Moderasi Indonesia, Jalan Alternatif Hadapi Radikalisasi

12 Desember 2019 16:38 WIB | dibaca 411

Bantul -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si pada hari ini (12/12) dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Sosiologi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI nomor 35528/M/KP/2019.

SK diserahkan langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ir. Gunawan Budianto di Sportorium, UMY, Jalan Brawijaya, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Dilanjutkan dengan Rapat Senat Terbuka dengan agenda tunggal Pidato Pengukuhan Guru Besar, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si dengan tema “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi.”

Moderasi, kata Haedar, meniscayakan membahas tentang radikalisme, ekstremisme sebagai posisi biner. Dikatakannya kembali, radikalisme pada awalnya netral akan tetapi secara sosiologis tidak ada yang netral. “Ketika radikal itu dikonstruksi menjadi alam pikiran perseorangan, dalam sosiologi ilmu pengetahuan atau alam pikiran publik menjadi alam pikiran bersama tergantung pada siapa yang mengadopsi konsep itu, untuk apa, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Haedar menambahkan, apa yang difahami seseorang atau sekelompok orang yang merujuk pada tiap-tiap prinsip dan yang tidak menghargai prinsip orang lain adalah awal mula radikal menjadi radikalisme. “Pemahaman dan konstruk radikalisme perlu kita himbau dan reorientasi,” katanya.

Sebagai negara bhinneka tunggal ika, menurut Haedar, Indonesia memiliki peran dalam membentuk masyarakat Indonesia yang dapat berbaur dan menyatu satu sama lain serta memiliki sifat moderat. Sifat moderat inilah yang perlu menjadi kekuatan kita untuk merancang Indonesia dan keindonesiaan moderat dengan cara yang moderat.

Persoalan radikalisme yang telah hinggap dalam berbagai sisi kehidupan bangsa Indonesia harus dapat diselesaikan. Moderasi adalah jalan alternatif yang ditawarkan Haedar dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar-nya. “Indonesia harus mampu menyelesaikan masalah radikalisme ini dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya dan keagamaan agar berjalan sesuai landasan, jiwa, pikiran dan cita-cita bangsa. Jalan moderasi niscaya dipilih sebagai alternatif dari deradikalisasi untuk menghadapi segala bentuk radikalisme,” tegas Haedar.

“Mari kita akhiri deradikalisasi dan kita ganti dengan moderasi,” ajaknya kemudian. Di akhir, Haedar menutup pidato dengan menyampaikan bahwa saatnya memoderasi Indonesia dari segala jenis keadaan, pandangan, cara pandang, dan tindakan yang mengarah pada ekstremisme, terorisme dan segala bentuk kerusakan di muka bumi.

Di hadapan para tamu undangan, di antaranya H. Jusuf Kalla, jajaran pimpinan PP Muhammadiyah, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini dan jajarannya, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, serta jajaran para menteri RI, Haedar menyamapaikan rasa terimakasihnya yang mendalam. (AAM)