Pancasila dan Catatan Kritis Muhammadiyah untuk Bangsa

23 Desember 2019 12:57 WIB | dibaca 300

 
Sampaikan catatan kritis akhir tahun, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyoroti isu-isu aktual dan juga peran Pancasila untuk kehidupan berbangsa dan bernegara pada Sabtu (21/12) di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.
 
Dihadapan awak media Haedar menekankan betapa perlu bersyukurnya bangsa Indonesia atas kekayaan bangsa dan keragaman budaya. “Masyarakat Indonesia dalam keragaman yang luar biasa tetapi bisa bersatu menjadi sebuah bangsa yang utuh, bangsa yang majemuk dengan keragaman kebudayaan ini luar biasa.”
 
Dalam konteks bangsa dan bernegara kita bersyukur diikat oleh pancasila sebagai konsensus nasional kita dalam berideologi negara. “Pancasila dengan lima silanya itu nilainya kaya sekali dan menjadi titik bijak kita  berbangsa bernegara.”
 
Menurut Haedar agama menjadi sumber nilai hidup way of life bagi setiap umat agama yang tentu luhur dengan nilai sakral yang sifatnya nilai-nilai ketuhanan yang juga menjelma menjadi nilai kemanusiaan, tapi Pancasila menjadi nilai ideologis yang mengikat kita bersama. “Pancasila nilai pondasi berbangsa dan sudah terkunci dalam komitmen nasional kita.”
 
Guru Besar bidang Sosiologi ini menyampaikan bahwa Muhammadiyah menyebut negara ini menjadi negara Pancasila. “Muhammadiyah sudah menetapkan Negara Pancasila sebagai Dar Al-‘Ahdi Wa Al-Syahadah, negara yang dasarnya Pancasila agar Pancasila selalu menjadi pondasi nilai berbangsa.” Ia menambahkan bahwa satu-satunya ormas yang mempunyai dokumen resmi yang menyegel Indonesia berdasar Pancasila dan tidak ada dasar yang lain itu Muhammadiyah.
 
Lebih lanjut Haedar menyampaikan bahwa Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa Indonesia masih menjadi kekuatan yang hidup di bangsa ini tetapi perlu dilakukan konstruksi semua nilai itu dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. “Perlu ada dialog terus menerus untuk dapat merekonstruksi semua nilai itu dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.”
 
Dalam konteks merekonstruksi nilai Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa Haedar menyampaikan beberapa catatan kritisnya. Pertama menurutnya saat ini isu radikalisme sudah menjadi isu yang sedemikian rupa. Haedar menyampaikan bahwa isu radikalisme ini jangan dilihat secara berlebihan akan tetapi harus dilihat dengan seksama. “Kita setuju radikalisme yang mengarah pada ekstrimisme dan membenarkan kekerasan atas nama apapun agama, politik, budaya, golongan itu harus menjadi agenda yang kita hadapi bersama semuanya dengan seksama.” Catatan kritis yang kedua disampaikan oleh Haedar bahwasanya kenyataan telah menunjukan ada dimensi-dimensi radikal dalam makna yang ekstrim dalam kehidupan kebangsan kita di luar dimensi keagamaan. Maka menurutnya diperlukan moderasi dalam kehidupan kebangsaan kita. Hal yang ketiga adalah dalam konteks merekonstruksi kehidupan kebangsaan maka perlu meninjau hal-hal dasar dalam kehidupan kebangsaan kita.
 
Haedar menegaskan bahwa memajukan Indonesia menjadi komitmen kolektif bersama. “Indonesia harus melangkah ke depan semakin maju tetapi kemajuannya harus seimbang, bangun fisik tetapi bangun jiwanya bangun karakter bangsa.“ (Suri)