Pendekatan Nilai-Nilai Keagamaan Atas Kesehatan Reproduksi Wanita: Pengalaman 'Aisyiyah

30 November 2017 18:32 WIB | dibaca 855

 

Pendekatan Nilai-Nilai Keagamaan Atas Kesehatan Reproduksi Wanita: Pengalaman 'Aisyiyah

oleh :Tri Hastuti Nur R

 

Latar Belakang

Perempuan Indonesia masih dihadapkan pada problem kesehatan reproduksi. Saat ini angka kematian ibu melahirkan pada pada angka 359/100.000. Indonesia gagal memenuhi target MDGs untuk menurunkan angka kematian ibu pada angka 102/100.000 kelahiran. Demikian halnya dengan kematian perempuan karena kanker payudara dan kanker serviks. Kanker payudara dan kenker serviks merupakan pembunuh perempuan nomor 2 dari berbagai jenis kanker. Angka unmeet need di Indonesia masih pada angka 12,70; penyumbang angka unmeet need tertinggi di Papua, Papua Barat, Maluku dan NTT. Problem lain terkait dengan pemberian ASI eksklusif; cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih sangat rendah yaitu 54,3 %. Masalah penting yang lain adalah tingginya angka anemia di kelompok perempuan baik remaja maupun ibu-ibu.

  

Problem - problem kesehatan reproduksi perempuan di atas dikarenakan factor strktural dan factor kultural. Faktor structural adalah akses perempuan atas layanan kesehatan perempuan maupun akses informasi; sementara itu factor kultural adalah hambatan budaya lokal, gender dan juga interpretasi agama yang menghambat pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi. Dalam masyarakat perempuan diposisikan sebagai obyek pengaturan dalam masyarakat dan tidak memiliki relasi yang setara dengan laki-laki. Paradigma tersebut diadopsi oleh pengambil kebijakan di berbagai level sehingga berdampak pada minimnya alokasi anggaran dan kebijakan terkait kesehatan reproduksi. Demikian halnya dengan pemahaman konservatif pada sebagian kelompok keagamaan, tokoh masyarakat dan tokoh agama atas relasi laki-laki dan perempuan terkait dengan peran fungsi reproduksi perempuan. Kepemilikan organ reproduksi perempuan; tidak menjadikannya memiliki hak layanan atas peran-peran reproduksinya. Bahkan dikarenakan kepemilikan organ reproduksinya, perempuan mengalami berbagai pelabelan terkait tubuhnya yang merugikan dirinya dan menjadikan dirinya termarginalisasi baik di masyarakat maupun akses layanan. Masih timpangnya relasi gender dalam keluarga (suami istri) juga berdampak rendahnya akses perempuan dan pengakuan atas hak reproduksinya bahkan berdampak pada kekerasan dan kematian.

‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muslim terbesar di Indonesia; sejak awal berdirinya tahun 1917; memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi perempuan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religious maka pendekatan nilai-nilai agama yang berkemajuan menjadi siginifikan dalam mendorong pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi perempuan.

 

Metode dan Strategi

Interpretasi Baru Pengajaran Islam Berkemajuan tentang Hak Reproduksi


Salah satu hambatan dalam pemenuhan hak kesehatan reproduksi adalah interpretasi agama yang memposisikan perempuan sebagai obyek pengaturan tubuh dan tidak setara dengan pasangannya (suami).  Meskipun Islam mengajarkan bahwa perempuan sesungguhnya memiliki posisi yang mulia ketika menjalankan peran reproduksinya dan memiliki posisi yang setara dengan laki-laki dalam (muasyarah bil maruf). Oleh karena itu, ‘Aisyiyah melakukan interpretasi berbagai ayat dalam Al Quran yang selama ini dipahami salah sebagai salah satu strategi mendorong pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi perempuan.  Produk-produk pemikiran Islam Berkemajuan tentang kesehatan reproduksi didiskusikan dengan majelis tarjih dan menjadi panduan dalam melakukan edukasi untuk pemenuhan hak kesehatan reproduksi bagi perempuan baik secara internal anggota ‘Aisyiyah maupun masyarakat secara umum. Adapun topik-topik tentang kesehatan reproduksi ini antara lain tentang makna relasi setara laki-laki dan perempuan, jihad dalam kematian ibu melahirkan, ASI Eksklusif, aurat dan perencanaan keluarga (KB).

Kepemimpinan Perempuan


Untuk melakukan sosialisasi paham keagamaan yang berkemajuan; strategi ‘Aisyiyah adalah melakukan peningkatan kapasitas untuk tokoh agama perempuan maupun laki-laki. Sebagian besar tokoh agama baik laki-laki maupun perempuan masih belum memiliki pemahaman tentang kesetaraan gender sementara mereka memiliki potensi untuk melakukan edukasi di komunitas. Oleh karena para tokoh agama ditraining dengan materi-materi kespro dengan perspektif Islam yang berkemajuan dan persamaan gender.

