MPK ‘Aisyiyah Mengkaji Isu Donor ASI Untuk Mendorong Fatwa

20 Mei 2013 09:16 WIB | dibaca 2068

 

Aisyiyah.or.id— Sabtu (18/5), Majelis Pembinaan Kader (MPK) PP ‘Aisyiyah mengadakan kajian fenomena donor ASI berikut penyimpanan dan pemberian ASI melalui bank ASI yang saat ini berkembang pesat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kajian yang diadakan di Fakultas Kedokteran ini ditujukan untuk menggali pengalaman para peserta dalam rangka mengumpulkan referensi untuk melahirkan fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah mengenai donor ASI dengan berbagai variannya.

Seperti yang disampaikan ketua MPK, Evi Sofia dalam sambutannya, fenomena donor ASI dengan sistem penyimpanan di Bank ASI kini berkembang pesat. Evi menambahkan, realitas tersebut menimbulkan berbagai konsekuensi masalah yang sangat kompleks, misalnya kejelasan identitas penerima, jaminan kehalalan ASI dan kualitasnya, kehalalan akad jual beli, penentuan sifat jual beli dalam hal jasa penyusuan atau barangnya (ASI), penegasan kembali pengertian menyusu, apakah menyusu dari ibu secara langsung atau sekedar air susunya, relasi antara ibu yang menyusu dengan anak yang diberi ASI donor baik secara hukum, psikologis, maupun sosiologis. Berdasar latar belakang tersebut, kajian sangat penting dalam mengatur sistem donor dalam bentuk fatwa.

Menurut Ekawaty, salah satu narasumber dari kalangan medis menyatakan, sistem donor ASI tidak bisa dilakukan sembarangan dan sudah diatur dalam undang-undang no 33 tahun 2012 yang menjamin keamanan, kebersihan, penyimpanan, cara pemberian, dan memerah ASI. Ekawaty menambahkan setiap pendonor wajib melewati beberapa tahapan sebelum mendonorkan ASI miliknya dengan dua kali sistem skrining. Skrining lisan dan medis dalam bentuk pemeriksaan lengkap untuk memastikan kondisi ASI. “Pernah ada seorang perempuan yang anaknya meninggal, kemudian dia mau menyumbangkan ASInya. Kami tetap menyambut baik, tapi tidak kami salurkan karna kondisi ASInya tidak sehat” ujar Ekawaty mencontohkan salah satu kasus yang pernah ditanganinya.

Tidak jauh berbeda dengan Ekawaty, Ruslan Fariadi dari Majelis Tarjih Muhammadiyah menyampaikan donor ASI tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada beberapa kategori penerima Donor ASI diantaranya adalah Bayi yang ibunya meninggal, bayi yang lahir dengan kelainan pencernaan, bayi dengan ibu penderita kanker payudara, dan ibu yang terjangkit HIV. Keberadaan donor ASI menurut Rusaln masuk dalam koridor mu’amalah yang hukum dasaranya mubah (boleh). Kendati demikian, Ruslan tetap menegaskan harus adanya kejelasan akad dalam sistem donor ASI untuk menjamin ASI yang didonorkan terbebas dari penyakit yang membahayakan bagi bayi seperti adanya kandungan najis dan kandungan lainnya yang berkaitan dengan syari’at Islam. [Mida Mardhiyyah]