianya,” jelasnya.

Sebagi informasi, batasan gula harian pada anak berdasarkan usia yaitu tiga tahun dengan 2-5 sendok teh, 4-6 tahun dengan 2,5-6 sendok teh, 7-12 tahun dengan 4-8 sendok teh dan di atas 13 tahun dengan 5-9 sendok teh.