Selain itu ‘Aisyiyah juga mendukung para tokoh agama perempuan untuk melakukan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi agar melakukan edukasi baik untuk kelompok perempuan maupun kelompok laki-laki. Tokoh agama perempuan ditingkatkan pemahaman dan ketrampilan komunikasinya agar memiliki kemampuan dalam melakukan edukasi di komunitas. Strategi lain yang dikembangkan adalah pendekatan suami untuk mendukung istri dalam menjalankan peran-peran reproduksinya. Dalam mendorong kepemimpinan perempuan ini, nilai-nilai agama yang disampaikan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin baik di wilayah publik maupun domestik.; juga pesan-pesan bahwa suara perempuan ketika berbicara itu bukan aurat. Jadi tidak ada keraguan bagi perempuan untuk berbicara di depan publik.

 

Edukasi dan Kampanye


Strategi dan edukasi kesehatan reproduksi dengan pendekatan nilai-nilai Islam berkemajuan dilakukan melalui komunitas, media baik media konvensional maupun media sosial. Strategi ini bertujuan untuk mensosialisasikan secara meluas nilai-nilai Islam berkemajuan dalam isu-isu kesehatan reproduksi. Mitos-mitos, keyakinan dan pemahaman yang salah atas relasi laki-laki perempuan dan penghargaan peran reproduksi perempuan menjadi materi yang penting dalam melakukan edukasi di komunitas termasuk dikampanyekan melalui media sosial dan media konvensional. Harapannya perempuan dan juga laki-laki memiliki kesadaran dan pemahaman yang baru atas isu-isu kesehatan reproduksi terkait dengan pemahaman Islam yang berkemajuan. Selain itu, ‘Aisyiyah juga mengembangkan Gerakan Infaq Sayang Ibu untuk membantu para perempuan yang sedang menjalankan peran reproduksinya ataupun terkena kanker serviks dan kanker payudara namun mereka tidak memiliki uang. Pemahaman selama ini bahwa infaq hanya diperuntukkan untuk membantu orang miskin, anak yaitim dan membangun masjid; namun direinterpretasi bahwa infaq dapat digunakan untuk menolong perempuan agar terpenuhi hak-hak kesehatan reproduksinya.

 

Hasil

Produk Pemikiran Islam Berkemajuan tentang Kesehatan Reproduksi.
Berbagai produk pemikiran Islam yang berkemajuan tentang perempuan yang mendukung edukasi dan advokasi pemenuhan hak kesehatan reproduksi dari ‘Aisyiyah Muhammadiyah didokumentasikan dan dipublikasikan dikomunikasikan secara meluas. Produk-produk pemikiran berkemajuan tentang kesehatan reproduksi ini digunakan untuk panduan edukasi dan sosialisasi di komunitas oleh para tokoh agama; dan juga materi-materi komunikasi yang langsung disosialisasikan kepada publik baik melalui media ataupun berbentuk leaflet. Adapun materi-materinya sebagai berikut :

1.        Buku Materi tentang Kesehatan Reproduksi Menuju Keluarga Sakinah.
Buku ini mengandung nilai-nilai kesetaraan laki-laki perempuan dalam keluarga dalam perspektif Islam berkemajuan. kemuliaan derajat perempuan ketika menjalankan peran-peran reproduksi, kewajiban suami ketika istri sedang menjalankan peran reproduksi. Salah satu istilah penting adalah jihad untuk ibu saat dia meninggal setelah melahirkan bayi. Kematian ibu tersebut selalu bermakna jihad, terlebih jika keluarga dan dinas yang terkait tidak melindungi atau menjamin proses persalinan ibu hamil dan tidak berusaha menyelamatkan saat ada resiko bahaya. Buku panduan ini dicetak dan didistribusikan kepada tokoh agama dan kader ‘Aisyiyah .

2.       Buku Panduan Edukasi tentang Menyusui Membangun Generasi Emas
Bahan ini mengandung perspektif progresif Islam tentang menyusui. Buku ini didistribusikan ke tokoh agama dan kader Aisyiyah Muhammadiyah. Dukungan keluarga merupakan faktor penting untuk mendukung keberhasilan menyusui. Suami harus dipahami bahwa kewajiban merawat anak mereka. Tugas domestik bukan hanya tanggung jawab wanita, tapi juga untuk suami. Karena itu, suami harus mendapat pendidikan dan informasi bagaimana merawat anak. Suami telah memperhatikan nutrisi ibu untuk istrinya. Saat istrinya sedang sibuk mengerjakan tugas rumah tangga, maka dia yang menghubungi bayinya lebih jarang. Kondisi tersebut menyebabkan produksi ASI kurang. Suami sebaiknya ikut merawat bayinya termasuk melakukan pijat oxytocin untuk membantu memperlancar menyusui bagi bayinya.

