Pendampingan dan GACA, Solusi Kekerasan Di Lingkungan Sekolah

18 Februari 2020 12:14 WIB | dibaca 80

‘Aisyiyah turut hadir menanggapi kasus bullying yang terjadi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Butuh, Purworejo. Majelis Kesejahteraan Sosial (Makesos) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah melalui Majelis Hukum dan HAM (MHH) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah terus memantau perkembangan penanganan kasus tersebut.

Ro’fah, MSW., P.hD, selaku anggota Divisi Pemberdayaan dan Advokasi, Makesos PP ‘Aisyiyah menyatakan prihatin atas kejadian yang melibatkan tiga siswa SMP Muhammadiyah Butuh pada (11/2) yang lalu. “Kami prihatin dengan apa yang sudah terjadi dan yang semestinya tidak terjadi,” ungkapnya.

Ro’fah mengatakan terus berkoordinasi dengan MHH PWA Jateng dalam melakukan pendampingan terhadap korban dan mencoba mendampingi kasus tersebut.

“Saya sudah menghubungi MHH ‘Aisyiyah Jateng yang sudah melakukan visitasi dan melihat bagaimana kondisi untuk merencanakan proses pendampingan yang lain,” kata Ro’fah.

Sementara itu, melalui Ro’fah, Makesos PP ‘Aisyiyah berusaha melihat kasus yang terjadi dalam skala yang lebih besar. Pertama, adanya kekerasan yang terjadi di sekolah. Tindakan kekerasan verbal dan non-verbal yang tejadi di SMP Muhammadiyah Butuh melibatkan anak-anak yang menjadi korban dan merupakan pelaku kekerasan yang dalam bahasa pendampingan saat ini disebut dengan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Kedua, belum terlaksananya pendidikan inklusi di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, maupun yang terjadi di sekolah lain. Hal ini dapat menjadi pintu masuk bagi upaya Muhammadiyah – ‘Aisyiyah dalam melihat apa-apa saja yang terjadi di lembaga pendidikannya agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Di samping pendampingan korban, dalam konteks perlindungan terhadap anak, kasus yang terjadi dikaitkan dengan Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak (GACA) yang merupakan gerakan untuk melakukan perlindungan anak yang disosialisasikan ke seluruh Indonesia.

Tindakan yang telah diambil oleh ‘Aisyiyah dalam hal ini Makesos PP ‘Aisyiyah dengan MHH PWA Jateng ialah melakukan evaluasi, assessment atau melihat dan mengamati apa yang sebenarnya terjadi dan memikirkan apa yang dapat dilakukan. MHH PWA Jateng sendiri telah melibatkan relawan GACA untuk perlindungan anak di Jateng.

Apabila terjadi hal serupa, ‘Aisyiyah bersiap untuk menaruh perhatian dan kepedulian yang lebih besar terhadap kasus kekerasan ataupun kasus yang melibatkan ABH. Hal pertama yang akan menjadi perhatian ‘Aisyiyah ketika terjadi hal serupa adalah melakukan pendampingan terhadap korban dan keluarga.

“Kita seharusnya tidak hanya melakukan pendampingan terhadap korban tetapi juga terhadap pelaku dimana dalam kasus ini adalah anak-anak maka dalam sistem hukum kita dikembalikan kepada UU Peradilan Anak. Antara korban dan pelaku adalah sama-sama korban, jadi keduanya harus didampingi,” tukas Ro’fah.

Pendampingan terhadap sekolah atau lembaga pendidikan menurut Ro’fah juga menjadi hal yang penting dalam penanganan kasus kekerasan di sekolah. Penyebab kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh pelaku menandakan adanya sistem yang tidak benar dari sekolah. Pendampingan terhadap sekolah yang bersifat dua arah akan dapat memberikan solusi yang signifikan terhadap kasus-kasus serupa agar sekolah dapat menjadi lingkungan yang lebih aman untuk siswa.

Menanggapi pernyataan Pemerintah Jateng, Ro’fah mengungkapkan tidak sepakat dengan saran tersebut. Makesos PP ‘Aisyiyah dalam konteks kasus bullying SMP Muhammadiyah Butuh diwakili oleh Ro’fah menyatakan bahwa usulan Pemerintah Jateng untuk memindahkan korban ke Sekolah Luar Biasa (SLB) bukan solusi yang tepat.

