Muhammadiyah-‘Aisyiyah Kembangkan Dakwah Berbasis Komunitas

11 Juli 2015 18:36 WIB | dibaca 872

Ketua Umum Pimpinan Pusat Áisyiyah, Noordjannah Djohantini dalam Media Gathering di Gedung PP Muhammadiyah,
Jum’at 10 Juli 2015 (Sumber : Arsip Pribadi)

 

Selain Jihad Konstitusi, dalam Muktamar ke 47 yang akan digelar Agustus mendatang, Muhammadiyah juga mewacanakan pengembangan model dakwah berbasis komunitas. Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah dalam media gathering yang dilaksanakan pada Jum’at (10/07) menyebut komunitas sebagai modal utama untuk mencapai Indonesia yan maju. “Kebijakan pemerintah seperti apapun tidak akan efektif jika masyarakatnya pasif,” ujar Haedar di hadapan puluhan wartawan.

Haedar menambahkan peting bagi Muhammadiyah untuk hadir melakukan pendampingan di komunitas. Muhammadiyah menurut Haedar akan hadir mendampingi masyarakat di berbagai lapisan agar tercipta masyarakat yang aktif menyambut kebijakan pemerintah.

“Termasuk masyarakat maya. Karena dunia maya itu sangat liberal sangat bebas. Mereka tidak terlihat tapi eksistensinya ada. Masyarakat mayapun harus memunculkan Indonesia yang berkemajuan yang berpikir ke depan,” tambah Haedar.

Sejalan dengan Muhammadiyah, Noordjannah Djohantini menyampaikan bahwa fokus ‘Aisyiyah dalam muktamar 47 adalah pemberdayaan di komunitas. Pemberdayaan dilakukan melalui penguatan pemimpin perempuan di komunitas. “Dakwah di komunitas fokus pada kesehatan, ekonomi, dan pendidikan,” kata Noordjannah.

Beberapa isu yang akan menjadi fokus adalah mendorong keterlibatan perempuan dalam implementasi Undang-Undang Desa, pencegahan kanker serviks melalui proses pendampingan di Balai Sakinah ‘Aisyiyah, penguatan ekonomi jelang penerapan Masyarakat Ekonomi Asean, dan penguatan kembali institusi keluarga, “ada proses pelemahan institusi keluarga. Salah satunya adalah sebagai dampak dari perubahan secara global,” tambah Noordjannah.

 

Perempuan Memiliki Peluang Jadi Pimpinan Muhammadiyah

Jelang Muktamar 47 yang akan berlangsung kurang dari satu bulan, Muhammadiyah sudah mengantongi 82 nama bakal calon pimpinan. Dari 82 nama, 2 di antaranya adalah perempuan. Dahlan Rais, Ketua Panitia Pemilihan menyebutkan masuknya calon pimpinan perempuan adalah bukti bahwa menjadi pimpinan Muhammadiyah tidak dibatasi jenis kelamin. “Selama memenuhi syarat yang disebutkan, laki-laki dan perempuan di Muhammadiyah punya kesempatan dicalonkan,” ujar Dahlan.

Menurut Noordjannah, di Muhammadiyah perempuan masuk dalam jajaran pimpinan bukan hal baru. Sebelumnya, nama Siti Baroroh Baried pernah tercatat sebagai pimpinan di Muhammadiyah. “Artinya, tidak menutup kemungkinan ke depan akan muncul lagi nama perempuan dalam jajaran pimpinan di Muhammadiyah,” kata Noordjannah.

Untuk bakal calon pimpinan ‘Aisyiyah periode 2015-2010 mendatang, panitia mengantongi 87 nama dari 101 yang sebelumnya dicalonkan. Nama-nama tersebut adalah mereka yang bersedia dicalonkan dalam sidang yang akan digelar dari tanggal 3-8 Agustus 2015 mendatang. “70 persen usia calon masih produktif. Produktif itu artinya usia 40 tahun kurang ya,” tandas Noordjannah.