3.       Buku Materi tentang Keluarga Berencana dan IVA/Papsmear
Buku ini berisi materi hubungan kesetaraan antara wanita dan pria dalam keluarga. Di keluarga pria dan wanita sebaiknya berdiskusi merencanakan keluarga mereka kapan akan punya bayi dan jenis kontrasepsi akan menggunakannya. Untuk mengendalikan jumlah anak-anak, ‘Aisyiyah mengutip Al-Quran bahwa manusia juga tidak bisa meninggalkan generasi lemah di masa depan. Bila wanita akan menggunakan kontrasepsi seperti AKDR, vaginanya (seperti aurat) harus terlihat oleh layanan kesehatan dan juga saat dia melakukan skrining untuk iva dan papsmear. Pakai metode ishtihsan wanita bisa menunjukkan padanya "aurat" dalam kondisi darurat untuk menyelamatkan hidupnya.

4.      Media Informasi terkait IVA/Papsmear dan Sadarnis.
Media informasi berupa selebaran, roll banner dan beberapa media informasi yang lain. Media berupa selebaran kemudian didistribusikan untuk wanita di komunitas. Media infoermasi ini berisi fakta kanker serviks dan payudara, serta mengapa kita harus melakukan skrining.

5.       Media informasi terkait GISI (Gerakan Infaq Sayang Ibu). Informasi ini sangat penting untuk mendidik dan membujuk semua orang untuk menyumbangkan uang untuk wanita. Dalam pengajaran Islam, sumbangan bisa diberikan kepada perempuan untuk masalah kesehatan reproduksi, tidak selalu untuk anak yatim atau masjid.

6.      Web seri poligami, perkawinan anak, kesetaraan jender dalam keluarga dan "aurat". Seri Web dari perspektif Islam progresif perempuan sangat penting karena akses di media sosial semakin meningkat. 'Aisyiyah berbagi dan mendidiknya melalui media sosial.

 

Kepemimpinan Perempuan

1.        Tokoh agama baik perempuan maupun laki-laki mendidik masyarakat tentang masalah kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam progresif. 'Aisyiyah melatih pemimpin wanita dan pria untuk memahami isu-isu tersebut dan kemudian mereka mendidik masyarakat mereka. Tokoh agama mendidik perempuan dan laki-laki di masyarakat baik dalam forum homogen maupun heterogen. Di beberapa kabupaten perempuan tokoh agama sudah mendidik masalah ini dalam forum pria. Hal ini penting karena selama ini wanita langka mendidik Islam dalam forum pria. Tokoh agama memiliki peran penting untuk mendidik isu kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam progresif karena mereka adalah agen perubahan untuk mendukung hak reproduksi perempuan

2.       Pria mendukung pendekatan terhadap hak reproduksi. Keyakinan ‘Aisyiyah bahwa patriarki interpretasi yang salah adalah akar hubungan yang tidak setara antara pria dan wanita. Jika perempuan dan laki-laki setara, maka hak reproduksi akan terpenuhi. Salah satu strategi 'Aisyiyah adalah dukungan suami bagi perempuan. Laki-laki mendapatkan edukasi tentang hak-hak kesehatan reproduksi perempuan, kewajiban suami kepada istri yang sedang menjalankan peran reproduksi dan pentingnya dukungan suami kepada istri pada saat istri sedang menjalankan peran reproduksinya. Berbagai program dukungan suami yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah antara lain edukasi tentang hak-hak kesehatan reproduksi perempuan dalam perspective Islam berkemajuan, champions Ayah ASI, lomba masak bergisi untuk anak dan istri; dukungan suami melakukan test IVA; dan dukungan suami memilih dan menggunakan alat kontrasepsi serta dukungan suami untuk istrinya yang sedang menderita kanker payudara dan kanker serviks.

 

Edukasi dan Kampanye

‘Aisyiyah bekerja di 34 provinsi, 448 daerah kabupaten dan puluhan ribu komunitas di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu organisasi massa, kekuatan ‘Aisyiyah adalah basis keanggotaan yang cukup kuat dan mengakar di komunitas. Untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam berkemajuan, ‘Aisyiyah melakukan beberapa kegiatan antara lain :

1.        Edukasi melalui Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA).

BSA terdapat di komunitas dengan anggota perempuan usia subur dan kader-kader ‘Aisyiyah yang tersebar di 38 kabupaten di Indonesia. Balai Sakinah ‘Aisyiyah merupakan tempat bertemu para perempuan untuk belajar bersama tentang isu-isu kesehatan reproduksi dengan Islam progressive, konseling, penguatan kepemimpinan maupun pemberdayaan ekonomi perempuan. Para kader dan anggota BSA mendiskusikan berbagai persoalan kesehatan reproduksi dari perspektif Islam progressive dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti pemberian ASI Eksklusif, melakukan screening IVA dan papsmear dengan meyakini pendekatan ishtihsan bahwa perempuan diperbolehkan terlihat auratnya untuk kepentingan keselamatan perempuan; dan peran suami dalam mendukung pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi.

2.       Kampanye melalui media dan media sosial

Untuk mempublikasikan secara meluas pemikiran Islam progressive tentang kesehatan reproduksi ini, ‘Aisyiyah menggunakan media konvensioanal  yaitu surat kabar dan radio, website ‘Aisyiyah ( www.’aisyiyah.or.id) dan media social baik instragram, Facebook, twitter maupun webseries untuk menyebar luaskan gagasan tersebut.