“Solusi yang tepat adalah kita melakukan pendampingan dan memperbaiki sekolah ini menjadi sekolah yang aman dan nyaman buat semua peserta didik,” terangnya.

Ro’fah juga mengatakan pentingnya pemahaman sekolah inklusif bagi guru dan seluruh pihak di lingkungan sekolah. Sekolah inklusif adalah sekolah yang dapat menerima anak difabel menjadi anak yang dapat diterima oleh semua orang, terjadi suasana yang nyaman, menghargai di antara siswa terlepas dari bagaimana kondisi ekonomi maupun fisik atau yang lainnya.

“Seluruh warga sekolah harus memiliki kesadaran bahwa sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa sehingga harus menjadi rumah yang aman, yang nyaman, bukan rumah yang warganya menyakiti atau melakukan kekerasan pada anggota keluarga ataupun warga lainnya,” papar Ro’fah.

Pintu masuk yang dapat dilakukan ‘Aisyiyah saat ini adalah menggalakkan GACA di seluruh lingkungan masyarakat, termasuk lingkungan sekolah. GACA yang kemudian akan melahirkan program yang disebut dengan Sekolah Cinta Anak (SCA).

Salah satu indicator yang dibangun Ro’fah dalam SCA adalah inklusifitas yang telah disebutkan pada bagian atas. Inklusifitas berarti sekolah harus bisa menghargai dan menerima semua peserta didik dengan latar belakang sosial seperti apapun.

“Dan tentu saja bebas dari kekerasan, kemudian aman untuk anak. Indikator-indikator SCA ini kalau diterapkan pada sekolah-sekolah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah insyaAllah tidak akan melahirkan kasus-kasus seperti yang baru kita hadapi ini,” ujarnya.

Anak dengan disabilitas atau berkebutuhan khusus rentan menjadi korban dalam kekerasan atau bullying yang terjadi di sekolah. Faktor penyebabnya antara lain persepektif negatif masyarakat tentang anak disabilitas.

Selain itu sensitivitas guru dan seluruh pihak di sekolah untuk memahami bagaimana kebutuhan anak disabilitas ini membuat seringkali mereka tidak terlalu peduli.  Tidak memastikan bahwa anak dengan disabilitas seharusnya tetap mendapatkan akses belajar yang baik, dapat berinteraksi dengan baik di sekolah dan sebagainya.

Menyadari hal tersebut Ro’fah kembali menegaskan bahwa sekolah juga menjadi bagian penting dalam penanganan kasus kekerasan atau bullying yang terjadi di sekolah.

Konteks yang dimaksud Ro’fah adalah menggalakkan SCA sebagai bagian dari gerakan GACA perlu disosialisasikan dan diaplikasikan lebih sistemik dan struktural sehingga sekolah memahami isu tentang pentingnya perlindungan anak dan meminimalisir kekerasan yang terjadi di konteks sekolah atau di lingkungan sekolah.

“Apalagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang menjadikan amal usaha di bidang pendidikan ini sebagai media dakwah, tentu berperan sangat penting. Muhammadiyah – ‘Aisyiyah punya kesadaran untuk memastikan semua anak punya kesempatan mendapatkan pendidikan dengan menerima anak dari berbagai latar belakang tetapi juga harus memberikan pendidikan yang berkualitas,” tegas anggota Pusat Layanan Studi dan Difabel di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini.

Selain menanggapi dari sisi hukum, pemberdayaan dan advokasi, Ro’fah juga memberi perhatian pada media. Ia mengatakan bahwa media dalam konteks kasus yang terjadi di SMP Muhammadiyah Butuh menjadi kekuatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat atas kasus yang terjadi.

“Media tidak sepenuhnya buruk, karena kalau tidak ada media, kasus seperti ini tidak terungkap dan kita jadi paham betapa lemahnya perlindungan yang kita berikan kepada peserta didik di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dan seluruh pihak yang terkait, Muhammadiyah melalui Majelis Dikdasmen, ‘Aisyiyah melalui MHH dan pihak lainnya memikirkan secara serius solusi atas kasus yang terjadi agar tidak terjadi kembali di kemudian hari.

“Saya yakin seluruh pihak telah berusaha melakukan yang terbaik untuk menangani kasus ini. Semoga dengan kasus ini dapat terbangun kesadaran kita semua bahwa perlu adanya pembaharuan dan perbaikan di lingkungan sekolah, terutama sekolah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” ucapnya mengakhiri percakapan via telepon tersebut. (AAM)