Pengasuhan Anak Di Era Digital Harus Disikapi secara Serius

01 Februari 2020 14:34 WIB | dibaca 121

Bantul -- “Anakmu bukanlah anakmu, tetapi anak zamannya.” Kalimat tersebut dikutip Siti Zulaikha, Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWA DIY) dalam menggambarkan keresahannya terhadap keadaan anak masa kini yang hidup di era digital.

Ungkapan tersebut ia lontarkan saat memberikan sambutan dalam acara Seminar dan Workshop kerjasama Majelis Hukum dan HAM (MHH) PWA DIY dengan Fakultas Hukum, Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Aula Islamic Centre UAD sebagai tempat berlangsungnya acara dipenuhi para peserta yang antusias dengan tema Seminar dan Workshop, “Pengasuhan Anak Di Era Ditigal dan Pendampingan Anak yang Berhadapan dengan Hukum.”

“Anak yang diasuh saat ini adalah generasi milenial tetapi orang tua yang mengasuh adalah generasi baby boomer atau bahkan generasi kolonial,” tambahnya. Perbedaan generasi dan situasi ini menjadi persoalan tersendiri dalam mengasuh anak di era ditigal.

Ketua Program Studi FH UAD, Rahmat Muhadjir sekilas mengatakan bahwa di samping sisi positif yang diberikan, tidak sedikit sisi negatif yang dimunculkan dari penggunaan gadget sebagai wujud digitalisasi zaman.

Orang tua harus siap dan memiliki semangat belajar berbagai hal di era digital ini. Selain itu untuk lebih mengetahui tipe parenting yang tepat bagi anak generasi milenial. Hal tersebut merupakan langkah bagi orang tua untuk menghadapi persoalan ketimpangan zaman pada anak, karena cara pengasuhan yang berbeda dengan zaman dahulu.

Zulaikha melanjutkan bahwa semangat belajar tentang dunia anak juga merupakan perintah dalam Al Qur’an, QS An-Nisa ayat 49. Yakni perintah untuk tidak meningalkan generasi yang lemah, baik secara ekonomi, agama, karakter, maupun jiwa sosialnya. Maka belajar mengenai dunia anak yang sesuai zaman merupakan bentuk cinta dan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Ilmu yang didapatkan sebagai bekal untuk membentuk atau mencetak generasi yang kuat dan unggul.

Mengurus anak juga harus memiliki landasan yang kuat, misalnya melakukan Tafsir Berkemajuan terhadap maqasid syari’ah terkait dengan hifdzun nasl (menjaga keturunan). Jika dalam tafsir klasik tentang hifdzun nasl berkisar di antara persoalan untuk pembahasan cara menghindari zina. Maka dalam Tafsir Berkemajuan, harus lebih luas.

“Karena ini juga termasuk dalam maqosid syariah, tentang hifdzun nasl (menjaga keturunan). Yaitu memberi rasa aman, nyaman, dan melindungi anak kita. Ini sebagai Tafsir Berkemajuan. Bukan dengan menelantarkan, membunuh atau membiarkan anak kita. Tapi kita harus memberikan yang terbaik buat anak kita,” urainya.

Di akhir, Zulaikha berharap materi seminar dan workshop yang diberikan dapat disebarluaskan di lingkungan maupun jamaah para peserta.